1 - Stasiun Bandung
Bagiku, menaiki kereta api itu menarik untuk melihat tingkah paripolah manusia. Sebagaimana acaknya asal-muasal datangnya, segalanya bertemu di satu stasiun yang akan membawa semua pada satu tujuan.
Ratusan kepala, sedang menanti-melongok-gelisah-terdiam-terpekur-bahkan hingga berpura tak peduli akan memiliki yang tujuan yang sama. Entah itu definisinya pergi atau pulang, segalanya akan selaras satu jalan.
Percayakah, bahwa semua orang tadi akan tanpa sadar memercayai 'mitos' dimana segala kesan aneh muncul ketika berada di kereta api. Karena mungkin kau bisa rasa sendiri, ratusan kepala yang tadinya entah siapa dan darimana, sama-sama percaya bahwa segalanya akan bertumpu pada beberapa gerbong kereta, yang tiap-tiap kolasenya memiliki cerita.
Entah, takdirnya hari itu kau duduk dengan siapa, bertemu pandang dengan siapa, lalu menyapa kikuk untuk nantinya menahan degup yang entah dibahasakan apa. Segalanya sempit, sekaligus jelas. Sebab, semua orang percaya dan memiliki kesan yang sama! Beruntunglah kalau sekiranya di sebelahmu ada sosok lawan jenis yang tetiba menjadi teman jalanmu dari pergi hingga sampai. Bagaimana caramu mengendalikan dirimu? Ah.
Hei, sebenarnya aku cuma melimpahkan buih di kepalaku saja. Sebab ya, disebelahku ini ada seorang perempuan berjilbab hitam berbaju marun semampai. Aku tahu, aku hampir gila sebab kesan ini mungkin letupan sementara saja. Kurekam dalam kepalaku bagaimana kikuknya bertatapan mata untuk saling tanya nomer kursi ini berapa, sekaligus berimpitan menakar tempat bagasi tepat di atas kepala. Kau tahu setelahnya, aku dikuasai degup yang aneh sebab ada perempuan yang semestinya tak kukenal tetapi memiliki tujuan yang sama denganku. Voila!
Eh, mana mungkin kutanya tujuannya kemana, kan? Bodoh betul. Sudah tahu tertulis di manifes tiket kereta, bernamakan kereta apa, dan gerbong nomor berapa. Tapi, bukan itu yang kutanyakan... Sebab kesan aneh yang inginnya mendorongku untuk melimpaskan adrenalin lelakiku, yang cuma ingin sekadar menyapa. Aku tahu, diapun memainkan perannya ; duduk diam, sesekali mengetik sesuatu di telepon genggam sembari menatap keluar kereta. Aku tahu, ini memang giliranku. Matanya tak bohong, seakan-akan bilang "ayo, kau lelaki kan ? Sapa aku!"
Hahaha. Sekali lagi kubilang, aku hanya ingin melimpaskan isi kepalaku saja. Mana berani aku menyapa, kecuali decit-decit rel sialan itulah yang barangkali membuat tubuhku dan tubuhnya itu sempat berdempetan tak sengaja sehingga mau tak mau saling senyum tanpa bahasa. Mungkin, setelahnya itu yang akan jadi katalis sempurna. Bagianku, ya bagianku, karena aku terlahir tak sengaja sebagai lelaki. Aku yang harus mulai, kan?
Menuju Gambir, 28 Mei












