Waktu luangmu habis kau sempat sematkan; selalu saja untuk Aku. Trimakasih
Waktu yang kita habiskan setiap hari setiap jam habis kita lalui hampir 365hari suka duka bersama mu. Rayuanmu yg jarang aku dengar; tak mengapa. Aku pun jua sdkit tak menginginkannya. Tetap menjadi kamunya aku saja itu sudah membahagiakan relung paling dalam.
Beruntungnya aku adalah; kesesuaianmu ketahanan benteng yg kau ciptakan untuk aku luar biasa. Kau yang jarang berkeluh kesah perihal jarak pun kerinduan semuanya kau tepis kau hanya meringis itu memang sadis tapi kau tak terguris.
Tetiap aku melihatmu jrang aku lihat raut kecemasan. Boleh dikata apa ini? Kau peduli dengan sangat, kau acuh dengan hebat. Kecemasanmu kau sirnakan dari pandangku nan jauh. Hanya sekali saat detak dalam detik seketika siluet Api membakar roma dalam tubuhmu. Matamu berbinar semburat cahaya cemas nalar beradu dengan nurani rasa keegoisan dari masing - masing diri pelik dan aku tercekik; melihatnya. Sekali dalam 365hari. Sekali lagi aku tercekik
Kehebatan dirimu, aku hampir tak bisa menyerupainya sedikit saja. Kita seperti telapak tangan. Lihat saja perbedaannya.
Tapi pandanganku tak pernah kabur. Tentangmu semua bercokol dikepala.









