Rencana-Nya (1)
Pernah mendoakan seseorang hingga menjadi kebiasaan itu terjadi beberapa tahun yg lalu. Kenapa saya sebut kebiasaan? Karena saya sering mendoakannya di setiap kesempatan hingga tanpa sadar jadi sebuah kebiasaan. Sehabis sholat, di waktu-waktu mustajab untuk berdoa, dan disaat saya rindu dia lalu saya sadar bahwa tidak ada yg bisa saya lakukan saat itu selain menyapanya lewat doa.
Doa saya seperti ini "jika memang dia yg terbaik untuk saya, maka dekatkan kami dengan cara terbaikmu, Ya Allah. Jika memang bukan, bantu saya agar bisa menahan perasaan ini dan persatukan ia dengan yg terbaik menurut-Mu".
"Saya hanya bisa mencintai, urusan bersama atau tidaknya, itu tidak ada dalam kuasa saya" Pikirku kala itu.
Dia teman saya di kampus. Kami berada di organisasi yg sama. Perempuan yg baik dalam perspektif saya. Cerdas dalam akademis juga secara emosional. Pandai menjaga kata-kata dan pandangannya.
Entah bagaimana caranya saya menaruh hati padanya secara diam-diam.
Semakin hari semakin saya terpesona oleh kepribadiannya. Hingga satu waktu saya memutuskan untuk mendoakan orang ini.
Saya lulus.
Kami menjadi jarang bertemu karena kondisi saya sudah tidak dikampus dan memiliki kesibukan masing-masing. Waktu terus berlalu tapi perasaan saya tetap sama. Tidak berubah sedikitpun. Masih namanya yg saya sebut. Makin hari rindunya makin bertambah. Hanya dengan melihat story-nya membuat rindunya bertambah berkali-kali lipat.
Sayapun masih terus setia merawat doa itu.
Hingga, tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk. Lalu saya membuka pesan itu, dan Deg! pesan itu adalah undangan pernikahannya. Saya coba baca kembali dan memastikannya. Iya, tenyata itu memang dia.
Benar.
Setelah itu banyak teman organisasi yang me-repost dan mengucapkan selamat.
Lalu saya balas pesan tersebut dengan mendoakan agar lancar sampai hari H. Setelah itu saya letakkan kembali handphone mencoba mengatur nafas dan detak jantung yg serasa berdetak cepat.
Satu kenyataan yg saya terima. Bahwa ternyata dia sudah memiliki orang yg spesial selama ini. Saya hanya tidak melihat hal itu. Saya terlalu optimis jika dia belum memiliki orang spesial. Hingga hari itu saya melihat bahwa ia telah dijemput oleh lelaki yg ia dambakan dengan cara yg elegan. Menikah.
Dan setelah tenang saya membesarkan hati dan menyadari agar mulai menghentikan kebiasaan mendoakannya.
Dia bukan untuk saya.
Berat tapi harus. Saya hapus pesan-pesan saya bersama dia atau hasil screenshot hal-hal yg pernah ia posting. Saya berupaya untuk mengusir jejaknya tanpa sisa.
Hingga, saat hari H itu tiba ketika dia menikah.
Saya tersenyum,
"Selesai sudah saya mencintaimu,"
hanya bisa mendoakan yg terbaik untuknya.
Tuhan, saya percaya, takdirmu selalu baik.














