Personal Branding, Agar Lebih Didengar
Dulu ketika saya masih menjadi marketing analyst di sebuah Rumah Sakit, leader saya mengajarkan satu rumus yang sebenarnya konteksnya berkaitan soal bagaimana 'menaikkan penjualan', akan tetapi karena saking fleksibelnya rumus ini bisa diimplementasikan ke personal branding.
Rumusnya adalah :
S = (pv-p)xc
S = Sales (Penjualan)
pv = Perceived Values
p = price
c = communication
Singkatnya, bagaimana ketika kita punya produk, entah itu berupa barang atau layanan, bagaimana cara mendongkraknya, atau dalam bahasa sederhana orang dapat mengenalinya, berinteraksi dengannya adalah dengan memiliki terlebih dahulu, nilai (pv) apa yang membuat produk yang kita miliki ini unggul, dibandingkan pesaing.
Kemudian, dari nilai unggul tadi dikurangi p (price), harga yang harus dibayar konsumen baik materil maupun non materil, untuk dapat mendapatkan pelayanan yang kita tawarkan. Baik itu perjalanan menuju kesana, mood meters mereka, dsb. Oleh karenanya, semakin besar nilai yang kita punya dibanding 'harga' yang harus dibayar konsumen itu, akan semakin aman. Berpotensi terjadinya, satisfaction (kepuasan) dan repeat order (langganan).
Sebaliknya, jika ternyata harga yang harus dibayar konsumen jauh lebih besar dari nilai yang organisasi punya, maka siap-siap saja ada disappointed customer (kekecewaan pelanggan) yang berujung pada penurunan sales.
Setelah itu jika hitungan sebelumnya sudah selesai, adalah bagaimana tim marketing/public relations, etc. dapat menyampaikan, mengkomunikasikan values tadi ke pasar.
Well, kembali ke konteks personal branding.
Sama halnya diatas, ketika kita ingin membangun personal branding yang baik, atau saya ingin lebih spesifikkan ke konteks aktivis, yang di dalam hati dan pikirannya adalah ingin mengajak kebaikan, kebaikan dan kebaikan, maka create your values. Kenapa seseorang harus mengikuti kamu? Mengaminkan ajakan kamu?
Berbicara nilai, berbicara integritas. Bagaimana kemudian ketika values sudah terbentuk dengan baik, adalah tetap menjaga itu sebagai prinsip yang terus terpegang. Integritas artinya keselarasan antara ucapan dan tindakan. Integirtas pula yang membuat seseorsng akhirnya merasa respect.
Mengenai integritas ini dalam Islam juga tidak main-main, dalam firman-Nya Allah sampaikan :
Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? (iu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan (QS. As-Saff ayat 2-3).
Sedangkan price-nya, saya sebetulnya agak kesusahan menaganoligakan ini ke konteks personal branding, karena konteksnya cukup berbeda. Tapi jika boleh cocoklogi, price ini adalah jerih payah kita untuk bagaimana susahnya, jerih payahnya kita membangun dan menjaga keistiqomahan dari values yang dimiliki. Godaan silih berganti, ada harga yang harus dibayar demi menjaga konsistensi.
Terakhir, communications-nya adalah bagaimana kita menyampaikan itu ke objek kebaikan kita. Baik itu bagaimana kita public speaking jika punya basic dan nyaman dengan cara itu, atau melalui tulisan, konten video dsb. Tergantung siapa yang menjadi objek kebaikan kita.
Entahlah, ini hanya kontemplasi pagi saja. Sedari tadi ba'da shubuh kepikiran harus menulis ini, biar nggak jadi beban aja. Barangkali juga jadi teman ngopi para aktivis kampus dan kebaikan apapun diluar sana, kalau sudah pada bangun juga sih 🤭✌️














