COCO
Kemarin sedang berkesempatan menikmati libur ala ala anak FK yang menunggu nilai keluar, iya libur yang terjadang cuma sehari dua hari dalam berbulan-bulan jadwal yang cukup padat.
Akhirnya, kembali menginjakkan kaki ke bioskop. Ini kegiatan yang sangat saya hindari berbulan bulan ini. Alasannya, sederhana. Abang Ganteng saya sudah mulai melupakan bioskop, jadi buat apa saya mengingatkannya pada tempat itu, yang sekali ia bisa ketagihan, maka esok lusa ia akan gemar mengajak kaki saya melangkah ke situ.
Tapi rupanya, menahan untuk tidak menonton Coco adalah takdir yang hanya tentang penundaan waktu.
Setelah seminggu lebih menunda, kemarin siang kami pun menontonnya !
1. Si Abang Ganteng berhasil berkonsentrasi duduk tenang hingga film selesai, bagi saya ini kemajuan untuknya.
2. Si Abang Ganteng ini bisa mengingat alur cerita Coco dan berkesan dengan film tersebut ! Ini yang membuat saya senang. Di akhir film, kami jalan ke parkiran dengan dia berkata, "aku Mama Coco."
Saya tidak ingin spoiler atas cerita Coco.
Tapi saya katakan, film ini benar-benar cocok untuk menjadi point of view, sudut pandang bagaimana kita sebagai seorang anak sudah sepantasnya hanya dan hanya boleh mengingat segala kenangan baik dan kenangan manis bersama orangtua kita. Terlebih lagi, pada sosok Ayah yang seringkali tidak punya banyak waktu dengan kita.
Di film itu, saya menangis. Ketika kasih sayang Ayah Coco dan Coco terikat tak lekang oleh waktu bahkan ketika keduanya telah berpisah alam, tak hanya berpisah jarak dan waktu. Tapi beda dunia !
Bahkkan di film tersebut, Coco yang beranjak tua, menjadi lansia yang kemudian memiliki keterbatasan dalam mengingat, melupakan semua bahkan nama anak-cucu yang ada disekelilingnya, tetapi tetap mengingat kekal tentang Ayahnya! Tentang cinta dan kasih Ayah kepadanya.
Terkadang, takdir agak kejam memisahkan anak dengan orangtuanya, dengan Ayahnya utamanya. Karena sejatinya memang ladang jihad mereka di luar rumah sana, mencari rejeki halal untuk anak istrinya di rumah. Dan atas hal itu, tangan-tangan yang mengeras lantaran bekerja untuk mencukupi kebutuhan anak istrinya di rumah adl tangan-tangan yang dipuji oleh Rasul, tangan tangan yang kelal akan bersaksi di akhirat, kurang lebih begitu sabda sang Baginda Rasul.
Maka, bila kita bagian dari takdir yang agal kejam tadi, menjadi anak-anak yang berkorban kebersamaan dengan Ayah Ibu, semoga Ayah dan Ibu kita diberikan umur panjang, diberikan kesehatan diberikan cinta dan kasih sayang dari ALLAH, sehingga kebersamaan dengan mereka di dunia dapat berlangsung hingga anak cucu dapat lahir ke dunia. Lalu kita dapat berkata pada mereka, "ini, keturunan yang akan meneruskan perjuangan Ayah Ibu membangun peradaban. Menjadi rahmat bagi semesta alam."
Rumah. 19Des17















