Belajar Percaya Sama Allah
Di masa-masa skripsian ini, sebut saja menuju ujung perjuangan dan akhir dari drama yang panjang, setelah dikhidmati lama dan merenung dalam, satu-satunya penghalang terbesarku dalam menjalani prosesnya selama ini adalah diriku sendiri.
Dari aku yang dahulu selalu mondar-mandir dari urusan organisasi yang satu ke organisasi yang lain, dari aku yang selalu menjadi manusia super people-oriented, menjadi aku yang akhirnya mau tak mau harus peduli dengan urusanku sendiri. Tapi bukan berarti dahulu aku lupa dengan urusanku. Hanya saja, dalam proses yang insyaAllah akan segera berakhir ini aku diminta untuk benar-benar melihat diriku sendiri secara jernih.
Dalam proses melihat diri sendiri ini ternyata butuh kekuatan ekstra. Dan dahulu kekuatan itu selalu datang dari teman-teman di sekitarku. Ketika aku butuh untuk didengarkan, akan kuhubungi salah seorang teman dan membuka forum deep-talk bersamanya. Ketika aku butuh untuk memenuhi raga ke-ekstrovert-anku, kan ku temui satu-persatu temanku hingga energiku kembali purna.
Tapi sejak masa pandemi ini bermula dan akhirnya satu-persatu dari orang-orang terdekatku di perantauan pulang ke rumah begitu juga denganku, aku kehilangan pegangan. Hingga 2 bulan kurang tak ku sentuh skripsi sedikit pun. Dalam 2 bulan itu aku habiskan untuk bertanya pada diriku sendiri,
"apa yang harus aku lakukan agar aku mampu?"
"apa yang harus aku lakukan agar aku berhasil menyelesaikannya tanpa ada teman yang bisa ditemui secara langsung atau bahkan kehilangan selera untuk menghubungi seseorang?"
Pertanyaan demi pertanyaan hadir begitu saja. Kian lama pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu berubah menjadi sebuah ketakutan yang tidak pernah diharapkan. Ketakutan akan perjalanan yang harus dilakukan seorang diri ini melahirkan luka-luka baru. Ketakutan akan ketidakpercayaan diri terhadap apa yang sedang dijalani.
Ketakutan demi ketakutan yang pernah hadir seperti sebuah momen di mana aku lupa kepada siapa seharusnya aku berpegang. Berkali-kali putus asa sebelum berdiri lagi, berkali-kali juga mundur sebelum mengambil langkah maju. Saat itu aku merasa seperti berada di dalam sosok yang toxic. Sosok yang tidak pernah aku harapkan. Sosok yang tidak pernah aku kira akan masuk ke dalam drama yang belum usai ini.
Hingga Ramadhan 1441 H datang dengan aku yang mencoba untuk berdiri lagi dan membangun titik balikku sendiri. Ku persiapkan amunisi terbaik dengan sekian buku yang ku tata rapih di atas meja untuk ku baca selama Ramadhan. Ku reset agenda baru untuk membaca terjemahan Quran setiap kali selesai membacanya di setiap harinya. Dan hasilnya?
Di sinilah aku sekarang. Buku-buku itu telah berhasil menasihatiku dengam baik dan bijak. Yang tanpa aku sadari, dari sekian buku yang kubaca selama Ramadhan, kebanyakannya adalah buku yang membahas tentang "hati". Terjemahan demi terjemahan yang kubaca dari Alquran pun seakan menepuk pundak dan datang dengan sekian kalimat tentang "jatuh cinta kepada-Nya sekali lagi."
Ribuan nasihat turun dan mendekap hati yang sedang patah dengan bijak. Ia seakan sudah mendengarkan ribuan cerita putus asaku dan datang pada waktu yang tepat.
bahwa semua pertanyaanku seharusnya sudah ku ketahui jawabannya dari awal. Semua pertanyaan itu, pada akhirnya, selalu bermuara kepada Yang Maha Baik.
Dari sini aku akhirnya juga sadar bahwa aku sedang diminta untuk belajar percaya pada-Nya. Diminta untuk memurnakan cinta dengan seutuh-utuhnya lewat proses yang membawaku naik-turun di dunia-Nya. Disadarkan bahwa ketika aku kehilangan pegangan dan butuh kekuatan ekstra untuk mau dan mampu melakukan perjalanan, aku hanya butuh Dia untuk membalut semua bagian yang telah tersayat dari aku yang terluka.
Akhirnya aku paham, bahwa pada rukun iman pertama yang berisi ; iman kepada Allah, adalah memurnakan hati dan raga seutuhnya kepada-Nya. Tanpa perlu mempertanyakan lagi tentang segala hal yang bahkan belum terjadi. Tanpa perlu menghabiskan ribuan detik hanya untuk mencari jawaban dari, 'mampukah aku?' sedang di dalam ayat-Nya telah ditulis permanen bahwa apa-apa yang kita hadapi selalu sesuai dengan kemampuan kita, hamba-Nya yang dhoif.
Ternyata beginilah cara Allah membimbing kita di bumi. Bagaimana Allah selalu ada membersamai kita. Bagaimana Allah meminta kita untuk terus belajar dari apa-apa yang sedang kita jalani dan hadapi. Bagaimana Allah menanamkan pemahaman kepada kita, bahwa selalu ada sisi baik yang harus kita tanamkan sejak lama hingga satu-persatu dari rukun iman berhasil menjadikan kita muslim yang mu'min.
Belajar percaya sama Allah memang tidak akan mudah prosesnya. Tapi yang tidak mudah itu indah. Akan kamu dapati bagaimana hatimu akan menyadari bahwa cinta Allah selalu bersamamu.
Tiga kali tepuk pundak untuk kamu yang sedang berjuang 🌻
Bukittinggi, 24 Juni 2020/ 00.22 wib/ setelah skripsian malam ini usai