Adik
Diantara suara, bunyi yang bergema diatas bukit gemuruh yang berbisik di tepi laut, hanya suara hati; yang bagaikan angin sulit ku tuliskan. Oh adik aku rindu padamu.
Bilamana matahari telah tenggelam, gelisah menjadi tak tentu arah hanya kata yang sanggup kusampaikan kepadamu. Oh adik selamat malam Mimpilah yang indah, sampaikan salamku untuk hatimu. Aku mencintaimu.
Setiap langkah kakiku pergi seperti diatas jalan berbatu aku mendaki, atau diatas bau laut yang asin karena garam aku berlayar dengan kapal. Pikiranku menatap luas, menantikan hari-hari untuk bersamamu Oh adik ingin kuakatakan padamu; Hari esok kan cerah.
Kalau kukatakan kepadamu, apakah kamu akan percaya? Aku tak pernah bisa menyelesaikan pekerjaanku karena otakku terganggu rindu. Dan terkadang aku ingin pergi meninggalkanmu, pergi menjauh darimu. Tapi oh adik, engkau telah tertanam dan tumbuh berdaun hijau segar dan aku tak akan pernah meninggalkan ladang yang subur hingga ia berbunga lalu berbuah. Dan aku masih tak kan pernah meninggalkannya sampai kita mati.. tetapi sejauh tanah masih bisa di tanami.. Pasti ladang itu kan hijau kembali.
Aku Seorang lelaki yang tak akan pernah mengerti kamu. Aku bukan seorang penyair, meski lembaran kertas kuhabiskan untuk puisi. Aku bukan seorang pendaki meski gunung gunung kujelajahi. Aku hanyalah seorang penikmat suara. Suara di padang gembala. Suara dalam keramaian tawa sahabat. Suara yang berbisik di tepi pantai Suara yang bergemuruh diatas topan yang bergulung. Oh adik diantara banyak suara, yang sulit kutuliskan adalah suara hati; Suara hati
Sebuah Puisi : Adik | (C)Andyriyan | @anndyriyan Yogyakarta, 17 Oktober 2014 *Puisi ini di tulis di bulan yang sama di Jepara, dan di update di Yogyakarta.











