Apakah menikah menyenangkan?
Tergantung kepada siapa dan bagaimana orang yang kamu nikahi. Juga tergantung bagaimana kamu menyikapi segala sesuatu yang terjadi selama menikah.
Tapi buatku, pernikahan adalah fase yang menyenangkan sekaligus challenging. Menyenangkan karena aku menikahi seseorang yang menurutku secara preferensi fisik dan sifat tepat bagiku.
Challenging karena aku merasakan bahwa dengan preferensi yang tepat menurutku, aku cukup kewalahan dengan segala proses adaptasi dan penyesuaian yang terjadi.
Aku baru menyadari bahwa sifat-sifat menyebalkan yang ada pada diriku memang perlu diperbaiki (wkwkwkwkwk). Aku belajar banyak tentang menyampaikan pendapat dan keinginan kepada pasanganku. Kadang wanita itu memang maunya dimengerti tetapi tanpa menjabarkan latar belakang, tujuan, dan permasalahan dengan runtut. Runtut disini dalam artian agar supaya pasangan kita berada pada sudut pandang yang sama dengan kita, sehingga dapat mengerti apa yang kita pikirkan, dan harapannya bisa memberikan respon yang sesuai.
Nah respon ini kadang sesuai harapan tetapi kebanyakan tidak sesuai harapanku. Wkwkwkwk.. Makanya kembali aku belajar untuk menyampaikan "ini lho maksudku dan aku inginnya seperti ini".
Dan dari situlah kita saling belajar untuk mengerti cara berpikir satu sama lain. Jangan pernah berharap jika kehidupan pernikahan akan selalu lancar dan semulus jalan tol. Ya tidak begitu konsepnya ya hidup di dunia. Gak usahlah urusan pernikahan, urusan hidup lainnya kan ya pasti ada naik turunnya, sebal senangnya, capeknya.
Maka temukanlah manusia yang bisa berjalan bersama kita untuk melalui semuanya bersama dan sama-sama berusaha untuk membangun hubungan yang baik. Kata pepatah kan cinta itu diusahakan, dirawat, dipetik hasilnya. Seperti tanaman. Kadang ada fase usahanya, fase merawatnya, fase memetik hasilnya. Begitu terus hingga maut memisahkan.
Selamat berjalan, aku dan suamiku :)