TEH SORE <Bag. Lengkap>
“Boleh nanya nggak?”, katanya seraya menyodorkan secangkir teh hangat ke tangan Nan. Nan tak pernah mengetahui mengapa untuk bertanya sebelumnya harus diawali dengan pertanyaan. “Sebenarnya, sedang malas menjawab pertanyaan”, jawabnya terdengar seringan mungkin. Dia tak pernah mau repot-repot dengan urusan tetek bengek yang dia tak bisa pahami. “Oh begitu ya.” Penolakan adalah respon pertama yang dapat diterka Rie dari Nan. Rie tahu Nan tak menyukai kerepotan, tapi dia tahu tanpa kerepotan tak akan ada awalan. “Ayolah sekali ini saja jangan malas,” balas Rie dengan berusaha santai. Nan sedikit kaget mengetahui kata-kata itu keluar dari mulut Rie. Nan mengenal Rie sebagai orang yang tak memaksa; bukan karena kelemahan hati, tapi karena dia suka memberi ruang bagi orang lain. “Kalau ini hanya pendekatan supaya mengenal lebih dekat, aku tidak tertarik” jawab Nan menolak dengan dingin. “Tenang saja, ini bukan pendekatan. Kalau aku ingin mendekatimu pasti sudah ku lakukan sejak lama” “Kenapa tidak?” “Eh? Kau sebenarnya ingin didekati dari sejak lama?” “Bukan itu. Aku mempertanyakan kalau ini bukan pendekatan terus apa namanya? Eh tapi bener juga, kenapa kau tidak melakukan pendekatan sejak dulu?” “Ooh…anggap aja ini momen untuk dinikmati bersama orang lain,” katanya seraya menunjuk hujan dibalik kaca. Hujan diluar terlihat deras, namun kaca mampu meredam suara sebagai penanda hujan deras. “Soal kenapa aku tidak mendekatimu sejak dulu, karena aku tahu kau akan menjauh ketika didekati,”lanjut Rie menjelaskan. Nan sudah menduga sejak dulu, orang yang disampingnya kini adalah orang aneh. Rie bagi Nan adalah orang yang terlalu bersemangat. Nan juga sadar, diantara teman kerjanya, Rie adalah orang yang paling peka atas sekitarnya. Namun Nan tak menyangka Rie memperhatikannya. Tak sekalipun selama dua tahun sejak awal pertemuan dia dengannya, mereka berbincang ringan. Tak ada ruginya, mungkin ini akan jadi yang pertama dan terakhir, pikirnya. “Apa yang kamu mau tahu?” tantang Nan singkat. “Pernah jatuh cinta?”, tanya Rie lugas dan padat. Nan berpikir, pertanyaan itu adalah pertanyaan paling bodoh yang diterimanya hari ini. Hari ini terlalu dingin untuk membicarakan masalah perasaan cinta. Bukan dingin karena suhu di luar, tapi karena suhu ruangan yang dirambari dingin AC. “Jujur atau bohong?” tanya Nan balik sembali menyorotkan ekspresi mata yang mempertanyakan keseriusan pertanyaan yang diutarakannya. “Bohong aja” Jawaban Rie membuat Nan semakin bingung; antara percaya dan tidak, “kamu serius?” Senyuman Rie mengiyakan pertanyaannya. Masih bingung tapi Nan kemudian memutuskan untuk menjawab. “Oke…Aku sedang jatuh cinta saat ini” “Oh ya?” Dia hanya mengangguk seraya mendekatkan bibir cangkir ke bibirnya, menyeruput teh hangat yang perlahan mendingin. “Aku tahu orang yang beruntung itu?” “Entahlah. Mungkin ya, mungkin nggak”, jawabnya sembari mendesah lelah. “Tapi aku berharap kau tahu”, sambungnya kemudian. Heran mendengar jawaban itu. Lebih heran lagi ketika Rie menatap Nan. Mata Nan tertuju air teh di dalam cangkir yang Ia pegang dengan kedua telapak tangannya. Cahaya luar memperlihatkan siluet garis tubuhnya yang khusuk. Dalam kepadaman yang sedikit diterangi lampu jalan, perlahan ekspresi wajahnya melembut. “Kenapa begitu?” bingung Rie, “Kau berharap aku tahu apa?” “Ah! Lupakan saja” singkat Nan “Lalu apa dia tahu kamu cinta dia” “Pastinya dia tahu. Dia selalu tahu. Dia meyakini itu. Jikapun dia di titik meragu, dia akan kembali menatap diriku lekat-lekat hingga dia merasakan aku memeluknya, melingkupinya, menemaninya kala tidur. Merasa aman dan nyaman hingga esok pagi kala setitik cahaya mengawali hari.” “Ini bohong kan?” Tawa kecil terdengar oleh Rie. “Kamu kan yang minta dibohongi” “Bohong kok syahdu. Terlalu indah kedengarannya” katanya mengolok-ngolok Dengan senyum simpul di garis bibir, Nan kembali menatap air di dalam gelasnya. “Buatku kebohongan harus indah, harus manis rasanya. Kadang kala…sering malah kita mempercayai kebohongan sebagai sesuatu yang nyata.Kebenaran dari namanya saja sudah terdengar pahit. Dengan memegang manis dan indahnya kebohongan orang bisa menjalani hidup sehari-harinya dengan enteng.Bukankah begitu?” Awalnya,pertanyaannya bukan dimaksudkan untuk mendengar kata-kata yang menyentakkan hati, walaupun Rie sudah mempersiapkan untuk itu. Tapi menghadapi kenyataan di depan mata, membuat dia mempertanyakan kembali keberanian hatinya. Dia tahu betul kebenaran pahit rasanya. Tak pernah sanggup sesungguhnya dia menelan kepahitan.Bahkan pahit obat saja tak sanggup dia telan tanpa pisang sebagai pemati rasa. “Kebenaran memang pahit, tapi aku nggak mau hidup dalam bayangan kebohongan. Hidup macam apa itu!” balasnya dengan wajah kecut. Nan tertawa, tawa lega. “Senangnya masih ada orang sepertimu” “Maksudnya?” “Kamu…masih memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran.” Jika saja Nan tahu perasaan gentarnya, mungkin dia akan menarik pernyataannya. Tak ingin ketahuan, Rie menutupi kegentarannya dengan menghisap teh manis di dalam cangkir. Hening setelahnya. Mereka tak satupun mengeluarkan satupun kata. Dalam sedikit terang, mereka tenang.Dalam diam tak memikirkan kerumitan. Dalam diam menatap keluar. Tenggelam dalam suara hujan, menghayati guyuran hujan yang belum ada tanda menipis. “Apakah kau pernah jatuh cinta?” tanya Nan memecah keheningan Rie tersenyum kecil ditanya demikian, “bohong atau jujur?” Sebenarnya Rie mempersiapkan diri untuk pertanyaan ini. Nan adalah tipe orang yang balik bertanya dengan pertanyaan yang sama yang disodorkan kepadanya. “Terserah, apa saja boleh.” “Aku sedang jatuh cinta saat ini.” “Beruntung berarti orang itu” “Karena…?” “Iya, dicintai oleh orang yang cantik, pintar, menarik seperti dirimu. Apa itu bukan berarti beruntung.” “Cintaku bertepuk sebelah tangan. Kamu tahu itu berarti tak terdengar suara tepuk tangan,” ucap Rie meringankan rasa pedih dibalik kata-katanya. Nan terdiam. Ia tidak tahu apapun tentang cinta tak bersambut. “Aku tahu ia tidak mencintaiku. Sering aku mendapatinya menatap lembut dari jauh orang yang ia cintai. Mulanya aku kira itu adalah cinta sepihak. Ternyata aku salah. Suatu kali aku melihat kedua bertemu mata, singkat saja, sedetik mungkin. Tapi kesan tatap mata itu sebegitu kuat. Tak sanggup aku tampik kebenaran di depan mata; mereka saling mencinta.” “Berarti orang yang kamu cintai sudah punya kekasih?” tanya Nan berusaha meringankan bobot muatan pertanyannya. “Kekasih ya?? Iya mungkin itu adalah kata yang tepat. Aku berharap kamu bertanya “pacar”. Jika mereka berpacaran, aku tak akan sedemikian berat hati. Mereka saling mencintai, sepasang kekasih, tapi tak berlabuh bersama. Kadang aku mencemooh itu semua. Bagaimana mungkin saling mencintai tapi tak bersama?” Ingin sekali Nan mendebat Rie. Tapi Nan sadar tak ada gunanya. Bukan buat Rie melainkan untuk dirinya. Kehangatan air teh yang tersisa di cangkir pun raib bersama waktu dan dingin. Tiba-tiba Rie berujar, “Kenapa tidak kau cintai aku saja, Nan?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Desakan dari tubuhnya yang kecil—yang entah muncul dari mana—tak sanggup dia tahan. Begitu saja meluncur keluar kalimat itu. Langit mulai terang. Walaupun malam tidak menawarkan terang pada ruangan yang terbalut padam itu. Darinya, dia menyembunyikan wajah. Darinya Ia menyembunyikan ketakutan—takut atas respon, takut atas kebenaran, takut akan kepahitan—terlihat. Nan terkejut mendengar pertanyaan Rie. Dia hanya bisa diam membeku seraya menatap balutan gelap pada tubuh Rie Sekilas, Nan merasa melihat sekujur tubuh Rie bergetar menahan luapan emosinya. Sunyi, hanya degup jantung yang terasa kencang terdengar di telinga. “Lupakan saja…barangkali itu yang tepat. Tak ada apapun yang bisa ditindaki saat ini. Salahku selama ini menahan diri menyatakan perasaanku padamu. Ketakutan sepertinya…ah tidak itu adalah kebodohan. Aku membuang waktu dengan menghayati kepedihan cinta tak bersambut ini. Sekarang aku tak mempunyai kemewahan waktu lagi. Aku telah membuat keputusan.” Nan tetap tak bergeming dari tempat kakinya berpijak. “Biar kenangan ini aku simpan baik-baik. Aku hanya akan merawatnya, tak ada yang lain bisa ku lakukan.” Setelah itu Rie beranjak pergi meninggalkan Nan sendiri di ruangan gelap itu.















