5 menit pertama saya nonton film ini, tiba-tiba saya nangis. ujung mata sudah basah saja ga sengaja. bukan, bukan karena jalan cerita filmnya. sebelumnya rongga dada saya jadi agak sesak. ingatan saya kemudian melayang pada kira-kira 10 tahun lalu..
“apa kabar mimpi-mimpi waktu itu?” ah, pertanyaan itu muncul. dan itu yang membuat saya nangis karena lega. narasi yang begitu apik oleh mba Bunga (Citra Lestari).
“Jilbab Traveler, Love Sparks in Korea”
baru bisa menyempatkan diri nonton film ini setelah selesai libur lebaran.
saya ga nyangka dengan ekspetasi saya sebelumnya. tapi film ini membuat saya sepanjang film menguatkan tekad dalam hati.
dulu, dulu banget saya pernah iseng punya keinginan keliling dunia. at least, keluar negeri. hmm, keinginan ini tentunya cuma jadi sekedar mimpi iseng tidak tercatat bagi bocah SMP menjelang SMA yang waktu itu bapaknya hanya seorang supir pribadi sebuah keluarga yang Allah beri kesempatan menjadi perantara rizki bagi keluarga kami. hhehe.
*I love u bapak, salam kagum tidak terkira atas perjuangannya yang sudah membuat anak-anaknya seperti sekarang ini.. :“)
waktu itu, karena pak'cus (panggilan akrab kami ke atasannya bapak) ditugaskan beberapa tahun menjadi perwakilan duta besar Indonesia di Moscow. saya terkagum-kagum. ditambah lagi beliau hampir rutin mengirimkan cokelat Russia ke Indonesia.
dalam satu pengiriman rutinnya, pernah beliau (sekarang sudah almarhum) menyelipkan kartu pos bergambar dari Russia yang ditujukan buat saya dengan beberapa kalimat dibaliknya. saya lupa gambar dan kalimatnya waktu itu apa.
tapi perasaan saat itulah yang akhirnya membuat saya refleks mengatakan, “saya mau keliling dunia”. yang mungkin waktu itu bapak dan ibu saya cuma bisa mengamini sambil tersenyum.
belum ada visi waktu itu. belum mengenal motivasi lain yang lebih serius. mungkin itu yang ngebuat mimpi itu muncul tenggelam berganti dengan mimpi-mimpi lain setiap bangun tidur.
dan kembali di 5 menit pertama film ini, benar-benar.. ah, entahlah. perasaannya mungkin seperti habis makan richeese lv. 5 kemudian nemu tissue dan pergi ke toilet untuk buang ingus tanpa ada banyak orang yang tau. Lega. 😀 *ga usah dibayangin
seiring berjalannya waktu, pengetahuan dan ilmu yang ga seberapa, keinginan untuk terus melakukan perjalanan pun semakin bertujuan. semakin jadi pelajaran. jika sudah suka, ya suka aja. dibuat murni, baik, dan bermanfaat.
saya sangat sadar belum ada apa-apanya dengan banyak orang lain disana. belum ada sejengkal juga langkah saya di hamparan peta dunia. belum sepayah, sejauh, semelelahkan, atau semenyakitkan orang-orang hebat disana.
kan, saya jadi menertawakan diri sendiri. jangan sombong dengan yang baru kamu dapat hari ini, wi..
masih bisa dihitung apa saja yang sudah kamu raih dengan uang hasil keringat sendiri.
well, masih relevant kah untuk meneruskan perjalanan yang masih sedikit ini? sangat. dan ingin.
dari merekalah seharusnya saya bisa semakin menumpuk tekad. dengan banyak cerita dan pertentangannya.
ingin rasanya membagikan cerita tentang hal-hal menakjubkan dari banyak orang di banyak tempat, menuliskan hamparan alam dari yang Maha Besar, atau memperdengarkan suara syahdu dari ketenangan saat mata terpejam. bertemu banyak orang dan belajar lebih bermanfaat dari mereka.
karena Allah hadirkan orang lain, bukan selalu tentang diri sendiri..
semoga Allah mengizinkan ya. dan segera mempertemukan saya dengan seseorang yang sama-sama akan banyak berjalan, juga berjalan bersama. mari melakukan perjalanan dengan orang-orang yang kita sayang.
husnudzhan kepada Allah. percaya aja, Allah sudah merancang yang baik-baik buat kita, buat mimpi-usaha-dan doa kita.
saya korban film? hmm, apa aja terserah deh. 😉
ohiya, terlepas dari pro/ kontra kisah cinta antara Rania, Ilhan, dan abang-abang Korea (Morgan) di film ini. saya salut dengan bunda Asma Nadia, dengan semua pihak di dalamnya, dengan film ini.
mari dukung film-film baik.
antara 1 sampai 5, saya beri bintang 4.5 untuk film ini.
recommended..