Semua milik Allah dan akan kembali pada Allah
Kalimat yang kita yakini, kalimat yang kita percayai namun paling sering dilupakan; diabaikan.
Seberapa sering kita mempersiapkan kedatangan, menyambut hal-hal baik dalam hidup namun (maaf) bodoh dalam mempersiapkan kepergian?
Padahal kedatangan dan kepergian adalah dua keping mata uang yang tidak bisa terpisahkan.
Jika hari ini orientasi kita adalah dunia, dunia, dunia dan dunia. Mengejar pendidikan, karir, pekerjaan keren, hunting ke sana ke sini, kolektor ini dan itu untuk hidup yang lebih baik, untuk hidup enak. Lalu berapa waktu yang kita berikan untuk diri sendiri, untuk kembali sadari, untuk kehidupan yang kekal? Untuk kenali hakikat dunia, semua dikejar hari ini akan ditinggalkan. Sudahkah kita memberikan hak pada diri kita untuk hidup enak di kekekalan?
Sejatinya ini adalah pengingat untuk diriku sendiri, jika aku iri dengan dunia orang lain, pendapatan dan apa pun yang didapatkan orang lain, sudahkah porsi iriku "sedikit" saja kusedekahkan untuk merenungi sakratul maut yang tenang, yang baik, yang indah dengan ucapan terakhir لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ yang orang-orang yang dipanggil-Nya lebih dulu rasakan?
Allahku, ambillah aku dalam keadaan terbaik, hari-hari di mana imanku sedang baik, hari di mana aku mengingatmu lebih dari apapun, hari di mana seluruh dari yang pada diriku kuserahkan semuanya, hari di mana Engkau ridha padaku.