Dingin
#Bagian 06#
Tibalah kami di ruang rawat inap, beberapa perawat maju ke arah ku dan mengambil alih korsi yang di dorong perawat dari UGD, ku lihat tiga orang perawat ini seperti nya anak magang masih imut-imut dan masih cengengesan juga.
Kamar"mawar" Begitulah tulisan ruangan yang berukuran 8x8 itu. Kulihat isinya ada 4 kasur pasien, semuanya kosong tak ada yang menempati kecuali satu kasur yaitu kasur untuk ku. Sepi, walau terdengar nyaring dari luar sana suara tadarrus orang-orang sehabis tarawih, hanya saja timbul tenggelam terbawa angin malam.
Suami menelepon kakakku yang sedari siang tadi mungkin mencemaskan keadaan ini. Kakak menunggu di rumah ku dengan 3 keponakan yang umur 9 tahunan dan 1 balita, seperti nya kakak udah masak banyak, karena dikiranya kami akan kembali pulang dan aku tidak langsung di rawat inap.
Sehabis Isya, suami pulang membawa baju mamah dan juga baju ku. Tidak lupa secuil tikar untuk tilam tidur mamah dan suami. Saat suami datang kembali alhamdulillah pasien yang lain berdatangan. Mamah pun ikut senang.
Malam kian larut, udara dingin menyelinap ventilasi membelai kami yang sedang tidur perlahan masuk ke tulang. Nyeep, begitu sangat dingin. Kulihat mamah dan suami di bawah, mereka menggigil. Air mataku pun menetes, semoga Allah melindungi mereka. Aku menyayangi mereka, selayaknya mereka menyayangi ku juga.










