Sebuah temu yang tanpa rencana, tanpa mimpi, tanpa banyak prediksi. Skenario semesta menggiringku pada episode aku bertemu dengan identitasku dulu, yang mungkin sebagian aku lupa menyeluruhkannya pada diriku. Yang lama aku lupakan, tentang kedamaian. Perjalanan menyampaikanku pada chapter dimana akal sehat diuji dan tak tahu diri minta diganti. Dikira ini jual beli besi? Pikir yang membelit tanpa memberiku ijin pamit, halang yang tumpang tindih tak temukan jalan, patah arang yang mengutus sumpah serapahku keluar tanpa tahu itu sangat disayangkan. Aku pada titik terendahku, pada segala keputusasaan, pada ketidaktahuan, seluruhnya aku khatam. Pertemuan ini, pertemuan tanpa prediksi ini, pertemuan yang harus kubalas dengan segenap diriku untuk tak sekedar bersungguh-sungguh, tapi juga menyerahkan segala hidupku untuk keluarga terkasih. Aku, diberi ijin untuk bertegur sapa dengan damai yang bernama kembali pulang kepada Tuhan. Bukan aku tak berkeyakinan sebelum-sebelumnya. Namun melalui pertemuan ini, aku ditegur untuk berhenti beribadah karena ada yang dimau. Kecintaanmu seberapa besarnya ndrak? Untuk Sang Pemberi Hidup yang tak pernah menagihkan padamu billing oksigen yang 27th kamu hirup. Berhentilah untuk mendikte Tuhan dengan meminta segala hidupmu sempurna, sempurna dari sudut pandangmu di level manusia ndrak. Pertemuan ini, mengharuskanku berucap terima dan kasih atas pertemuan yang awalnya memberi kesan kau adalah anak remaja merajai kebaperan, namun didalamnya berotak beberapa milenium kedepan. Terimakasih @hobingetik, kau diangkat sebagai Maha Guruku sekarang!