Kristalis, Tuan Non-arah.
Pelana antara rumah tertembak jarak
Mendapati pinggiran rempah berserak
Kabut tadinya berdiam mengipas panas dahaga yang mencekik
Bisa-bisa nya suar disana teriak memekik
Dia sandari tempat yang sama, telisik
Lusinan arogansi tanpa henti kukuh ajek berputar, berpaling, merasa ringkuh
Halusinasi pekara improvisasi
Mengejar ketidakberhagaan yang diagungkan
Genggam koin dengan gusar
Yakinlah bukan ini yang dicari
Cermin lebih gundah adaptasi
Sulit, hujaman ceriwis setiap kelopak menyalak
Pangkas semua multi-identitas
Primer menunjuk diri sebagai pewaris kodrat gratis tanpa undi
Alfa-pimpinan tuntut sisi dibalik topeng serigala
Bukan itu yang dimaksud, sayang
Terikat dalam serabut tak lepas
Swasembada membangun kristal substantif, bersama abadi, hanya itu. Ya, hanya itu
Intervensi hanya sebatas raungan tak guna
Versi mu dan versiku terbatas nilai ayat berbeda
Fundamentalis dengan bangganya saling mengadu nasib
Awalnya bertahta; segenap rayakan semua rencana!
Hyang bertingkah, kau hanya kerucut dalam tempurung
Kita tak bisa pegang kendali arus yang mengalir, sayang
Kitalah yang atur gerak diri kemana itu membawa
Kita pemula dalam diskursus bani
Merana ditertawai jaring-jaring pelumat fardu
Mungkin hanya aku, makan seluruh benguk, kau tak perlu
Keras tak berkepala, biar aku yang seringai, pengadilan timpang
Kelak, kita serempak bersama nuansa
Mengamini, berkasih, membelai masa depan melambai, memaki, mengiba
Berkat kerahiman pertemuan diduga, entah untung atau tidak
Jelas, aku mengabdi atas setiap rangkaian konsekuensi terpilih
Pegang ini sebagai asuransi terhindar dari pahit sekujur tubuh
Ingatlah selalu, aura lidah sebagai bingkai penghias oasis masa depanmu.