Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah. Telah resmi sepekan lebaran dilalui sudah. Beragam cerita, pernik, dan intrik mewarnai lebaran tiap tahunnya. Sebagai umat muslim; sudah tentu lebaran menjadi momen yang dinanti tiap tahunnya. Oleh sebab itu segala persiapannya pun sudah dicicil hampir sebelas bulan sebelumnya.
Lebaran, sudah tentu jamak kita ketahui penuh dengan aneka reragam suguhan. Di tiap rumah, di tiap desa hampir pasti ada suguhan ketika lebaran tiba dan berbicara tentang suguhan lebaran, tentu ada banyak macam, ragam, beserta variasinya. Pada tulisan kali ini mari kita seksamai beberapa di antaranya:
Suguhan Lebaran 1: Sungkeman
Suguhan lebaran ini yang utama. Memohon maaf kepada kedua orang tua kita, kakek-nenek kita, saudara-saudara kita, tetangga-tetangg kita, dan orang-orang yang kita kenal selama ini. 11 Bulan hidup bermasyarakat, bertetangga, dan bermuamalah,; sudah tentu rawan sekali dengan gores-menggores antar sesama sehingga kesalahan dan khilaf menjadi suatu hal yang niscaya. Beruntung Ramadhan mengajarkan kita untuk memulihkan diri dan hati dari semua luka-luka tadi. Ramadhan seolah tak memberi kesempatan pada dendam, dengki, hasud, dan benci untuk bersemayam di dada lebih lama lagi. Puncaknya ketika lebaran tiba; seusasi shalat Idul Fitri lebih tepatnya. Sebakda menyimak khutbah dan pulang menuju rumah; kita disunnah untuk melalui tempuhan yang berbeda dari berangkatnya. Bukan untuk mencari-cari kesalahan namun justru untuk mencari kemaafan. Tak hanya itu, kita juga disunnah untuk makan terlebih dahulu, agar kita tak sampai merepotkan sesiapa saja yang kita temui di jalan untuk menyaji hidangan. Sesampai di rumah kita terwajib memohon maaf dari kedua orang tua kita. Istri memnita maaf pada sang suami dan sang suami meminta maaf kepada sang istri. Anak meminta maaf pada orang tua dan orang tua juga meminta maaf, membekalinya dengan doa dengan ikhlas. Yang satu meminta maaf, yang satu memberi maaf, ketemunya di saling memaafkan. Keseimbangan hidup yang selama ini goyah pun kembali terbentuk, tali silaturrahim yang selama ini renggang telah kembali dikencangkan, barisan yang selama ini tak teratur kembali lurus, rapat, dan berkesinambungan, ikatan keluarga yang selama ini dipisahkan oleh jarak kembali berjumpa, dikuatkan, lalu diteguhkan.
Sungkeman setidaknya mengajarkan bahwa seindah-indah hubungan dalam keluarga, bermasyarakat, dan bermuamalah adalah saling tak sungkan dan tak enggan meminta maaf dan memberi maaf. Bahwa hidup yang sudah penuh liku dan linu butuh kesediaan dan kebesaran jiwa untuk saling memaafkan, mendoakan, dan kemudian saling meneguhkan. Semoga jiwa-jiwa baru yang dilahirkan senantiasa menjadi jiwa-jiwa yang pemaaf dan enggan menyimpan dendam sebakda sungkeman yang jadi suguhan lebaran.
Suguhan Lebaran 2: Kue Lebaran
Suguhan Lebaran yang kedua tentu tak asing bagi anak-anak dan kawula muda yakni kue lebaran. Aneka kue seperti nastar, putri salju, kastangel, kue kacang, biskuit kalengan, sesirupan, semprit, lidah kucing, dan banyak lagi lainnya mewarnai masyarakat kota. Bergeser ke desa, aneka jejajan tradisional seperti tape, rambak, satru, kacang dan jagung gorengan senantiasa tersaji di atas meja. Entah, lebaran kurang lengkap rasanya jika tidak ada reragam kudapan tersebut di atas meja di setiap rumah. Dapat pula kita pastikan menjelang lebaran, pasti ibu-ibu dan anak-anak wanita menyempatkan diri untuk memilah dan memilih, bahkan membuat sendiri kue lebaran yang hendak disuguhkan. Sebagai tuan rumah, menyuguhkan kudapan tersebut sudah menjadi semacam tradisi yang tak boleh dilewatkan dengan harapan tiap tamu bersedia duduk sebentar, bercengkrama sembari menikmati kudapan. Sayangnya, akhir-akhir ini “jadwal unjung-unjung” yang relatif terbatas dan tak lama membuat para tetamu cenderung terburu-buru meninggalkan rumah yang dikunjunginya hingga tak sempat menikmati kudapan yang sudah tersaji di atas meja dan mungkin ujung-ujungnya kita sendiri yang menikmati semua kudapan tersebut. Iya bukan?. Lebaran kali ini, penulis menyadari “fenomena” ini dan dari sana akhirnya penulis sadar bahwa “suguhan lebaran” yang sejati adalah keramah-tamahan dan senyuman yang selalu kita berikan. Penulis kira, hal yang paling bermakna ketika lebaran tiba adalah saat-saat ketika kita senantiasa menerima semua yang berkunjung ke rumah dengan tangan terbuka, dengan ramah, dengan senyum yang selalu terkembang ikhlas kendati saat itu kita mungkin sangat lelah setelah seharian juga berkeliling dari rumah ke rumah. “menyaksikan semua orang tersenyum dan begitu mudah mengucap kata maaf dan mudah tuk memaafkan, Itu indah sekali bukan?.”
Suguhan Lebaran 3: Baju Baru
Ada sebuah anekdot “lucu”, bahwasaannya Ramadhan terbagi menjadi 3 bagian. 10 hari pertama jamaah memenuhi masjid, 10 hari kedua jamaah memenuhi mall, dan 10 hari terakhir jamaah memenuhi jalanan. Ya. Idul fitri tak bisa dipungkiri masih identik dengan baju baru. Hampir dipastikan setiap lebaran tiba, di tiap rumah para penghuninya selalu tampil dengan baju baru yang melekat di tubuh. Mungkin hal ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah dan tak masalah selagi hal tersebut merupakan perwujudan syukur atas rizki yang diterima dan tak berlebihan tentunya, hanyasanya mungkin baju baru tersebut mungkin sesekali bisa mengaburkan makna “pribadi yang baru” yang terbentuk oleh tempaan bulan Ramadhan. Ya. Menjadi pribadi yang lebih baik sebakda Ramadhan seharusnya merupakan suatu keharusan. Berbicara menjadi pribadi yang lebih baik tentu ada minimal tiga dimensi yang musti dipenuhi, yakni: baik kepada Allah, baik kepada sesama manusia, dan baik kepada lingkungan sekitar kita termasuk alam dan seisinya. Ya. Pribadi yang lebih baik; pribadi yang “eling” siapa diri kita sebenarnya, siapa diri kita seharusnya, dan amanah sebagai khalifah yang musti kita penuhi dan pertanggung-jawabkan nantinya. Bagaimana? Mari menjadi pribadi yang baru; pribadi yang lebih baik tentunya. Semoga
Suguhan Lebaran 4: Mudik
Suguhan lebaran yang kedua adalah mudik. Mudik menjadi suguhan lebaran yang sangat menarik dilihat dari sudut manapun ia ditarik. Bayangkan, bagi sebagian orang mudik menjadi suatu momen yang paling berharga dalam kehidupannya; sebelas bulan lamanya mereka jauh dari keluarga dan sanak saudara demi mengejar mimpi, mengais rizki, ataupun menuntut ilmu. Pundi-pundi harta yang ditumpuk mungkin bisa jadi tak seberapa, tapi jangan tanya pundi-pundi rindu yang memenuhi lumbung mereka. Mungkin, rasanya sepert kemarau setahun dibalas dengan hujan sehari. Idul fitri mungkin tak pernah cukup untuk menyampaikan perasaan mereka yang sebelas bulan lamanya harus menjalani hidup jauh dari rumah mereka yang hangat dan penuh cinta dari keluarga.
Berbicara tentang mudik, penulis sempat mengamati suatu peristiwa yang menarik. Sabtu kemarin ketika penulis dan keluarga bertolak ke Malang menuju rumah bude lewat tol Kejapanan yang baru dan macetnya...wuh...bisa bikin lutut dan kaki nyeri gegara letih menginjak pedal kopling dan gas selama hampir satu-dua jam-an di jalan tol yang merambat dengan tingkat kemiringan tanjakan sekitar 45 derajat. Setelah melalui “itu”, sampailah penulis di Purwosari arah Lawang dan sama-sama macet saudara. Di tengah kemacetan itulah, tampak banyak sekali pria dan wanita paruh baya yang berjuang mengais rizki. Kaum prianya tampak bersimbah keringat dengan jaket lusuh; di pundaknya mereka gantungkan kacang goreng dan mente goreng kemasan kecil, sedang tangan mereka mengulurkan tahu goreng dalam plastik; gerakan mereka lincah berliweran di tengah antrian kendaraan yang semakin mengular. Teriakan mereka cukup lantang, tapi tetap kebanyakan tak diindahkan para pengendara yang ingin segera sampai di tujuan. Sedangkan, kaum wanitanya menggunaka semacam baju terusan yang cukup longgar, berjilbab, tapi memakai topeng siluet wajah wanita berwarna putih seperti boneka manekin. Tangan mereka tak henti memainkan alat musik dari kempyeng atau tutup botol yang dipaku ada sebuah kayu batangan kecil yang juga lusuh. Tak jelas apa yang mereka nyanyikan dan mereka memilih berdiri di atas pembatas jalan karena mungkin faktor keamanan yang rawan di tengah kemacetan.
Mengamati itu semua, ada getir yang terasa. Ya. Ditengah perlombaan para pemudik yang ingin segera sampai di kampung halaman, mereka harus berjibaku mengais rizki di tengah suasana lebaran. Penulis faham, mungkin justru momen seperti itulah yang mereka nantikan untuk mendapat keuntungan. Tapi tetap saja, ada getir yang terasa....
Mudik juga identik dengan arus balik. Ini juga menarik karena biasanya di kota besar umumnya yang menjadi peserta di arus balik tak hanya mereka yang memang harus balik tapi juga ada peserta wajah baru. Ya. Kota dengan gemerlapnya selalu mempesona dan menggoda bagi mereka yang ingin mencoba merubah taraf hidupnya. Lagi-lagi penulis merasakan ada getir disana. Ya. Pemerintah biasanya memandang itu semua dengan kacamata negatif saja karena kebanyakan yang berbondong menuju kota adalah mereka yang dari desa tanpa ada keahlian khusus menyertainya. Mereka dipandang sebelah mata, merusak tatanan kota, menambah kesan kumuh kota, dan rawan meningkatkan angka kriminalitas di kota.
Padahal, mereka hanya ingin menaikkan taraf hidup mereka. Padahal dari mereka kita tahu bahwa pembangunan perekonomian di negara kita belum merata, apalagi sempurna. Padahal dari mereka kita tahu, sulitnya menjalani hidup di desa dimana tidak ada cukup fasilitas untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Padahal mereka hanyalah rakyat yang sama seperti kita, yang ingin menjalani hidup dengan baik dan sejahtera. Padahal dari mereka mungkin kita akhirnya tahu, bahwa suara mereka yang hidup tertatih di kota ternyata lebih didengar oleh mereka yang ada di kursi pemerintahan di kota.
Apapun suguhan lebaran yang kita nikmati, mari kita syukuri sepenuh hati dan semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik di setiap hari.
“Dari Ruang Sederhana, penulis menghaturkan “taqabalallahu waminna waminkum, taqqabal ya karim, minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin”.
*ditulis dengan penuh kekurangan di Ruang Sederhana
24/07/2015