Teori tentang "Sentient & Ubiquitous City"
Artikel ini berkaitan dengan teori yang mendasari perancangan saya. Syaiful Muazir dalam makalahnya berjudul "Designing for Smart Travellers in Ubiquitous Era: Concepts, Scenarios & Experiences" (2012), mengatakan bahwa kota-kota di dunia sekarang bergerak ke arah yang "sentient" (hidup, dapat dirasakan secara subjektif, manusiawi). Keadaan ini dibantu oleh teknologi yang "ubiquitous" (simultan, terdapat di mana-mana).
Syaiful menerangkan bahwa teknologi yang semakin merambah mobilitas membuat pejalan (traveler) semakin mendambakan pengalaman perjalanan atau wisata yang juga mendukung mobilitas tersebut. Tanpa disadari pun, dengan adanya teknologi mobile dan jejaring sosial yang sadar lokasi (location-aware social networks), hampir seluruh sudut dan arteri kota semakin berhubungan dan dapat di-"rasakan" atau di-"genggam" oleh penghuni atau pengunjungnya. Manusia yang berada di suatu kota, dengan bantuan teknologi yang "ubiquitous" ini, merasa yakin mengenali sebuah kota dan mendapatkan akses yang lebih luas & mudah.
Ketersediaan informasi di internet yang disampaikan melalui jejaring internet di mobile device kemudian mengurangi peluang keterasingan dan pada satu sisi mendukung pariwisata secara cepat. Rekomendasi sesama yang wadahnya diberikan oleh jejaring sosial yang mendukung deteksi lokasi misalnya, membuat sorotan-sorotan yang dulunya hanya dapat diliput oleh media massa atau publikasi yang harus melalui riset panjang, menjadi dapat diketahui secara instan. Akibatnya, lanskap pariwisata pun berubah. Persaingan bisnis yang berkaitan dengan pariwisata, misalnya, memiliki peluang untuk semakin sama rata atau mencuri garis mulai (head start). Pemerintah lokal pun dapat memanfaatkan teknologi mobile untuk mendukung pariwisata lokal dengan penerapan sistem informasi pariwisata yang komperehensif, yang bisa diakses dari titik mana pun di suatu kota.
Oleh karena itu, untuk membuat kota semakin "ramah" dan "manusiawi" bagi pengunjung atau penghuninya, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan teknologi yang simultan dan dapat diakses di mana-mana, dengan menghubungkannya pada konteks & konten aktual kota sebagai ruang. Salah satu konteks & konten ini adalah sejarah, dan kita bisa membuat pengunjung semakin "menyentuh" konteks sejarah walaupun itu sudah berlalu, dengan simulasi yang diberikan oleh aplikasi ini. Kota pun memberikan pengalaman dan nafas baru di atas realita yang ada.