Selamat tujuh bulan, anandaku!
Ternyata, selama tujuh bulan ini banyak yang sudah kita lalui, ya. Semoga tidak ada salahnya membagi perjalanan tujuh bulan kita. Ada hal-hal yang baru kutahu dan baru mulai kupelajari ketika aku memilikimu. Jadi, mari kubagi cerita tumbuh kembangmu karena bisa jadi ada bunda selainku yang membutuhkannya.
Hal ini yang ingin sekali kubagikan kepada pada ibu, mama, bunda, ummi, mommy, di luar sana. Tentang membentuk memori dasarmu. Ternyata sangat penting membangun memori dasar ini. Membentuk memori dasar berarti membangun pondasi benteng yang kokoh. Pondasi untuk apa? Untuk membentuk nurani, kecerdasan, rasa, dan bagaimana kamu memandang dunia.
Tahukah apa yang paling baik dalam membentuk memori dasar? Alam. Suara alam, dan semua yang bisa kita temukan di alam adalah yang stimulus-stimulus yang baik untuk membentuk rasa, karsa, dan logika. Tahukah, bahwa suara serangga, suara hewan, gemericik air, daun-daun yang tertiup angin, dan kebisingan yang bisa kita temukan ketika menyendiri di kedalaman hutan yang tidak tersentuh manusia dan teknologi modern ternyata merupakan stimulus yang lebih baik daripada rangkaian melodi dari musik-musik klasik? Suara-suara itu memiliki kompleksitas yang lebih tinggi daripada susunan nada di musik klasik yang konon dapat meningkatkan kecerdasan.
Maka, aku memperkenalkanmu dengan bentuk-bentuk yang bisa kita temukan di alam. Dedaunan, bunga-bungaan, ikan di kolam, ayam tetangga, sapi yang lewat menarik grobak, kucing peliharaan om dan tantemu... semua dalam berbagai warna dan corak. Siapa sangka ternyata bentuk-bentuk itu lebih mampu menarik ketertarikanmu dibandingkan film-film kartun yang kadang kutayangkan untuk membuatmu tenang, atau gawai yang kadang kuberikan sebagai pengalih perhatianmu.
Aku pun menarik kesimpulan, bahwa jika menjauhkan anak-anak dari ketergantungan gawai--yang saat ini banyak diinginkan para orang tua--adalah hal yang "mahal", karena hanya dapat dibayar dengan waktu dan tenaga, tidak dengan uang. Ya, aku banyak meluangkan waktu untukmu, untuk membawamu berjalan-jalan pagi dan menyentuh-nyentuhkan ujung jari-jarimu pada daun yang berembun, kaki-kakimu pada rumput yang basah, mengikuti ayam tetangga dengan bulu-bulunya yang indah. Yang tentu juga membutuhkan tenaga ekstra karena semakin bertambah usiamu, tubuhmu juga semakin berat. Hehehe.
Tapi, kebiasaan-kebiasaan yang sudah mulai kulakukan sejak usiamu menginjak dua bulan itu berhasil mengalihkan perhatianmu dari gawai. Rasa penasaranmu lebih besar pada sesuatu yang nyata dan bisa kamu genggam, tidak sekedar kamu dengar dan lihat. Kamu bahkan hanya melirik skeptis jika kutayangkan film kartun kesukaanku, atau memutar video anak-anak di ponselku. Mungkin ini cara yang bisa kusarankan bagi para ayah dan bunda yang memiliki kekhawatiran bahwa anak-anaknya akan terlalu candu pada gawai: luangkan waktu bagi mereka untuk mengenal dan berinteraksi dengan alam, bangun memori dasar sejak mereka bayi agar mengenal alam seluas-luasnya, dan teknologi adalah apa yang kita butuhkan untuk menunjang kehidupan, bukan bagian dari diri kita.
Mudah atau sulitnya relatif pada masing-masing perspektif dan keadaan. Bagiku yang tinggal di pedesaan, interaksi dengan alam adalah hal yang mudah didapatkan. Bagaimana jika tinggal di kota yang kental dengan bangunan-bangunan artifisial? Saranku, jika ada kesempatan untuk berintraksi dengan makhluk hidup, lalukanlah. Dengan tumbuhan yang ditanam di rumah, mengunjungi taman kota, memiliki hewan peliharaan, adalah beberapa hal yang dapat menjadi solusi. Memperdengarkan suara gemericik air hingga bermain di air juga dapat menjadi alternatif.
Membentuk memori dasar juga berkaitan dengan membuka hati nurani. Semakin kamu banyak berinteraksi dengan alam, kamu akan semakin mengenal makhluk hidup, memahami bahwa mereka memiliki kehidupan dan keberadaan, hingga mengenal apa itu hidup dan untuk menghargai kehidupan. Dengan begitu, tidak hanya kecerdasanmu yang terbentuk, tapi juga empatimu, rasa kasih dalam hatimu, dan kecintaan pada seluruh alam.
Saat ini kamu sedang dalam fase oral, yang juga merupakan fase penting untuk mengenal dunia. Aku tidak banyak membelikanmu mainan, bukan karena aku mengikuti saran para pakar yang berseliweran di media sosial, tetapi karena terlalu banyak pilihan jadi bingung mau memilih mainan apa yang cocok untukmu. Tapi ternyata hal itu justru lebih mampu membangun fokusmu. Bagaimana bisa?
Kamu suka sekali memilih satu barang yang kamu sukai, lalu bermain-main dengannya sampai kamu bosan. Barang apapun itu, mulai dari teether yang memang sengaja kubelikan untukmu, hingga peralatan rumah yang bisa kamu temukan di selingkarmu: remote televisi, kunci mobil, botol minum, console PlayStation, dan banyak lagi. kamu mengamatinya, menimbang bobotnya dengan menggerak-gerakkannya dengan tanganmu, lalu memasukkannya ke mulutmu untuk mengenal benda itu. Kamu membolak-baliknya, melemparkannya, hanya satu benda sekali waktu.
Aku jadi tahu, itu adalah salah satu cara untuk membangun fokusmu. Kamu hanya memainkan satu benda pada satu waktu, tapi menguliknya hingga kedalaman tertentu. Dari situ juga kamu mengenal warna, bentuk, tekstur, juga rasa dan aroma. Meski tidak jarang benda-benda yang kamu mainkan melukaimu, tapi kamu bertahan pada antusiasmemu.
Dari hal ini aku juga mengerti, bahwa untuk membangun kecerdasanmu, aku tidak perlu barang atau mainan mewah. Karena bagi seorang anak, semua benda di sekitarnya adalah mainan. Bukan hanya itu, bahkan bagi mereka dunia ini adalah taman bermain. Terutama tubuh orang tuanya.
Ah, aku tidak ingin terlalu banyak membahas tentang ini. Karena banyak orang yang tidak sepaham. Mengenai treatment medis dan kesehatan yang ada di negara ini, aku menemukan banyak pertentangan dengan ilmu-ilmu baru yang kudapatkan dari para ilmuan yang tidak stagnan pada satu paradigma yang sudah ada. Imunisasi, pemberian obat dan vitamin, hingga pemberian nutrisi pendamping ASI banyak yang ingin kukritisi tapi tidak di sini.
Maka, ini saja yang ingin kusampaikan: seorang bayi yang lahir pervaginam dan dalam keadaan normal (tidak dalam kondisi khusus), memiliki jumlah protein yang lengkap dan fungsi darah terbaik. Keduanya tidak perlu ditambah apapun lagi, maka ASI dariku sudah cukup, karena ASI sudah memiliki segala yang dibutuhkanmu: nutrisi, antibodi, dan segala yang untuk menunjang kehidupanmu hingga pada usia tertentu.
Pernah sekali waktu kamu aku demam tinggi, dan tentu saja kamu pun tertular. Tapi ajaib, ketika aku harus berjuang melawan demam itu hingga sepekan penuh, kamu hanya perlu sehari untuk bisa kembali normal. Itu ketika usiamu masih tiga bulan. Pada penghujung tujuh bulanmu kemarin, aku sempat terserang flu parah, dan kamu tidak mungkin tidak tertular. Dan lagi-lagi ajaibnya kamu hanya pilek-pilek ringan dan, meski sedikit rewel karena ketidaknyamanan tubuhmu, kamu langsung kembali pulih.
Tahukah, meski aku awalnya khawatir pada fase oralmu, karena kamu mungkin memasukkan bakteri ke mulutmu, tapi ternyata antibodi yang kamu dapat dari ASI mampu melawan bakteri-bakteri itu. Lalu aku semakin percaya, bahwa apa yang diberi oleh Tuhan, adalah segala yang terbaik dan lengkap. Kekhawatiranku akanmu berangsur menurun.
Di tujuh bulanmu ini, kamu juga masih kubei ASI saja. Sempat aku memulai untuk melakukan MPASI, tapi ternyata langkah itu belum tepat kulakukan sekarang. Maka, aku masih menunda. Semoga kamu sabar ya, untuk mencicipi makanan-makanan baru.
Kenapa aku belum memberi MPASI padamu? Tentu banyak yang menentang, tapi hal ini kulakukan bukan tanpa pengawasan dari pakar. Mungkin ibu yang berbeda juga memiliki pendapat dan sudut pandang yang berbeda. Dari buku MPASI mainstream, dikatakan bahwa pada suatu titik, ASI tidak akan lagi mampu memenuhi kebutuhan nutrisi si bayi. Tapi, titik yang dikatakan adalah pada usia enam bulan itu seharusnya berbeda bagi masing-masing bayi karena perkembangan bayi tentu berbeda juga. Saat ini kamu masih pada fase ASI eksklusif, karena alasan itu. Aku ingin selama mungkin memberikan ASI eksklusif untukmu, bahkan kalau bisa sampai dua tahun. Tapi tentu banyak pertentangan, maka kita lihat seberapa panjang kita bisa berbagi antibodi tanpa intervensi elemen lain.
Tapi ini adalah apa yang kuyakini, dan tentu tidak harus sama dengan orang lain, dan orang lain pun tidak harus meyakinin ilmu dan pengetahuan yang kuketahui.
Jangan Sampai ada Fase yang Terlompat, ya!
Terakhir, jangan sampai kamu melompati satu fase. Fase yang kumaksud adalah dari kemampuanmu yang hanya bisa berbaring, kemudian berusaha mengguling, tengkurap, merangkak, duduk, hingga berdiri dan berjalan. Ternyata sangat penting untuk melalui fase ini dengan urut untuk menyelaraskan antara psikologis, spiritual, dan logikamu. Karena di dalamnya ada keterlibatan antara keinginan dari dalam hati dan kemampuan tubuh. Terkadang tubuhmu belum bisa melakukan keinginanmu, maka, untuk dapat menyelaraskan keduanya, kamu harus mampu mengolah tubuh dan hatimu, caranya adalah aku mengawalmu untuk melalui fase-fase itu secara bertahap dan urut.
Implikasi dari fase-fase ini adalah pada hepar dan otak. Keduanya akan mampu menjadi selaras. Jika keduanya selaras maka kecerdasan dan hati nurani akan selaras juga. Ini bukan kesimpulan yang kutarik semata, tetapi juga hasil penelitian para pakar.
Nah, begitu perjalanan tujuh bulanmu yang bisa kubagikan kepada dunia. Mungkin mereka membutuhkannya. Semoga semua anak di luar sana bisa menjadi bahagia, dan sehat, sebagaimana yang ingin selalu kuusahakan untukmu.
Karena, tahukah kamu, nak, bahwa bukan kamu yang membutuhkanku, tapi akulah yang membutuhkanmu. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau tanpaku, kamu bisa menjadi hebat tanpaku, tapi aku tidak akan merasa mampu melalui apapun tanpa kamu. Selama ini, kamu ternyata yang menjagaku. Sebagaimana pesan ayah setiap kali akan ia berangkat bekerja, yang ternyata selalu kamu lakui: