Aku rasa ini tidak sepadan.
Beban-beban yang sengaja harus dipikul, dipaksa sukarela sebab segala mengandung hikmah—aku kelelahan. Ingin kupuja air terjun dan merenungi alam. Ingin aku terhanyut pada debur ombak yang berlomba memukul karang. Sepoi angin di puncak menara lalu menjerit suka tatkala wahananya ditarik gaya.
Tapi aku tak mampu. Tetes keringatku tak membawa ke satu tempat apa pun. Untuk sekadar berpikir maupun bersenang-senang. Semua habis. Habis.
Pada tagihan menggunung, bulanan yang tak pernah kunanti tapi terjadi, kewajiban-kewajiban yang tak kunjung tertunai.
Aku kelelahan. Jiwaku merintih kesakitan. Berkali-kali diminta mensyukuri segala nikmat tapi lagi-lagi terluka. Memang dasarnya jauh dari agama, jadi segala keluh tentang dunia.
Kepalaku habis dibuat berpikir bagaimana mencari tambahan. Telingaku habis mendengarkan curhat derita orang-orang. Hatiku, habis, tak mudah lagi bersimpati—aku kehabisan. Aku mati dalam kehidupan. Jiwaku sekarat teronggok dalam raga berkarat. Tak tahu bagaimana bertahan, tapi tak pernah menyerah, meski mataku berat dan sembab, langkahku tak sekalipun goyah.
Tapi, aku, ingin sejenak melepas segala resah. Beban dan tanggungjawab, aku ingin kembali menjadi anak-anak. Tanpa tuntutan kecuali pulang sebelum tiba senja. Makanan harus habis sebab tak ingin masuk neraka. Tawa yang murni, duka yang sebentar, semua tentang suka.
Batinku kerap merintih minta pertolongan. Tapi memang akunya saja yang tak peka, melihat hanya yang kurang, sehingga tak berbekas segala baik dan lebih; bahwa aku senilai semesta dan penuh cinta.
Bekasi, 27 April 2021
Mataku sakit







