Jangan bangunkan, sebelum ayah mengetuk
Tok.. Tok.. Tok..
"Bunda, kain putih murahan yang kemarin aku beli dimana bun?"
"Oh itu, Dipakai bapakmu tidur, katanya kecapekan. Dia bilang sudah bosan dengan selimut uang, capek bernafas dengan uang orang"
"Sudah sana jangan ganggu ayahmu, takut terbangun!"
Anak berhenti mengetuk kemudian terdiam, berlari menuju kuncen setempat.
----------------
Tok.. Tok.. Tok..
"Bunda, cangkul aku mana bun? aku ingin membuat sumur resapan pengampunan untuk bapak"
"Oh sedang dipinjam bapakmu untuk mengubur uangnya agar abadi dan tidak hilang jika dia sudah bangun lalu bercakap dengan ayah kuasa"
"Ayo sudah sana pergi bermain, bunda takut ayah menguburmu juga."
Anak tersedat kembali, Berlari menuju sunyi senyap penuh duka.
----------------
Tok.. Tok.. Tok..
"Bunda, Bunga yang aku beli untuk kutaburkan di pemakaman dimana bu? Diambil ayah juga kah?"
"Oh itu, iya bapak bilang tak usah repot repot, sudah bapak bawa sendiri. Dia bilang agar tidak sepi dan lebih berwarna saat tidur."
"Yasudah bun kalau bapak sudah mengerti, aku main dulu"
"Hati-hati nak, lihat teman-temanmu. Jauhkan mereka jika ada yang seperti bapak."
Anak tidak lagi mengetuk, Asik bermain.
----------------
Tok..Tok..Tok..
"Apa nak?"
"Maaf ibu, ini ayah yang mengetuk, membawa batu nisan dengan ukiran yang indah, syarat untuk menyucikan bapak yang tertidur lelap."
"Oh ayah, mohon maaf. Tunggu ya sedang saya coba bangunkan."
-----------------
"Pak, bangun.. Pak bangun.. ada ayah kuasa, coba berbincang padanya, tebus dosa-dosamu sebagai perebut hak sesamamu."
Bapak yang telanjang berlumuran merah panas, bangun perlahan. Cemas.
"Sudah saatnya yah bun, bapak berbincang dengan ayah kuasa, tentang apa yang terjadi dengan mereka yang hilang kurenggut, walau mereka tak merasa hilang."
Bunda tersenyum, membuka pintu. Bapak membalas senyum.













