Sempat masuk Red & White Magz, sebuah blog yang mendokumentasikan karya pop culture di Indonesia. Sayang, sepertinya blog ini sudah hampir tidak aktif lagi.
No title available
Game of Thrones Daily

#extradirty
Three Goblin Art
Sweet Seals For You, Always

izzy's playlists!

Kaledo Art

Andulka
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

shark vs the universe

titsay
noise dept.
we're not kids anymore.
Show & Tell
Alisa U Zemlji Chuda
h
Monterey Bay Aquarium
d e v o n
No title available
$LAYYYTER
seen from United Kingdom

seen from France

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Germany

seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Romania

seen from United States

seen from Belgium
seen from United States
@kelanabatavia
Sempat masuk Red & White Magz, sebuah blog yang mendokumentasikan karya pop culture di Indonesia. Sayang, sepertinya blog ini sudah hampir tidak aktif lagi.
Sudah mulai mengerjakan frontend.
Namun saya tetap ingin menghubungi pemrogram frontend profesional dan mengetahui apakah biayanya sanggup saya penuhi. Jika tidak, ada kemungkinan saya kerjakan sendiri atau dibagi.
Saya berbicara banyak dengan pengembang backend saya hari ini, Hafiz Badrie dari Wiradipa Nusantara.
Pada intinya kami menyamakan pendapat dan perspektif. Saya berusaha untuk menyederhanakan banyak hal, terutama untuk proses implementasi semester pendek ini yang praktis hanya sekitar satu bulan lagi. Hasilnya:
Fokus pada 3 situs sejarah di Kota Tua.
Penggunaan peta Google Maps eksisting. Sebelumnya ingin membuat peta sendiri, tetapi ternyata butuh waktu lebih banyak dari itu. Kemungkinan diundur semester depan saja.
Praktikalitas versi mobile. Agar sederhana dan cepat diakses, maka sebisa mungkin versi mobile memiliki tampilan dan fungsi yang tidak membebani akses data.
Proses sketsa untuk situs-situs bersejarah di Kota Tua. Saya memutuskan untuk fokus di Kota Tua dulu untuk semester ini. Bisa tebak lokasi mana sajakah yang ada di sketsa saya di atas? :-)
iOS App: Creative Tourist
Creative Tourist adalah aplikasi iOS yang fokusnya adalah sebagai pemandu atraksi kultural di Manchester dengan serangkaian database informasi yang dilengkapi pemandu berbasis GPS. Saat ini hanya tersedia untuk Apple iOS (iPhone dan iPod Touch).
Fitur utamanya adalah walking tour untuk rekomendasi atraksi yang kategorinya terdiri dari museum, restoran, kafe, galeri dan lain-lain.
Teori tentang "Sentient & Ubiquitous City"
Artikel ini berkaitan dengan teori yang mendasari perancangan saya. Syaiful Muazir dalam makalahnya berjudul "Designing for Smart Travellers in Ubiquitous Era: Concepts, Scenarios & Experiences" (2012), mengatakan bahwa kota-kota di dunia sekarang bergerak ke arah yang "sentient" (hidup, dapat dirasakan secara subjektif, manusiawi). Keadaan ini dibantu oleh teknologi yang "ubiquitous" (simultan, terdapat di mana-mana).
Syaiful menerangkan bahwa teknologi yang semakin merambah mobilitas membuat pejalan (traveler) semakin mendambakan pengalaman perjalanan atau wisata yang juga mendukung mobilitas tersebut. Tanpa disadari pun, dengan adanya teknologi mobile dan jejaring sosial yang sadar lokasi (location-aware social networks), hampir seluruh sudut dan arteri kota semakin berhubungan dan dapat di-"rasakan" atau di-"genggam" oleh penghuni atau pengunjungnya. Manusia yang berada di suatu kota, dengan bantuan teknologi yang "ubiquitous" ini, merasa yakin mengenali sebuah kota dan mendapatkan akses yang lebih luas & mudah.
Ketersediaan informasi di internet yang disampaikan melalui jejaring internet di mobile device kemudian mengurangi peluang keterasingan dan pada satu sisi mendukung pariwisata secara cepat. Rekomendasi sesama yang wadahnya diberikan oleh jejaring sosial yang mendukung deteksi lokasi misalnya, membuat sorotan-sorotan yang dulunya hanya dapat diliput oleh media massa atau publikasi yang harus melalui riset panjang, menjadi dapat diketahui secara instan. Akibatnya, lanskap pariwisata pun berubah. Persaingan bisnis yang berkaitan dengan pariwisata, misalnya, memiliki peluang untuk semakin sama rata atau mencuri garis mulai (head start). Pemerintah lokal pun dapat memanfaatkan teknologi mobile untuk mendukung pariwisata lokal dengan penerapan sistem informasi pariwisata yang komperehensif, yang bisa diakses dari titik mana pun di suatu kota.
Oleh karena itu, untuk membuat kota semakin "ramah" dan "manusiawi" bagi pengunjung atau penghuninya, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan teknologi yang simultan dan dapat diakses di mana-mana, dengan menghubungkannya pada konteks & konten aktual kota sebagai ruang. Salah satu konteks & konten ini adalah sejarah, dan kita bisa membuat pengunjung semakin "menyentuh" konteks sejarah walaupun itu sudah berlalu, dengan simulasi yang diberikan oleh aplikasi ini. Kota pun memberikan pengalaman dan nafas baru di atas realita yang ada.
Placemaking is a multi-faceted approach to the planning, design and management of public spaces. Put simply, it involves looking at, listening to, and asking questions of the people who live, work and play in a particular space, to discover their needs and aspirations.
Project for Public Spaces
Perencanaan Pengembangan
Salah satu hal yang membuat saya pusing kepala adalah pengembangan aktual dari produk ini. Di samping memenuhi tuntutan konseptualisasi yang memadai, saya juga dituntut untuk menciptakan prototipe aktual (working prototype) dari Kelana Batavia.
Ini bukan pekerjaan mudah. Namun, satu hal yang cukup membantu adalah media perancangan. Cukup banyak pengembang web (web developer) di luar sana.
Saya memilih Hafiz Badrie dari Wiradipa Nusantara, yang berbasis di Bandung. Beliau akan mengerjakan sistem backend dari Kelana Batavia. Mudah-mudahan saya bisa mengejar frontend-nya sendiri.
Target saya adalah untuk membuat demonstrasi sistem registrasi, peta dan GPS serta stempel prestasi untuk kegunaan pameran di akhir semester pendek ini.
Berdasarkan pemutakhiran terakhir dari Hafiz, sistem backend registrasi dan database situs bersejarah sudah berhasil dilaksanakan.
Diskusi Jurnal
Sebenarnya ini adalah proses diskusi yang terjadi minggu lalu. Bersama dengan Faikar Izzani, seorang mahasiswa Magister Desain yang sedang mengembangkan aplikasi mobile eksplorasi museum dan Pak Alvanov Zpalanzani, salah satu dosen kami, kami berdua berencana melaksanakan riset kecil-kecilan yang hasilnya bisa dipublikasikan dalam jurnal dan data yang didapat berguna untuk keperluan tesis.
Proyek tesis Faikar dan saya memiliki konsep yang sama, yakni placemaking, yaitu pemberian nafas baru pada suatu tempat (yang bisa jadi sudah usang) dengan memanfaatkan media atau konsep tertentu, dalam hal ini kami mengangkat tema tertentu dan diaplikasikan dalam media digital.
Kami berencana untuk menulis tentang antara dua hal, yang pertama adalah latar belakang penggunaan mobile device sebagai alat eksplorasi, sedangkan yang kedua adalah pengaruh sistem penghargaan (reward system) dalam peningkatan loyalitas penggunaan produk media digital interaktif. Semuanya masih dalam tahap diskusi, dan metode penelitiannya bisa dilakukan dengan wawancara, observasi atau kajian literatur.
Arte-Polis 4 International Conference, Institut Teknologi Bandung, 5-7 Juli 2012
Setelah melalui proses seleksi tiga tahap (abstrak, peer review dan makalah final), makalah saya berjudul "Connecting the Realities of the Past and the Present Through Interactive Digital Travel Guide for Historical Highlights of Jakarta" yang ditulis bersama co-author dosen Dr. Intan Rizky Mutiaz berhasil dipresentasikan dalam sesi untuk jalur Digital Media & Information Technology dan sub-jalur Media & Placemaking, pada pukul 15.30, Kamis, 5 Juli 2012 bertempat di Lantai 4, Gedung Labtek IX Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.
Pada saat itu terdapat enam jalur presentasi paralel yang terdiri dari:
Architecture & Environmental Design
Business, Management & Entrepreneurship
Culture, Arts & Design
Digital Media & Information Technology
Education & Theoretical Discourses
Planning & Policy Development
Dalam sesi saya ada lima presentasi dari makalah-makalah yang mendiskusikan peran media digital dalam placemaking, konsep atau usaha memperbaiki atau memberi nafas baru pada ruang/tempat/lokasi tertentu.
Terima kasih kepada Bima Nurin Aulan yang sudah melakukan presentasi tentang ensiklopedia pop wayang Cirebon di jalur yang sama, yang sudah berkenan untuk mengambil foto-foto di atas untuk saya.
Contoh aplikasi mobile wisata kota yang terfokus pada suatu wilayah dan memanfaatkan audio guide dengan sangat baik.
Proses visualisasi untuk halaman menu utama dan Buku Catatan.
Kenapa Media Web?
"Media web cenderung beresiko menjadi biasa saja."
"Media web tak menjual."
"Apa istimewanya media web?"
Bagi yang tak banyak berkecimpung di dunia web, maka biasanya ia melihat tak ada yang spesial soal media ini. Media web seringkali dianaktirikan dan dipandang sebelah mata. Ia dianggap tua, usang dan tidak seistimewa media lain seperti aplikasi mobile yang sedang tren.
Kenyataannya, media web adalah media digital yang cukup sustainable dan sudah ada paling tidak 20 tahun lamanya. Tentu, sepanjang itu evolusi world wide web terjadi dengan cepat dengan berkembangnya dukungan untuk berbagai fitur multimedia.
Tentu, konsep "media web" terdengar sangat abstrak. Sebenarnya, memang tak ada bentuk yang pakem. Konsep "web" atau world wide web selalu berubah, namun intinya tetap sama: dokumen (disebut hiperteks) yang bisa diakses oleh berbagai perangkat lunak dan perangkat keras tanpa harus mengkhawatirkan platform atau sistem operasi. Media web adalah tentang aksesibilitas dan universalisme.
Aplikasi mobile, sebaliknya, menggalakkan proses perancangan yang terisolir pada satu atau dua platform/sistem operasi saja, dan seringkali tidak independen terhadap device (perangkat lunak). Dilihat dari sisi pengembangan perangkat lunak, ini bermakna setiap media, perangkat lunak dan perangkat keras harus diberi perhatian dan tenaga khusus. Coba bayangkan, setiap aplikasi harus dibuat khusus untuk Android, Apple dan BlackBerry. Media web, walaupun tidak 100% universal, karena masih juga ada perbedaan-perbedaan, menganut prinsip "code once, deploy everywhere", atau, untuk lebih sesuai dengan ranah desain: "design once, view everywhere". Satu pekerjaan, satu aplikasi dapat digunakan dan dilihat di berbagai device secara bersamaan tanpa perlu instalasi atau menjawab kebutuhan khusus bagi device atau sistem operasi tertentu!
Tapi jangan salah, saya paham sekali kelebihan dan kekurangan media web vs. media native. Ada aplikasi yang cocok untuk dibuat di web, dan ada yang cocok untuk media native. Tidak bisa pukul rata. Aplikasi native adalah sebuah pilihan, dan kadangkala kepercayaan. Di dalamnya, kita memilih untuk percaya mana: Apple, Android, BlackBerry, atau, agar tidak selalu soal mobile device, bisa juga memilih antara Microsoft Windows, Apple MacOS, atau Linux. Yang manakah yang kita percaya dapat meningkatkan nilai aplikasi kita?
Saya percaya dua hal, khususnya untuk Kelana Batavia.
Hal pertama, saya percaya bahwa media web dapat menjadi jembatan untuk penggunaan yang lebih luas. Aplikasi ini dapat diakses di mana pun dan dengan device apapun yang memiliki peramban dan terhubung ke internet.
Hal kedua, saya percaya bahwa dalam proses pengembangan perangkat lunak atau aplikasi berbasis web, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah menubuhkan eksistensi web yang kuat terlebih dahulu, baru merambah ke aplikasi native. Setiap proses pengembangan ada tahapan dan tak bisa sekaligus. Siapa yang memulai Facebook dari aplikasi mobile? Atau Foursquare?
Saya percaya pada kekuatan aksesibilitas dan masalah menarik secara visual? Itu bisa dikejar di media web!
Tentang 'Web Documentary'
Salah satu inspirasi saya untuk menggunakan media berbasis web adalah web documentary.
Web documentary adalah genre reportase atau jurnalisme yang memanfaatkan media interaktif berbentuk situs web, dengan unsur multimedia kaya seperti interaktivitas, suara, gambar statis, gambar bergerak dan teks. Berbeda dengan bentuk media dokumenter lain yang cenderung linear, web documentary memiliki teknik mendongeng interaktif, mengandalkan pesan yang disampaikan dengan lugas dan terstruktur, namun memberikan kesempatan bagi pemirsanya untuk menentukan sebagian komponen cerita melalui elemen-elemen interaktif seperti pertanyaan, pilihan/keputusan atau navigasi tertentu.
Pemirsanya memiliki sebagian kebebasan untuk menentukan dari mana ia mulai, lalu melanjutkan “perjalanan”, kemudian kembali lagi ke bagian awal, misalnya. Ia bisa berpindah-pindah hampir sesuka hati sebelum mengakhiri “perjalanan”-nya.
Berbeda dengan media interaktif lain seperti native application, mobile application atau disc-based media seperti DVD-ROM atau CD-ROM, web documentary mengandalkan teknologi web yang terhubung oleh jejaring internet. Dengan kelebihan ini, maka konten yang ada bisa (1) selalu diperbaharui, (2) diproduksi dengan biaya serendah mungkin, karena tidak membutuhkan media fisik, (3) diakses berkali-kali dari mana saja dengan alat yang bisa terhubung ke internet dan dapat membuka situs web dengan sempurna sesuai kebutuhan (system requirements), dan (4) prinsip universalisme teknologi yang digunakan, yakni bahasa pemrograman web yang dapat diimplementasikan dengan cepat dan hasilnya dapat dinikmati dengan pengalaman yang hampir konsisten atau disesuaikan pada media-media fisik yang ada di pasaran tanpa memakan waktu lama.
Web documentary ada yang dilengkapi dengan native application, terutama mobile application, seperti halnya “Prison Valley”, untuk melengkapi pengalaman menikmati atau mengkonsumsi konten dokumenter secara lebih utuh.
“Tourists don't know where they've been, travelers don't know where they're going.”
Paul Theroux
Storyboard untuk video pengenalan Kelana Batavia yang juga akan ditampilkan di situsnya nanti.
Diagram wireframe untuk melihat arsitektur dan struktur tampilan Kelana Batavia secara makro.
Seleksi Situs Historis & Prosesnya
Sebagai panduan wisata, tentunya tidak semua tempat atau objek wisata akan diulas. Setiap panduan wisata menganut sistem rekomendasi, bukan ensiklopedi, yang melakukan seleksi ketat terhadap tempat-tempat yang disarankan untuk dikunjungi oleh wisatawan.
Tidak lain dengan Kelana Batavia, saya melakukan seleksi situs historis di Jakarta yang akan saya masukkan dalam panduan wisata interaktif ini.
Secara garis besar, saya akan melakukan klasifikasi situs-situs historis Jakarta menjadi dua bagian, yakni Kota Tua dan Kota Baru.
Penentuan Kota Tua dan Kota Baru ini berdasarkan sejarah Batavia pada abad ke-16. Pada masa itu Belanda baru saja merebut kota Jayakarta yang sebelumnya dimiliki oleh Kesultanan Demak. Tujuan awal Belanda adalah untuk mendirikan basis perdagangan VOC. Mereka lantas mendirikan dinding yang melindungi sekitar 15 hektar kota tersebut. Kota di dalam dinding inilah yang sekarang kita sebut Kota Tua.
Kota Baru dimulai pada abad ke-16 juga, ketika kota Batavia berkembang karena Kota Tua dianggap tidak higienis dan menjadi sumber penyakit tropis. Banyak kaum kolonialis juga mendirikan tempat pemukiman di luar, terutama ke daerah Weltevreden (sekarang disebut sebagai daerah dari dataran Monumen Nasional sampai ke Jatinegara, melalui Jl. Salemba Raya).
Kenapa harus memasukkan situs-situs historis dari kedua daerah tersebut? Agar pemahaman terhadap sejarah Jakarta tetap utuh, dan banyak dari situs-situs sejarah di luar Kota Tua semakin hilang ditelan pembangunan. Paling tidak, kita bisa meratapi "sisa-sisa"-nya, melihat sedikit ke jendela masa lalu melalui fisik masa kini.
Berikut adalah hasil seleksi situs-situs historis baik dari Kota Tua maupun Kota Baru. Sistem rekomendasi ini didasarkan pada signifikansi historis dan dokumentasi yang tersedia.
Kota Tua
Mesjid Luar Batang
Pelabuhan Sunda Kelapa
Pasar Ikan
Museum Maritim
Menara Syahbandar
Jembatan Gantung Kota Intan
Kali Besar (Grootegracht)
Gereja Sion
Museum Wayang
Dataran Fatahillah
Museum Seni Rupa dan Keramik
Museum Fatahillah
Kafe Batavia
Toko Merah
Gedung Bank Chartered
Museum Bank Indonesia
Museum Bank Mandiri
Stasiun Kereta Api Jakarta Kota
Glodok dan Pinangsia
Petak Sembilan
Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti)
Gedung Chandrayana
Gerbang Amsterdam
Kota Baru
Pelabuhan Tandjung Priok
Stasiun Kereta Api Tandjung Priok
Monumen Nasional
Stasiun Kereta Api Gambir
Stasiun Kereta Api Jatinegara
Jl. Salemba Raya
Gedung PGRI Cikini
Taman Ismail Marzuki
Istana Negara
Gedung Kementerian Keuangan
Lapangan Banteng
Mesjid Istiqlal
Menteng
Jl. Hayam Wuruk
Jl. Gajah Mada
Museum Nasional
Duta Merlin (Hotel Des Indes)
Pasar Baru
Jl. Majapahit
Jl. Medan Merdeka Selatan
Jl. Medan Merdeka Barat
Jl. Medan Merdeka Timur
Gereja Imanuel
Gereja Katedral
Galeri Nasional