Yogyakarta : Hujan dan Sate Klathak
Yogyakarta adalah salah satu destinasi favorit saya untuk jalan-jalan. Kota ini memiliki banyak sekali daya tarik yang membuat wisatawan baik lokal maupun mancanegara selalu ingin kembali kesini seperti budaya, kerajinannya, tempat wisata dan juga kulinernya.
Yogyakarta sangat kaya akan wisata kuliner yang enak dan juga murah. Saya tidak akan kesulitan mencari makan ketika tengah malam merasa lapar, karena di dekat hotel tempat saya biasa menginap terdapat angkringan yang buka 24 jam dan yang pasti harganya sangat murah. Dengan uang 10ribu rupiah, saya sudah mendapatkan 3 nasi kucing sambal teri, segelas teh panas serta gorengan dan sate sunduknya.
Salah satu kuliner favorit saya adalah sate klathak di daerah Bantul. Sate ini terbuat dari daging kambing dan yang membuat sate ini menjadi special adalah cara memasaknya yang menggunakan tusukan dari jeruji besi roda sepeda motor sehingga ketika dibakar akan mengeluarkan suara “klathak..klathak”. Sate klathak ini mulai populer sejak muncul sebagai salah satu tempat dalam scene Ada Apa dengan Cinta 2. Jadi, teman-teman tidak akan kesulitan menemukan penjual sate klathak di sepanjang jalan Imogiri, Bantul. Tapi ada dua tempat penjual sate klathak yang sedang sering diperbincangkan oleh orang-orang yaitu Pak Pong dan Pak Bari.
Saya berkesempatan mencoba Sate Klathak Pak Pong yang terletak di Jl. Stadion Sultan Agung, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Warung ini buka setiap hari dari jam 10.00-00.00 WIB dan saat saya datang kesana pada jam 18.00 WIB sudah terlihat banyak orang yang mengantri walaupun dalam kondisi hujan. Warung Sate Klathak Pak Pong cukup luas, terdiri atas beberapa area yaitu area dalam, saung, dan semi terbuka sehingga saat cocok untuk tempat makan dengan keluarga besar atau hanya sekedar berdua dengan pasangan.
Menu yang ditawarkan tidak hanya sate klathak saja tetapi juga ada gulai, tengkleng, nasi goreng, tongseng dan kicik. Saya memesan 2 sate klathak, 1 porsi kicik dan 2 gelas teh panas. Menu kicik yang saya pesan bentuknya hampir mirip seperti tongseng tetapi dengan kuah lebih sedikit, sehingga bumbu lebih meresap dengan dagingnya. Setelah setengah jam menunggu, pesanan saya datang. Penyajian teh dengan menggunakan ceret blirik menambah suasana rasa Jogja yang semakin kental, ditambah lagi gula batu yang diletakknya di gelas kecil membuat rasanya semakin nikmat. Satenya disajikan dengan tusukan besi dengan ditambah sedikit kuah gulai. Dagingnya besar namun empuk dan rasanya gurih, untuk kiciknya jadi menu favorit karena saya menyukai makanan manis dan gurih cocok dengan kicik Sate Pak Pong ini. Nasi putih hangat kemudian disiram dengan kuah gulai dan dimakan dengan kicik serta sate klathak itu the best. Setelah itu, minum teh hangat gula batu membuat dinginnya hujan di Yogyakarta jadi lengkap dan tidak ingin pulang.
Untuk kisaran harga, sate klathaknya sekitar kurang lebih 17.000-20.000/tusuk (kisaran perubahan harga); kiciknya 16.000/porsi; nasi 4000 dan teh gula batu 5000/gelas. Untuk makanan yang lain kisaran harganya antara 10.000 - 25.000, itu harga yang murah dan worth it untuk Sate Klathak Pak Pong. Silahkan ajak keluarga dan #temanjalan kalian untuk datang dan coba sate ini. Selamat berlibur, salam.