Selain kemacetan, perselisihan dan demo, tak bisa dipungkiri bahwa Ibukota menawarkan ruang kreatifitas yang luas. Ya semacam pentas-pentas teater ini. Kalau rajin ke TIM buat kepo jadwal tayang teater yang main di Hall nya, bakal bisa dapat banyak dari yang gratisan hingga yang berbayar.
Beberapa teater yang pernah kukunjungi : Sabdo Pandito Rakjat, Hakim Sarmin, Pesta Para Pencuri, Laskar Bayaran, Brigade Orgil, Orang-Orang Berduit. Ini untuk Teater Gandrik yang digawangi oleh Butet Kertarajasa. Temanya kebanyakan kritikan untuk pemerintah, juga menggambarkan keadaan yang sedang berlangsung misalnya kemarin pas pemilukada DKI yang super rame itu juga sempat diangkat dalam salah satu teaternya. Lalu isu korupsi, perebutan kekuasaan, tipu-menipu dan segala hal yang relevan dengan keadaan masyarakat sekarang.
Selain itu juga ada teater koma seperti lakon Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat dan Gemintang. Teaternya lebih ramai pementasannya karena pemainnya lebih banyak dibandingkan teater gandrik. Dan relatif lebih mikir dibandingkan teater gandrik yang relatif ringan. Kalau Koma harus fokus dari awal sampai akhir. Isu yang diangkat juga macam-macam dari pernikahan beda budaya, korupsi, budaya Indonesia yang semakin tergerus, pengkhianatan, perebutan kekuasaan dan lain-lain.
Lalu ada pula teater yang digawangi oleh Titimangsa Foundation yang biasanya pemainnya adalah artis yang sudah kita kenal. Biasanya sedikit pemainnya paling hanya 4-7 orang. Cerita yang diangkat biasanya dari buku/tokoh seperti bunga penutup abad yang diambil dari buku tetralogi Burunya Pram, lalu ada juga perempuan-perempuan Chairil yang mengangkat kisah Chairil Anwar pada sudut pandang kehidupan romannya.
Kalau bosan dengan tayangan televisi bisa banget diganti sama nonton teater, semacam menyadarkan kembali bahwa masih ada yang berjuang untuk berkarya dengan sebenarnya.















