"Dok, inget pasien ini ga?" -Merupakan kalimat yang paling bisa bikin dokter keringat dingin
seen from United States

seen from China

seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Russia
seen from China
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Algeria

seen from Australia

seen from Germany

seen from United States
seen from China
seen from Italy
"Dok, inget pasien ini ga?" -Merupakan kalimat yang paling bisa bikin dokter keringat dingin
Day 2: Power Nap
Ternyata sulit juga untuk konsisten menulis setiap hari..adaaa saja kendalanya. Sebenarnya draft untuk tulisan ini sudah ada di otakku dari kemarin, tetapi belum sempat tertuang ke dalam tulisan karena 1 dan lain hal terkait pekerjaanku. Karena hari ini sudah memasuki hari ke-3, maka aku akan mem-posting 2 tulisan untuk memenuhi komitmenku dalam #30haribercerita.
Baiklah..jadi aku bekerja di 2 RS yang berbeda, akan tetapi keduanya searah dari rumahku. Di pagi hari aku akan berangkat ke RS yang pertama (sebutlah RS A), di sini aku bekerja sebagai part timer (tidak setiap hari dan hanya beberapa jam saja). Lalu siangnya sampai dengan malam hari, aku akan melanjutkan ke RS ke-2 (sebutlah RS B). Di RS B ini aku bekerja sebagai full timer dari hari Senin sampai Sabtu. Jarak dari RS A ke RS B pun hanya 30 menit saja, alhamdulillah.
Terkadang karena lalu lintas yang lancar, aku sampai di RS B terlalu cepat dari jadwal masuk kerjaku. Aku biasanya memanfaatkan waktu luang ini untuk tidur di mobil. Aku akan memasang alarm di handphone-ku antara 10 sampai 20 menit tergantung sisa waktu luangku tersebut. Pernah membaca artikel yang menyatakan bahwa power nap memberikan dampak positif pada tubuh kita (baca di sini)? Jujur aku merasa setiap bangun dari tidur siang singkat di mobil ini, aku merasa energiku pulih kembali. Jadi lebih segar dibandingkan jika aku langsung masuk kerja sehabis dari RS A.
Pernah ada kejadian lucu (?) saat aku sedang melakukan power nap. Biasanya kalau punya waktu untuk power nap, aku akan parkir di parkiran biasa supaya lebih leluasa. Tidak perlu khawatir kepergok oleh sejawat dokter lain yang parkir di basement (di RS B tersedia parkir khusus dokter di basement). Kebetulan saat itu sedang hujan jadi aku memilih parkir di basement supaya tidak repot buka-buka payung. Belum ada 5 menit aku memejamkan mata, tiba-tiba jendela mobilku diketuk oleh satpam.
"Ya, Pak?" Aku membuka jendela mobilku.
"Dokter sedang kurang sehat?"
"Oh enggak, Pak..saya cuma ngantuk aja."
"Oh syukur kalo gitu..anu punteun soalnya di basement gak boleh nyalain mesin mobil lama-lama, dok. Takutnya akumulasi karbon monoksida. Itu ada pengumumannya ditempel. Kalau masih ngantuk mangga dilanjut tidurnya di ruangan aja, dok. Punteun." Ujar satpam tersebut sambil menunjuk ke arah pengumuman yang dimaksud.
"Oh iya, Pak. Maaf ya. Terima kasih." Aku merasakan telinga dan pipiku memanas. Malu. Segera kutegakkan senderan kursiku, kututup jendelaku, lalu kumatikan AC dan mesin mobilku. Buru-buru aku keluar mobil menuju ke arah lift, tidak berani menatap wajah pak satpam tersebut. Badanku langsung segar, bukan karena power nap, tapi karena adrenalin. Pak satpam tersebut tidak salah, dia menjalankan tugasnya dengan baik. Aku yang salah pilih lokasi. Tips dariku untuk yang mau power nap di tempat kerja atau tempat umum: pilih lokasi yang nyaman dan "aman".
Day 1: Emosi
Akhirnya aku memutuskan untuk meramaikan #30haribercerita, walaupun kita sudah berada di hari ke-17 di bulan Januari. Tidak apa-apa, toh dalam hashtag-nya tidak dituliskan "30 hari bercerita di bulan Januari saja". Anggap saja ini sebagai pengikatku untuk berkomitmen membuat 30 tulisan.
Di hari pertama bercerita ini, aku memutuskan untuk menceritakan tentang emosiku yang sempat meluap. Hari ini adalah hari ke-6 menstruasiku. Biasanya menjelang berakhirnya menstruasi, emosiku sudah stabil. Lebih chill. Tapi kali ini berbeda...
Telepon di laboratorium berdering lama tetapi tak kunjung diangkat oleh analisku. Aku yang mulai terganggu mendengar bunyinya memutuskan untuk mengangkatnya sendiri. Mungkin analisku sedang sibuk mengerjakan sampel jadi tidak sempat mengangkatnya, pikirku.
"Halo dengan laboratorium, ada yang bisa dibantu?"
"Eh balikin semua tubing IGD dong! Mau ngirim sampel nih!" Jawab si penelpon tanpa basa-basi dengan intonasi yang tidak ramah. Suara pria. Sepertinya perawat.
"Di sini gak ada tubing punya IGD, mas." Aku berusaha menjawab setenang mungkin, walaupun pada saat itu emosiku sudah mulai tersulut.
"Ga mungkin! Orang tadi gue ngirim sampel banyak kok ke sana! Tubingnya belom pada dibalikin dari tadi! Balikin! Gak bisa ngirim sampel nih!"
Please chill, Ran. Chill. Mungkin orang ini emang gaya bicaranya nyolot. Mungkin dia emang suka ngegas.
"SAYA UDAH BILANG GA ADA YA DI SINI!" Oops. Emosiku menang. Si penelpon tersebut masih mencoba menyanggah sepertinya, tapi aku sudah tidak mendengarkan lagi. Aku kesal setengah mati dibentak orang yang tidak kukenal. Kuletakkan gagang telepon di atas meja. Masih tersambung. Biar dia mengoceh sendirian. Aku hendak kembali ke ruanganku menenangkan emosiku, tiba-tiba analisku tergopoh dari ruang mikro, "Kenapa, dok?".
Mungkin dia kaget mendengarku berteriak, yang mana tidak pernah aku lakukan sebelumnya.
"IGD minta dibalikin tubing..orang gak ada di kita." Jawabku sambil mengedikkan kepala ke arah gagang telepon di atas meja. Analisku lalu buru-buru menjawab si penelpon dengan pernyataan yang kurang lebih sama karena memang begitulah adanya. TIDAK ADA TUBING MILIK IGD DI LAB! Iiiish..aku jadi emosi lagi. LOL.
Moral of the story..tolonglah jika berbicara dijaga sopan santunnya, terutama saat berbicara di telepon karena kita tidak bisa melihat ekspresi lawan bicara kita. Minimal dijaga intonasinya agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Kali ini aku tidak akan menyalahkan hormon..karena tidak ada yang suka diteriaki orang lain kan? KAN?!
My Activities on Daily Basis (1): Monday
Pada tulisanku kali ini, aku hanya ingin mendokumentasikan keseharianku. Tidak ada yang istimewa, hanya dokumentasi pribadi saja untuk kubaca ulang kelak. Sekaligus sebagai media introspeksi diri.
05.00-06.30 WIB
Bangun. Sebenarnya alarm yang kusetel di HP adalah pukul 04.00, niatnya mau tahajud dulu dan agar lebih santai menyiapkan segala sesuatunya, tidak terburu-buru. Namun, entah kenapa selalu saja otomatis alarm tersebut kumatikan saat berbunyi dan aku kembali tertidur sampai pukul 05.00 (seringnya pukul 06.00 malah..parah!). Terkadang jika sedang berhalangan, bahkan aku bisa bangun pukul 06.30. Padahal dulu saat kuliah S1 dan PPDS, pukul 03.00 aku sudah bangun. Entah apa karena dulu tertekan harus belajar atau mengerjakan tugas sehingga alam bawah sadarku mengatur diriku untuk selalu awas sehingga tidurku tidak nyenyak..atau karena dulu banyak hal yang menggangguku sehingga aku sering terbangun di sepertiga malam dan mengadu pada penciptaku. Sungguh malu rasanya, kini ketika segala beban itu sudah Beliau angkat dari pundakku, aku malah lebih memilih asik dengan mimpiku dibanding menyapaNya.
Hal yang kulakukan pertama kali saat membuka mataku adalah mengecek HP: melihat jam sudah menunjukkan pukul berapa dan mensortir pesan yang masuk ke aplikasi WA. Pesan yang penting akan langsung kubalas, yang tidak terlalu penting biasanya baru kubalas saat senggang nanti. Setelah itu aku tidak langsung bangun dari tempat tidurku, aku malah membuka halaman IG dan menghabiskan beberapa menit untuk menggulir layarku. Kebiasaan burukku setelah mengenal media sosial. Sungguh tidak bermanfaat. Setelah disadarkan oleh rasa bersalah karena membuang beberapa menit yang berharga, aku segera menuju ke kamar mandi untuk wudhu lalu shalat subuh. Jika suamiku belum shalat subuh, biasanya kami akan shalat berjamaah, kalau suamiku sudah duluan, aku shalat sendirian.
06.30-07.30 WIB
Menyiapkan sarapan. Suamiku adalah pria yang mandiri, terkadang ia sudah bangun duluan dan membuat kopi untuk dirinya sendiri. Kadang ia juga membuatkanku teh hangat. Namun, jika ia masih asik membaca berita di tempat tidur, aku yang akan membuatkan kopi untuknya. Suamiku suka kopi hitam dengan sedikit gula. Simple. Terkadang ia ingin kopinya disaring, tetapi lebih seringnya diseduh begitu saja bersama ampasnya (baca: kopi tubruk). Untuk sarapan, kami berdua sama-sama tidak suka yang terlalu berat. Menu kami bervariasi antara toast dengan selai, sandwich, oatmeal dengan beragam topping, salad sayuran dengan rebusan ayam, pecel sayur, nasi goreng, atau nasi putih dengan telur mata sapi/telur dadar. Kalau ada sisa lauk semalam, kami juga biasa sarapan dengan sisa lauk tersebut. Kadang aku pun sarapan dengan sereal + susu, tapi suamiku tidak suka. Jadi sereal adalah menu sarapan khusus untukku. Oh ya..jika ada hari spesial, seperti hari pernikahan kami atau ulang tahun salah satu dari kami, biasanya aku menyiapkan menu sarapan spesial juga: steak, pasta, or even a cake! Aku pernah membuat strawberry shortcake di hari jadi pernikahan kami yang ketiga..not bad. LOL.
07.30-12.00 WIB
Di hari Senin, kami jarang sarapan bersama. Biasanya pukul 07.30-08.00, aku masih sibuk mencuci piring, membersihkan dapur, atau menyiapkan bekal untuk suamiku..sementara suamiku mandi dan sarapan. Namun, jika cucian piringku tidak banyak dan dapurku masih nampak bersih, kami akan sarapan bersama di meja makan. Suamiku berangkat kerja pukul 08.00 atau 09.00 jika sedang masuk agak siang. Terkadang sebelum berangkat kerja, suamiku membantuku membuang sampah, memberi makan kucing-kucingku, dan membersihkan litter box mereka. Kadang di pagi hari sebelum suamiku mandi dan sarapan, ia pun rela menyikat keset, karpet, dan bahkan mencuci baju! Nantinya aku tinggal menjemurnya saja. Bahkan suamiku juga pernah membantu mencuci piring-piring kotor di dapur sisa semalam. Kami tidak pernah benar-benar membagi tugas rumah, kami berdua mengerjakan apa pun yang kami bisa lakukan dan saling membantu saja. Aku sangat bersyukur memiliki suami yang mau membantu pekerjaan rumah tangga dengan ikhlas tanpa diminta.
Setelah suamiku berangkat, biasanya aku akan sarapan, jika belum. Lalu aku akan memberi makan kucing-kucing dan membersihkan litter box mereka. Setelah itu, aku akan membereskan tempat tidur kami, merapikan sprei dan bed cover, membuka gorden, mematikan lampu kamar, dan AC kamar. Kemudian aku akan mengelap meja-meja dan memvakum seluruh rumah. Dulu saat aku masih menggunakan sapu dan pengki, aktivitas ini akan sangat memakan waktu karena debu yang sudah disapu seringkali masih beterbangan sehingga harus disapu beberapa kali. Aku adalah orang yang perfeksionis, sehingga melihat sehelai rambut yang masih tertinggal pun aku kesal. Setelah membeli vakum (next time aku akan membahas lebih detail tentang ini), waktu yang kubutuhkan menjadi lebih singkat. Semua debu, rambut, dan bulu-bulu kucing tersedot dengan sempurna tanpa sisa. Setelah itu akan mengepel seluruh rumah DUA kali. Yap, 1 kali dengan kain pel “kotor” dan 1 kali lagi dengan kain pel bersih. Saat mengepel dengan kain pel “kotor”, aku menggunakan cairan pembersih lantai yang mengandung disinfektan dan biasanya aromanya kurang enak. Saat mengepel dengan kain pel bersih, baru aku menggunakan cairan pembersih lantai yang aromanya harum.
Aktivitas beres-beres rumah ini biasanya baru selesai pukul 11.00 dan cukup melelahkan jadi biasanya aku rebahan dulu sambil minum teh, ngemil, dan membuka media sosial lagi. Terkadang aku bahkan ketiduran sampai pukul 12.00! LOL. Jika aku tidak ketiduran, masih mood beres-beres dan masih bertenaga, aku akan melanjutkan dengan aktivitas menyetrika hingga pukul 12.00.
12.00-15.00 WIB
Bersiap-siap kerja. Aku akan mandi, mengenakan pakaian kerja, shalat dzuhur, dan menyiapkan makan siang untuk diriku sendiri. Kadang kalau sedang malas masak (lebih seringnya malas sih..), aku akan pesan GoF*od, bikin telur mata sapi/dadar (again), bikin mie, atau skip makan siang. Tidak heran kalau berat badanku tidak naik-naik. Makan siangnya sesuka hatiku. Kalau sedang rajin masak, ya aku akan masak lauk yang bisa untuk makan malam suamiku juga saat pulang nanti. Jadi suamiku tinggal menghangatkan kembali saja. Menu yang kumasak biasanya seputar sayur lodeh, sayur asem, sayur bayam, sop, tumis buncis, cah kangkung, tumis daun singkong, atau ikan dori tepung sambal matah. Kadang aku juga suka mencoba resep-resep yang ada di yout*be atau pun IG. Suamiku juga pernah membelikanku buku yang berisi resep-resep masakan nusantara. Hanya saja mood memasak ini datangnya tak menentu. Terkadang malah saat sedang mood, isi kulkas tidak mendukung. LOL. Pukul 14.00 paling lambat aku harus sudah berangkat dari rumah karena untuk menuju ke lokasi tempat kerjaku memakan waktu kurang lebih 1 jam.
15.00-20.00 WIB
Kerja. Tidak ada yang menarik. Tugasku hanya memastikan sampel yang dikerjakan sesuai dengan kaidah pre-analitik dan hasil laboratorium yang dikeluarkan valid. Hasil yang kubaca secara manual adalah spesimen morfologi darah tepi, analisis cairan tubuh, sedimen urin/feses, pewarnaan Gram/BTA/KOH, dan IGRA. Di tempat kerjaku, aku mendapatkan 1 kali makan yang biasanya diantarkan pukul 16.00. Isinya nasi lengkap dengan lauk, buah, dan air mineral. Sayangnya menunya tidak variatif dan cenderung berulang. Karena tidak ada kantin, terkadang jika aku sedang bosan dengan menu tersebut, aku akan pesan GoF*od. Pukul 20.00, jika tidak ada yang harus kubaca manual, aku akan pulang dan sisanya bila ada hasil yang abnormal akan dilaporkan oleh analisku via telpon/WA.
20.00-22.00 WIB
Pulang. Kadang aku tidak langsung pulang. Kebetulan, tempat kerjaku terletak persis di sebelah mall yang cukup besar. Jika ada keperluan rumah yang perlu aku beli, aku akan mampir dulu ke sana. Namun, jika tidak ada keperluan apa pun, aku akan langsung pulang ke rumah. Paling cepat aku sampai di rumah pukul 21.00 jika aku pulang tepat waktu dan jalanan tidak macet, tetapi seringkali aku sampai di rumah pukul 21.30.
22-24.00 WIB
Sesampainya di rumah, aku akan menanyakan apakah suamiku sudah makan malam. Jika belum, aku akan membuatkan makan malam untuknya. Jika masih lapar, aku akan ikut makan malam bersama suamiku. Jika tidak, aku akan mandi, berganti pakaian dengan pakaian tidur yang nyaman, mengenakan skin care-ku, shalat isya, dan tidur. Kalau belum mengantuk biasanya aku dan suamiku akan mengobrol apa pun atau menonton serial bersama sampai akhirnya salah satu dari kami tertidur.
Happy feedback 💓 . . . . . . . . . . . #SARAPASHA #areekahaq #sppk (at Taxila) https://www.instagram.com/p/CEUQy0Wprti/?igshid=9itxvpmzgbda
Pic 1: Actual post. A girl posted a video showing her father kissing her before departing with her daughter. Pic 2: This guy wanted to get cheap fame and attention or maybe start a propoganda so he changed the caption to "moulvi saab ye kiya baat hui" and turned into hate post against moulvi. And the jahil awaam who dont know it started sharing and bashing moulvis without having any proof or research. Those who knew defended it (awesome❤️). Its shocking that how people try to find negativity in our society just for cheap fame. This is the perfect example of how easy anyone can change the meaning of the post and turn it into hate. I hope kai ap logo ko ye fake propoganda game samjh agai hogi. Always research before sharing. #spnews #sppk #iub #iubians #islamabad #islamabadians #islamabadphotographer #islamabadphotographers #islamabadgram #islamabadweddings #islamabaddiaries #islamabadfashion #islamabadstreetstyle #islamabadblogger #islamabadfoodies #memory #shadi #marriages #couple #longlong #lovelife #longlived #superbb #amazingmoment #centaurus #shoppingchallenge #quboolhai (at Islamabad, Pakistan) https://www.instagram.com/p/CEEhaTqhTD1/?igshid=zq92lvdhb5lk
#v4 #nak #krir #sppk #akcr (helyszín: Czerwienne) https://www.instagram.com/p/Bqe4u5VAD1J/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1lryk41mepmn9
"Ojalá algún día coincidamos en otras vidas, ya no tan tercos, ya no tan jóvenes, ya no tan ciegos ni testarudos, ya sin razones sino pasiones, ya sin orgullo ni pretensiones, ojalá. Y es que tenemos la mala costumbre de querer a medias, de no mostrar lo que sentimos a los que están cerca, tenemos la mala costumbre de echar en falta lo que amamos, solo cuando lo perdemos es cuando añoramos. Tenemos la mala costumbre de perder el tiempo, buscando tantas metas falsas, tantos falsos sueños. Tenemos la mala costumbre de no apreciar lo que de verdad importa, y solo entonces te das cuenta de lo que de verdad importa." — Charles Bukowski (9 de marzo, aniversario luctuoso).