Ade. Waria yang paling cute yang saya temui. Suaranya khas: kecil, serak-serak nyaring, sedikit melengking, agak tinggi, tapi patah-patah, seperti agak tercekik di tenggorokan. Ade lah yang pertama kali bertanya pada saya di malam-malam awal dia nyebong, "De, akika mawar itu artinya apa?" (dia memanggil saya "De). Pertanyaan itu menyadarkan saya bahwa bahasa waria itu memang harus dipelajari dengan cara masuk dunia itu. Kendati kami sering melewatkan waktu bersama, namun masa-masa bersama Ade tak cukup panjang. Namun saya jadi paham, bagaimana sebuah proses "menjadi waria ngebong" itu terjadi. Dari Ade bocah gemulai yang tak pernah secara khusus berdandan, tak paham bagaimana menghadapi lelaki di dunia malam, dan bahkan tak paham kata-kata yang digunakan di dunia malam, menjadi Ade yang lebih paham bagaimana cara berdandan ala waria, membawakan diri dan bertransaksi di dunia malam. . . Tapi tak selesai sampai di situ. Ade yang masih menyimpan banyak kepolosan itu beberapa tahun kemudian tiba-tiba hilang, tak tahu rimbanya setelah terakhir terlihat mangkal di area Prambanan. Bahkan motornya pun masih terparkir, sejak malam terakhir dia terlihat dibawa oleh lelaki yang menjadi tamunya. . . Waria, Bahasa dan Dunia Malam adalah buku yang dipersembahkan untuk mereka, para waria yang telah tiada, maupun yang masih melakukan perjalanan di dunia ini bersama kita semua. Stanislaus Yangni, Waria, Bahasa dan Dunia Malam, Yogyakarta, @bukubaikproduk, 2021, xiv+152 hlm, 85.000 #stanislausyangni #wariabahasadanduniamalam #waria #duniamalam #bukubaik (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CmJQI5Wpbfg/?igshid=NGJjMDIxMWI=













