dan kekallah detik-detik didalamnya”
- 3 hari untuk selamanya,Float
Hari itu sangat panas. Apalagi berada di kota yang masih cukup asing. Kota yang banal. Kota yang dari dulu bahkan tidak pernah masuk dalam destinasi liburan bagiku, bahkan mungkin juga kebanyakan orang. Jangankan mendatanginya, membayangkan berada di sana saja sudah cukup menguras kapasitas otak. Namun ada sesuatu yang mewajibkan untuk saya hadir disana. Dan sayangnya, sesuatu itu berhasil membuat saya menduakan semua urusan. Hebat
Roda ini melaju deras. Berkejaran dengan matahari yang tampak ingin segera beristirahat. Seakan matahari juga ingin aku untuk segera bertemu dengannya. Ya, bertemu dengan orang yang hanya dikenal melalui pesan-pesan singkat. Begitu asing. Entah bagaimana nantinya, sepenuhnya saya serahkan kepada nasib baik.
Sampai di depan rumahmu. Diam. Aku masih ragu, kuputuskan untuk menjauh dari gerbang rumahmu. Sedikit menenangkan badan dengan memandang lampu-lampu kota yang seakan perlahan meredup menjadi suram. Banyak sekali yang bersliweran di kepalaku. Aku hanya berharap nasib baik tidak tertinggal di rumah. Jarum jam berputar 1/4 putaran. Aku masih bertahan atau lebih tepatnya tertahan. Sekarang atau tidak sama sekali. Ku kumpulkan rasa berani. Aku tepat berada di depan gerbangmu sekali lagi.
Ku kirim pesan singkat kepadamu sekedar memberi kabar bahwa aku sudah diluar. Aku tertunduk merangkum doa. Berharap semua apa adanya. Suara pintu terbuka. Ah, itu pasti dia. Lalu suara langkah mendekat kemudian berhenti. Dia mempersilahkan untuk masuk. Manis sekali, seakan kami sudah saling kenal sekian tahun. Wajahnya terlihat begitu ceria, seakan dia sudah menunggu momen ini begitu lama. Dengan kata-kata, ya kami mulai bicara dengan kata. Bahasa lisan, bukan bahasa tulis. Selanjutnya kami larut hanyut bercerita tentang apa saja layaknya sepasang jantan dan betina yang bertahun tak bersua.
“Sesungguhnya berbicara dengan mu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita,
Mungkin tentang ikan paus di laut
Atau mungkin tentang bunga padi di sawah.
Sungguh bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita,
Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja”
- Mari Bercerita, Payung Teduh
Semua ini adalah proses menikmati. Menikmati perjalanan, menikmati detik-detik pertemuan, menikmati rindu dan tentu saja menikmati momen apapun saat bersama. Naif memang dan mungkin juga klise bagi kebanyakan orang. Namun senyum, kata-kata manja, celotehan tidak penting bahkan saat menangis pun kamu tetap menggemaskan.
“Making love to you is like a dream to me
Having you beside me is a fantasy
I’ve been reaching for a star
Trying to catch the morning sun
I long for u, my lady in the night”
Saatnya pulang. Momen-momen menyenangkan telah lewat dan bersiap menjadi memoar. Dan saya mulai berangan-angan membangun memoar lainnya di lain waktu. Ya, saya siap.