Travel too far only to change. Question every sleep: Are we there yet?
Akasha
Cosimo Galluzzi
Lint Roller? I Barely Know Her
Show & Tell
Jules of Nature
Stranger Things

❣ Chile in a Photography ❣
No title available

ellievsbear
almost home
ojovivo
todays bird

JVL

roma★

Discoholic 🪩
we're not kids anymore.
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

JBB: An Artblog!

No title available
🪼

Kaledo Art
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from Greece
seen from Pakistan

seen from United States
seen from United States
seen from Cambodia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Netherlands

seen from Türkiye

seen from Lithuania
seen from United States
seen from United States
@manbehindthewall
Travel too far only to change. Question every sleep: Are we there yet?
Akasha
Apa yang ada dibenakmu jika aku berada ditempat yang belum aku datangi? atau kita tinggal kenangan sekarang
c o b b
Daily reminder!
Layla
Sudah ratus-ratus tahun yang lalu, Kota di tengah lautan pasir, Seorang gadis tinggal disana mungkin kamu mengenalnya Dengan nama Layla; Dan gadis ini dia hidup tanpa pemikiran lain selain mencintai dan dicintai oleh seorang pemuda biasa. Si pemuda dahulu masih kanak-kanak dan layla pun masih kanak-kanak, Kota di tengah lautan pasir ini, Tapi mereka mencintai dengan cinta yang lebih dari cinta— Si pemuda dan Laylanya— Dengan cinta itu para malaikat sayap malaikat Tertarik padanya dan dia. Dan inilah alasannya, sejak dulu, Kota di tengah lautan pasir ini, Angin bertiup dari awan, menyejukkan Laylanya yang jelita; Sehingga saudara-saudaranya yang bangsawan datang Dan membuatnya menjauh darinya, Untuk membuatnya diam dalam ruang makam Kota di tengah lautan pasir ini. Para malaikat, tidak setengahnya berbahagia di langit, menjadi iri padanya dan dia— Ya! —Karena itulah alasannya (seperti yang diketahui semua orang, Kota di tengah lautan pasir ini) Maka datanglah angin dari balik awan di malam hari, Mengejutkan dan membunuh Laylanya. Tapi cinta mereka jauh lebih kuat daripada cinta itu sendiri. Dari mereka yang lebih tua dari mereka— Jauh lebih bijak dari mereka— Dan tidak ada malaikat di langit sana Atau iblis-iblis di bawah permukaan bumi Tak kan pernah dapat memisahkan jiwa pemuda itu dari jiwa Layla yang jelita itu; Karena bulan tidak pernah bersinar, tanpa membawakannya mimpi Dari Layla yang jelita; Dan bintang-bintang tidak pernah terbit, tetapi aku merasakan mata yang cerah Dari Layla yang jelita; Jadi, sepanjang malam, si pemuda berbaring di samping Tentang sayangku—sayangku—hidupku dan pengantinku, Dalam kuburnya ada ditepian kota— Dalam pemakamannya dikelilingi lautan pasir.
Forever isn't for everyone... Is forever for you?
boy behind the wall
Girl
Roses are Red
Violets are Blue
Stop the world cause,
I wanna get off with you
RAHIM
Kamu bersembunyi dimana? Gelapkah jalan yang kau capai untuk menujuku? Beratkah langkah yang kau tempuh sehingga terasa melelahkan setiap tapak yang menjejak? Apakah hatimu mulai bertanya tanya dan merubah haluan?
Sabarlah wahai kamu yang sedang menjaga. Selayaknya setiap perjalanan akan membutuhkan pengorbanan. Seperti yang mereka selalu katakan, ada harga yang mesti kita bayar untuk mendapatkan hasil yang manis.
Kamu sudah sampai dimana? Apakah kamu merasa perjalanan mu akan tidak menemukan titik temu? Percayalah, aku pun disini sama putus asanya seperti dirimu.
Tapi keyakinan atas janji yang tidak akan pernah diingkariNya membuat semangat ini kembali hidup.
Untuk itu, jangan pernah berhenti. Teruslah melangkah selama masih ada hati yang percaya. Sebab setiap langkah yang terpatri akan membuat segala tunggu mendekati ujungnya.
Lelah itu akan terbayar. Rindu ini akan dipertemukan.
Aku tidak baik. Pun dengan dirimu. Tapi perjalanan ini akan membuat kita belajar dan menjadikan kita sama sama baik.
Tidak ada perjalanan yang sia sia. Yang ada hanyalah orang yang tidak mampu mengambil kebaikan darinya.
Setiap perjalanan terjadi dengan izin Yang maha Bisa maka selayaknya kita mempercayakan langkah kita padaNya.
Dan selama kita yakin, perjalanan ini akan baik baik saja.
Jadi, kamu sedang bersembunyi dimana?
To Be Ready
Sehabis menonton 500 Days of Summer, ada satu kutipan yang nempel banget di pikiran saya.
Kutipan itu, terjadi dalam obrolan antara Tom yang diperankan Gordon-Levitt dan Summer yang diperankan Zoey Deschanel - artis favorit yang masya-allah-cantik banget-matanya. Saya pernah lihat Zoey di beberapa film, tapi di film ini saya baru sadar, yang bikin dia cantik banget adalah matanya.
Sampai-sampai ada akun lawak di Tumblr: @guyswithzooeyes yang didekasikan untuk menempelkan mata Zoey di banyak muka artis lainnya.
Obrolan itu terjadi saat Tom menanyakan apa yang terjadi dengan hubungan Summer sebelumnya yang gagal dan tidak berlanjut.
“What happened? Why didn’t they work out?”
Jawabannya, menampar dan membuat saya berpikir sejenak.
“What always happens. Life”
Konteks obrolan tadi mungkin tentang hubungan. Tapi jawaban Summer, adalah jawaban sederhana untuk banyak mozaik kehidupan.
Dalam banyak titik di kehidupan kita, ada hal-hal yang berubah begitu saja. Tidak ada rencana, tidak ada tanda-tanda, tapi kehidupan terjadi dan perubahan harus dialami.
Boom. Just like that.
Kitanya sih mungkin ga pernah kepikiran untuk menjalaninya. Kita mungkin punya bayangan yang berbeda. Kita mungkin sudah menggambar peta dan menuliskan rencana; tapi kehidupan datang dan kita harus menerima.
Dulu, atau bahkan mungkin sampai sekarang, saya masih sering percaya bahwa hidup itu bentuknya lurus-lurus saja. Tapi semakin dewasa, semakin banyak bertemu masalah dan orang yang berbeda-beda, ternyata hidup tidak semulus yang saya kira.
Saya sudah sering melihat gambar ini sebelumnya. I used to take it as a joke. Turns out, it’s not.
It never was.
Hidup hadir dengan kejutan-kejutan tidak terduga. Sama seperti melakukan perjalanan, kita harus punya rencana. Tapi kita juga harus selalu siap dengan kemungkinan salah jalan, tetiba turun hujan, bertemu jalan buntu, atau tetiba harus berputar dan pindah haluan.
We gotta learn how to pivot.
Saya mungkin sudah lumayan sering cerita di blog/podcast bahwa saya contoh nyata salah jurusan, tapi pemikiran tentang itu tidak ada sebelumnya.
Saya ingat dulu waktu SMA, saya anak olimpiade Biologi. Saya pikir, saya memang anak biologi. Saya pikir, sains adalah ladang saya untuk berkontribusi. Saat membuka diari semasa SMA (iya saya punya diari), saya pernah punya cita-cita menjadi saintis lab yang menemukan unsur baru. Saya juga pernah bercita-cita menjadi wildlife photographer, jurnalis National Geographic, atau pembawa acara program seperti BBC Wildlife.
Tapi ternyata kehidupan terjadi. Life happens.
I learned. I met people. I changed.
Then, I moved on.
Kita mungkin berharap perubahan terjadi di saat kita siap. Sayangnya, waktu adalah misteri dan kehidupan tidak pernah mau berkompromi.
Saya jadi teringat dialog di film Doctor Strange, sesaat sebelum The Ancient One meninggal dan menitipkan pesan agar Strange bersiap melanjutkan perjuangannya.
Strange mengelak dan berkata, “I’m not ready”.
Jawaban The Ancient One menampar dan jujur apa adanya.
“No one ever is”, katanya sambil memegang tangan Strange. “We don’t get to choose our time”
Kehidupan mungkin terjadi di saat kita siap, tapi lebih sering lagi, kehidupan datang agar kita siap.
Kita tidak pernah bisa memilih kapan waktu yang tepat untuk kita. Tapi percayalah, Tuhan selalu menyiapkan skenario terbaik-Nya.
So next time Life happens and put you in a condition you don’t want, maybe you may want to think it for a while.
Maybe, He wants you to be ready.
Saiful dan Metropolis
Setiap hari Saiful berangkat kerja ke kantor di suatu kota metropolis. Hiruk pikuk dunianya. Setiap pagi, siang dan sore sampai tengah malam jalanan selalu macet. Namun saiful harus mengulangi rutinitas itu setiap hari.
Belum lagi dia harus membawa beban di punggungnya, sebuah tas ransel yang berisi laptop, berkas kerja dan kertas laporan lainnya. Dia memanggulnya setiap hari, membawa pekerjaan kantor ke rumah berharap akan diselesaikannya. Namun pekerjaan rumah, membuat pekerjaan kantor tak kunjung di sentuhnya, mau tak mau pekerjaan kantor hanya jadi pekerjaan kantor.
Namun dia tidak putus asa, Saiful tetap membawa pekerjaan kantor ke rumah, jadi lah suatu pengulangan dan pembiasaan. Beban itu di nikmatinya dari hari ke hari.
Hal yang menggembirakan dan melegakan bagi Saiful adalah karena dia tahu dan sadar semua teman-temannya pun melakukan itu. Bahkan lebih dari itu orang lain yang bekerja di metropolis, dengan kantor dan bidang yang berbeda pun melakukan itu. Entah itu mereka naik angkutan umum, naik sepeda, naik motor, naik taksi, naik kereta ataupun naik mobil pribadi, mereka membawa beban sama seperti Saiful. Mereka juga memanggul ransel, tas jinjing, atau tas selempang.
Note: Sudah seharusnya membayangkan Saiful berbahagia. Karena apa yang diperjuangkannya adalah mulia, walaupun kelihatannya membosankan.
Asal Usul Absurdism
Sama halnya Sartre, bahwa Camus adalah tokoh eksistensialisme. Tapi, Camus tak pernah berkata bahwa “neraka adalah orang lain” seperti Sartre. Camus bukanlah seorang filsuf yang gagasannya cenderung ketat dan bersistem. Kerangka pikirannya tentang “absurditas” yang menjadi paradigma Camus yang (banyak) dikatakan sebagai sebuah filsafat adalah bagian dari suatu mazhab sastra yang berkembang selepas Perang Dunia II.
Yang apabila kita telesuri dalam pengertian tersebut, bahwa perkembangan aliran “absurd” masih satu kutub dengan aliran eksistensialisme, yang telah memiliki sejarah yang cukup panjang, bahkan sebelum Perang Dunia I. Tokoh eksistensialis yang juga menjadi peletak dasar eksistensialisme, Kierkegaard telah menulis karya-karyanya sebelum Perang Dunia I. Para eksponennya, seperti Heidegger, Karl Jaspers, dan Sartre telah menulis juga sebelum Perang Dunia II. Dasar-dasar eksistensialisme itu ditemukan pula pada Nietzsche dan sastrawan Dotoyvesky, yang keduannya pun tidak mengalami zaman Perang Dunia I. Namun, pertanyaanya dari mana istilah “absurd” yang berkembang dari eksistensialisme itu hadir dan lebih cenderung dikenal sebagai filsafat yang melekat pada Albert Camus?
Budi Darma juga pernah membahas ini dan mengatakan bahwa, “kadang-kadang filsafat dan sastra menjadi satu. Filsafat dapat diucapkan lewat sastra, sementara sastra itu sendiri sekaligus dapat dikatakan sebagai filsafat. Sesudah Perang Dunia II, misalnya Albert Camus dan Jean-Paul Sartre adalah filsuf eksistensialisme yang sekaligus menulis karya sastra.”Maka, dapat disimpulkan ada keterkaitan antara filsafat dan sastra. Para tokoh-tokoh tersebut yang cenderung bertolak dari sebuah dunia gagasan (filsafat), juga menulis karya sastra untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Sehingga, nama-nama yang telah disebutkan di atas lebih cenderung dikenal sebagai filusuf dari pada sastrawan.
Sedangkan konsep absurditas sendiri dimunculkan oleh Albert Camus. Camuslah yang menghubungkan mata rantai absurditas dengan eksistensialisme. Konsep “absurd”-nya dimunculkan Camus dalam sebuah esainya yang terkenal, yaitu Mite Sisifus yang menjadi dasar gagasan Camus. konsep absurd dimunculkan oleh Albert Camus dalam buku esainya Mite Sisifus yang diambil dari mitologi Yunani kuno. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa Sisifus dihukum para dewa. Hukuman yang harus dilakukan Sisifus adalah mengangkut batu yang berakhir di puncak, batu itu menggelinding kembali, kemudian Sisifus mengangkut batu itu kembali ke puncak. Hukuman itu terus berulang dilakukan Sisifus. Hukuman Sisifus itu dimaknai Camus sebagai amsal hidup manusia yang absurd, tanpa harapan, namun berikhtiar terus-menerus, sebuah perjalanan menuju anak tangga terakhir di kaki langit yang dicita-citakan—suatu titik, bila dihampiri, ternyata menjauh lagi.
Mite Sisifus adalah sebuah esai filosofis yang aneh, memperkenalkan suatu pandangan kehidupan yang tidak lazim. Namun, sebagai filsafat belum lengkap karena belum sampai pada sistem. Mungkin, hal ini senada dengan perkataan Jean Sarrochi bahwa “ada semacam “incompétence philosophique” pada Camus, semacam ketidakmampuan dalam filsafat.” Esai-esai filosofis Camus memang sering dikecam, pengertiannya tentang gagasan-gagasan beberapa filsuf yang disebutnya sering keliru.
Seni dan Pemberontakannya
Puisi dimulai dari semangat dan kerinduan dan berakhir dengan kerendahan hati. Mereka yang mencipta sungguh-sungguh tahu bahwa kesenian merupakan usaha yang tak ada putus-putusnya.Dan optimisme sebagai sebuah sikap yang memandang masa depan dengan kepercayaan bahwa zaman akan semakin baik, sejalan dengan harapan yang bersilangan.
Tetapi pada realitasnya, di tengah praktik pragmatisme dan suara dari eksistensialisme; seniman perlahan terbunuh dan ditenggelamkan oleh mulut kebudayaan Barat, yang memandang bahwa harapan adalah omong kosong. Secara tidak sadar senimanyang semula menyelami nilai-nilai estetika sebuah lukisan mungkin juga puisi, akhirnya mati dan tidak berkembang. N.G. Cernisevski berpadangan begini tentang estetika;bahwa karya-karya seni kalah dengan keindahan dalam realitas.Keindahan yang benar-benar, yang tertinggi adalah keindahan yang dijumpai oleh manusia di dalam dunia kenyataan dan bukanlah keindahan yang diciptakan seni.
Seni dan kesusastraan, yang dalam hal ini memberi rasa betah yang tersembunyi dalam hidup. Tiba-tiba berubah maknanya, dan dipandang tidak lagi menyuarakan kebetahan dan asing bagikehidupan manusia. Maka dimungkinkan pragmatisme telah membunuh eksistensi dan kretifitas para seniman dan sastrawan. Mulut Barat itu seolah lebih angkuh dari pendirian seorang penyair dalam menyuarakan idealisme sebuah estetika. Oleh sebab itulah optimisme, perlu dibangkitkan dari tidurnya. Perlu juga dimaknai bahwa keindahan sebuah karya seni adalah juga dibangundari etika dan moralitas.Tanpa karya sastra dan seni, realitas tidak akan lengkap dalam mencapai makna kehidupan. Jadi tidak selamanya salah, jika keindahan yang dihasilkan sastrawan maupun seniman adalah ungkapan-ungkapan (simbolik dan metaforik) yang mendalam, juga kerendah-hatian batin para pecinta gilayang sangat berharga nilainya.
Albert Camus perpendapat seperti ini, seni adalah ‘pemberontakan’ seniman kepada realitas, dan ciptaan kesusastraan yang sejati mempergunakan realitas dan hanya realitas. Betapa nilai-nilai estetika itu adalah cita-cita mendalam bagi setiap yang hidup dalam mengedepankan falsafah hidup. Seni dan sastra adalah ruang dimana kita hidup, menjaga etika dan moralitas. Tanpa itu semua nihil rasanya karya seni akan menjadi agung dan bermakna.Maka meraka yang jatuh dan kalah dalam memperjuangkan estetika bersastra dan berkesenian, adalah alasan-alasan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Mereka yang tidak lagiberkarya, sebenarnya mengidap pengakit yang disebut (kedangkalan pemahaman) untuk terjun lebih dalam lagi, menggali nilai-nilai estetika atau pun menjadi gila sekalipun. Eksistensi mereka di dunia kesenian dan kesusastaraan itu telah terkikis dan mereka terbunuh oleh idealisme yang mereka bangun sendiri sejak semula. Seperti yang saya katakan diatas; “Mulut pragmatisme” lebih angkuh, dan para penyamun keindahan ini, dibiarkan kelabakan, tidak menentu, akhirnya kalah dan berhenti memperjuangkan estetika yang sifatnya ilahiyah itu.
Membaca Madilog kuy.
Pada dasarnya madilog bukanlah pandangan hidup tetapi lebih kepada cara berpikir yang menurut Tan Malaka harus dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
Pertama adalah Materealisme ketika berbicara mengenai materealisme maka tokoh yang terkenal adalah Karl Marx dan sahabatnya Friedrich Engels. Filsafat materealisme sendiri berangkat dari keyakinan bahwa materi adalah sesuatu yang “mutlak” sebagai dasar terakhir alam semesta. Dalam hal ini Marx dan Engels menempatkan alam semesta sebagai sebuah materi.
Kemudian adalah Dialektika, pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles dan kemudian dikembangkan oleh Hegel dengan tesisnya, bahwa segala sesuatu pasti terus berubah dan Hegel menempatkan perubahan alam semesta sebagai pengaruh dari alam ide. Inilah yang membedakan filsafat dialektika Hegel dengan Marx. Marx dengan tesis dialektika yang sama menempatkan bahwa perubahan di alam semestalah yang menyebabkan perubahan pada alam ide karena alam semesta adalah materi dan alam pikiran atau semua hal harus “tunduk” dibawah materiaisme.
Sedangkan Tan Malaka sendiri mengambil filsafat dialektika yang dikembangkan oleh Karl marx dan Engels. sehingga dia berpendapat bahwa dirinya menjadi seorang Marxis bukan karena dia mempelajari Marxisme tetapi karena kondisi masyarakat saat itu yang menghendaki dia menjadi seorang Marxis. Prinsip dari Dialektika adalah perubahan, air adalah air dan bukan uap tetapi dengan kondisi tertentu maka air dapat menjadi uap
Logika pada tesis marx dan Engels yang terakhir adalah historis (Materealisme, Dialektika, Historis) maka Tan Malaka mengambil Logika sebagai jembatan terakhirnya, bukan Historis. Hal ini disebabkan tesis historis sendiri menurut banyak pihak termasuk Tan Malaka menyalahi aturan dialektika. Dalam tesis Historis Marx fase pada masyarakat adalah seperti ini komunis primitif, masyarakat hamba sahaya, masyarakat feodal, masyarakat kapitalis, dan masyarakat sosialis. Dan menurut Marx masyarakat sosialis pasti akan menuju masyarakat komunis seiring dengan hilangnya perbedaan dan kelas-kelas di dalam masyarakat.Dan kritik dari tesis ini adalah berhentinya masyarakat pada fase komunis. Sehingga ini lah yang menyalahi tesis dialektika di mana materi harus berkembang. Oleh karena itu Tan Malaka menempatkan logika di jembatan terakhir.
Makna Logika adalah dia mengajak masyarakat Indonesia untuk berfikir logis yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya atau menempatkan sifat-sifat materi berdasarkan prinsip identitas benda tersebut bukan pada prinsip kontradiksi. Bahwa benda A tidak mungkin sama dengan benda yang bukan A. artinya ketika kita berbicara mengenai benda A maka harus berpegang pada benda A tersebut. Lalu apa hubungannya dengan perkawinan dan masalah Rumah Tangga? Bukankah ini terlalu berat dihubungkan pada kasus perkawinan? Saya berpikir:sepertinya teman saya ini sudah gila (berpikir) apa terobsesi pada buku2 kiri heheh. Tapi dia kembali menjelaskan dengan lincahnya:
Loh Kenapa tidak ada hubungan?
Kebanyakan permasalahan Perkawinan dan rumah tangga tidak jauh dari materialisme sebagai kebutuhan yang mutlak dan keinginan perubahan strata kehidupan seperti dialektika? dan Logika para suami/pria selalu tidak dimengerti istri/wanita yang lebih peka dan diperbudak perasaan.
Bla.. blan.. blank..
“….oh…” “bla bla bla.. bla bla bla… gini… gitu… hahaha.. trus… ya.. ya.. ya..” “hmm… ” “katanya.. bla bla bla… hahahahaaa.. ya gak sih?mmmmm….” “iya…” mendadak hening. “kok diem?” “kamu kehabisan kata ya tiap kali ngobrol sama aku cuma ah, oh, hmm.. ato iya, engga, aja… huh sebel…” telepon ditutup. lelaki di ujung sana memandang ke corong telepon yang masih dia pegang. hanya suara tuuuuttt panjang yang terdengar. dia memang kehabisan kata. atau dia muak berkata-kata.
Kota Lama
Bunga layu di malam pertama. Kau sayu di atas pangkuan purnama. “Kita akan pulang,” katamu. Aku pulang kemana? Tak ada tujuan yang menanti kepulanganku Olehnya itu, kota kau geser ke pangkuanmu. Kota itu hujan, dan kau meregang. Perasaanku kalut, kulitku terselimut kabut tegang. Aku menjadi taman untuk matamu yang layu, Kau menjanji teman untuk kataku yang sayu. Olehnya itu, kau pindahkan kota di antara dua (bukit) rongga dadamu.
Pernahkan kau berhitung tentang seberapa banyak pijar matahari yang sampai ke bumi? Atau berapa tahun cahaya yang dibutuhkan sebuah bintang jatuh untuk sampai di tujuan dan memecah mati dalam kegelapan? Selama itu juga waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan hatiku yang patah karenamu. Aku menamakannya, keabadian.
(via setengahfiksi)
The Visuelt Festival 2015 by Ludvig Bruneau Rossow