Bismillahirrahmanirrahim...
Adzan shubuh membangunkan kami.Aku tidak bisa tidur nyenyak padahal suamiku sudah memintaku tidur di awal waktu supaya fresh menjelang operasi. Selesai bersih - bersih aku menunaikan sholat shubuh terakhirku dalam kondisi hamil anak pertama, sholat yang dipenuhi butiran air mata yang mengalir perlahan dan do'a penuh kesungguhan. Pukul 05.00 aku dan suami menuju ruang bersalin, sepanjang koridor rumah sakit kami bercanda, ya beliau ingin membuatku relaks.
Sesampainya di ruang bersalin, aku diminta mengganti baju dengan baju operasi
lengkap dengan jilbab operasinya *keren*. Kemudian pemasangan jarum infus dilakukan for the first time in my life. Aku melihat jarum itu dengan agak ngeri seraya berkata kepada bidan,
"engga kok mba, kaya' digigit semut."
Dan ternyata benar, memang tidak sakit. Kemudian bidan memberikan suntikan uji coba antibiotik di lengan bawah, katanya sakit jadi aku harus bersiap - siap. Dan ternyata biasa saja, tidak terlalu sakit. Bidan bilang toleransiku terhadap rasa sakit tinggi dan suamiku berkata sambil tertawa,
"tuh kan, ada manfaatnya dicubitin mulu jadi ga gampang sakit."
Aku manyun, mengingat "penganiayaan" yang sering ia lakukan karena gemas kepadaku.
Setelah selesai, aku diantar ke ruang operasi menggunakan kursi roda, kemudian aku bertanya kepada bidan,
"harus begini mba? emang ga bisa jalan sendiri ajah?kan ga sakit."
Bidan tertawa kemudian berkata bahwa ini prosedur jadi harus diikuti. Kemudian aku melihat pintu ruang operasi yang terlihat menyeramkan *pas udah lahiran trus ngeliat pintu itu rasanya biasa - biasa ajah, hehe*, suamiku hanya mengantar sampai di depan pintu *hiks*. Di dalam ruang operasi rasanya dingin sekali kemudian aku kembali nyeletuk,"dingin banget mba." Bidan yang membantu operasi berkata sambil tertawa, "iyaa, biar kumannya ga gampang nyebar, kan harus steril". Aku ber-oh ria. Banyak tanya menjadi salah satu cara untuk menghilangkan ketakutanku untuk menjalankan operasi. Aku diminta naik ke atas meja operasi,"tinggi banget, udah gitu sempit pula" pikirku. "Emang Diah muat mba?" tanyaku lagi sambil nyengir kepada bidan yang memiliki nama Diah pula. Bidan itu nyengir,"tenang ajah, muat kok."
Aku tidur di meja operasi. Di dalam ruang operasi semuanya wanita kecuali dokter anestesi yang sudah sepuh. Dokter yang baik sekali. Aku diminta duduk selonjoran sambil memeluk bantal. Obat bius akan segera dimasukkan melalui ruas tulang punggung. Aku teringat perkataan seorang teman yang sudah pernah sectio caesaria, katanya disuntik bius itu sangat sakit. Dan ternyata, tidak sama skali. Yang kurasa hanya aliran dingin mengalir di sepanjang punggungku. Kemudian kakiku bergerak refleks, menendang. Seingatku ada 3 suntikan yang membuatku tak berdaya.
Aku dibaringkan, semua terasa kebas. Kemudian kateter dipasang, tak terasa sama sekali. Bu dokter dan timnya masuk. Beberapa saat kemudian aku panik, tidak bisa menarik ataupun menghembuskan nafas, bahkan tidak bisa mengeluarkan suara, padahal yang aku tahu seharusnya yang kebas hanya setengah badan. Bu dokter menenangkanku, beliau bilang jangan panik. Sampai aku berkata dalam hati, apakah ini saatnya aku menghadapMu ya Rabb, tak apalah meninggal dalam keadaan seperti ini, karena syurga ada di depan mata. Saat itu sepertinya sejenak aku tidak sadarkan diri, ketika kembali sadar, aku sudah diberi oksigen dengan masker, dokter anestesi mengajakku mengobrol. Katanya karena tadi aku panik, tensiku naik dan harus diberikan obat penurun tensi. Bahkan selang infus bertambah, ada di tangan kiri dan kanan.
Suara seperti kompressor, suara alat operasi yang beradu dan suara asing lain yang cukup mengerikan tertangkap oleh telingaku. Beberapa saat kemudian bidan Diah mendorong perutku di bagian atas, katanya bayiku sulit dikeluarkan.Kemudian terdengar suara bu dokter meminta alat vakum, dan kembali terdengar suara aneh. Alhamdulillah Allahu Akbar, pukul 08.00 bu dokter bilang bayiku sudah berhasil dikeluarkan, laki - laki. Kemudian bayiku dibawa oleh bidan Diah dan menjalani serangkaian tes, pembersihan jalan nafas, tak ada suara tangis sampai akhirnya selang oksigen dipasang, tangisan bayi mungilku pecah (berdasarkan kesimpulan sendiri, karena salah satu cara merangsang bayi supaya menangis adalah dengan dipasang selang oksigen). Aku terharu, menangis, subhanaLlah walhamduliLlah. Bayi mungilku digendong dan diperlihatkan kepadaku, aku menciumnya. Ia menggeliat sambil mengedipkan matanya perlahan. Andai bisa IMD. Tapi saat itu aku terus bersyukur karena ia bisa lahir dengan selamat, kekhawatiranku hilang sudah begitu juga kepanikanku.
Pukul 09.00 aku didorong keluar dari ruang operasi. Aku melihat suamiku menunggu dengan cemas kemudian tersenyum melihatku, aku menangis. Suamiku menenangkanku sambil mengusap kepalaku dan memegang tanganku, beliau bilang bayi kami sedang dihangatkan di ruang penghangat. Di koridor rumah sakit aku melihat Mama dan Bapak, mereka menghampiri dan mengantarku ke ruang rawat inap. Aku mencium tangan keduanya. Lega rasanya.
Orang pertama yang datang ke Rumah Sakit itu teh Ulict, ah subhanaLlah. Begitu bayiku datang, ia berkata,"ihh cantik..". Padahal kan laki - laki teh. Aku dan suamiku tidak setuju bayi kami dibilang cantik, meskipun memang terlihat cantik, hehe. Rasanya bahagia sekali. Paska operasi, aku diminta belajar menggerakkan kaki perlahan. Tidur menghadap ke kiri dan kanan. Duduk di tempat tidur. Kalau sudah kent*t baru diperbolehkan makan atau minum dan kateter dilepas. Aku baru bisa makan pukul 04.30 keesokan harinya setelah mendengar bayiku beberapa kali kent*t seolah - olah meledekku,"ummi ayo kent*t dong." hahaha.Momen ini juga membuatku makin sayang kepada suamiku.
Beliaulah orang pertama yang belajar mengganti popok bayi kami yang waktu itu masih berupa mekonium. Beliau yang memberikan semangat kepadaku dengan caranya sendiri supaya aku cepat sembuh. O iya, bu dokter itu dokter Prita. Beliau baik banget :D. Ternyata keputusan kami memilih operasi tidaklah salah. Dokter Prita bilang ketuban keruh AlhamduliLlah bukan karena feses bayi tapi karena janin sudah tua. Keruhnya keputihan bukan kehijauan. Ternyata tali pusat terlalu pendek, sekitar 30 cm dan kepala bayi melenceng dari jalan lahir. Kalaupun diinduksi, bayi belum tentu bisa keluar karena tertahan tali pusat, huhu. Banyak cerita di rumah sakit, kaya' dikasih suntikan berbau jengkol, bagaimana belajar duduk, belajar jalan, belajar mengasuh anak, banyak deh. Tulisan ini dibuat untuk saudari - saudariku yang sedang hamil.. teh anty, mba ii, dkk. Semangat yaa, semoga nanti bisa mengambil keputusan yang tepat pada saat akan melahirkan. Juga untuk anakku tercinta Naizar Khalifah dan suamiku tersayang Saiful Arbian :). Semoga ALlah mempertemukan kita semua bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak di dalam syurgaNya, aamiin..
*Naizar sayang..Ummi sayang naizar :)