Anjing
Seekor anjing mengkhayal. Betapa enaknya jadi manusia. ‘Anjing mana mungkin jadi bos,’ pikirnya. ‘Aku hanya selalu jadi hewan piaraan. Aku selalu jadi objek. Tak banyak punya pilihan. Duniaku, kebebasanku, sudah dijatah. Manusia lain. Manusia bisa mandiri, bisa bebas, bisa menuntut, bisa jadi maling tanpa kena hukuman, bisa menggarap manusia lain, bisa menipu manusia lain dan tetap dihormati, bisa menuntut apa saja termasuk yang bukan miliknya. Bisa menyulap kebenaran. Bisa main politik. Dan lain-lain. Masih banyak lagi.’ Protes, Putu Wijaya, Agustus 1992.
Siang ini, saat keriuhan kembali dan sekolah jadi hingar, aku menepi. Diujung tempat ini aku menyendiri. Di pojokan ruang perpustakaan sekolah aku biasa menyendenkan tubuh ke sebuah rak besar berisi buku-buku paket mata pelajaran program sosial. Ada sosiologi, ekonomi, geografi, serta buku panduan manajemen dan wirausaha. Aku memang suka berada disitu, ditempat ini, yang mana aku bisa mendapatkan ketenangan dari hingar-bingarnya sekolah dan segala tetek-bengek suaranya yang membuatku jenuh. Aku bukannya diam saja, dipojokkan ini aku ditemani buku kecil warna merah dengan tulisan disampulnya ‘Protes’ karya Putu Wijaya yang berisi kumpulan cerpen-cerpen yang pernah ditulisnya dulu. Buku yang kaya akan imaji dan simbol, sugestif dan dinamis, dan kerap seperti protes pada bentuk pengucapan literer yang konvensional. Buku yang berkonsep dengan ‘teror mental’-nya yang menggemaskan. Aku benar-benar diajak masuk kedunia yang tidak biasa tapi membangun. Tentang suatu kebenaran yang harusnya sudah ada dimasyarakat sejak dulu sehingga pertumbuhan manusia Indonesia akan baik. Di buku ini, aku menemukan satu bab yang membuatku tercengang. Tentang seekor anjing yang ingin menjadi manusia. Apa enaknya jadi manusia? Pikirku saat itu. Asalkan dia tahu jadi manusia itu tidak mudah, kelihatannya saja gampang. Ada yang sok berkuasa, menghukum yang tidak bersalah lalu membebaskan yang sebenarnya salah, banyak sekali pengingkaran yang terjadi dimuka bumi, pengkhianatan, penindasan, kesombongan, banyak pengambilan-keputusan yang tidak didasar pada hukum yang sebenarnya, semua kalah dengan kucuran uang dari oknum yang sangat menggiurkan yang sekiranya cukup untuknya bersenang-senang, mabok, main perempuan, atau nambah bini pun bisa, asal mau saja. Tapi ternyata anjing itu mempunyai pandangan lain. Menurutnya jadi manusia itu menyenangkan. Banyak hal yang bisa ia kerjakan bila benar bisa jadi manusia. Punya mobil mewah, pekarangan yang luas dengan taman-taman yang indah berhiaskan tanaman-tanaman mahal, bunga-bunga mahal, dan yang paling seru bisa dimanjakan oleh tubuh perempuan yang dapat membuatnya merasa seperti disurga. Semuanya memang sangat seru dan mengasikkan. Tapi, tentu harus ada izin dari pencipta semesta dulu yang mengatur kehidupan semua makhluk hidup untuk mendapatkan semuanya. Namun, disaat aku menemukan tentang kisah seekor anjing yang ingin jadi manusia, pada kenyataannya sekarang malah (sudah) banyak manusia yang (ingin) jadi anjing. Bukan karna bentuknya yang lucu dan menggemaskan yang jadi soal, tapi sifat serakahnya yang jadikan masalah. Sudah tahu sendiri tingkah-kelakuan anjing ketika diiming-imingi tulang ia akan bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan tulang kesayangannya itu walau dilempar jauh kedasar jurang sekalipun. Sekarang, kita ibaratkan anjing itu, (maaf saja), ‘Penegak Hukum (hakim, polisi, orang-orang yang ada di kader partai)’ dan tulangnya adalah ‘uang’. Lalu, salah satu dari mereka sedang menyelesaikan suatu kasus, contoh, ‘korupsi’. Gampang saja cara mainnya. Cukup beri uang yang banyak, masalah selesai. Jeruji besi menangis karna mangsanya direbut oleh mesin-mesin tidak tahu diri berwujud manusia. Dalam konteks seperti ini, sudah tidak salah lagi kita menyebut manusia serakah. Sangat serakah.
Aku berusaha keras menyakinkan anjing itu bahwa jadi manusia itu bukanlah kesenangan yang harus dicita-citakan. Lebih baik tidak dilahirkan. Sudah syukur bisa jadi anjing. ‘Bukankah nasib terbaik menurut filsuf Yunani adalah tidak dilahirkan?’ Aku terus berusaha memasuki alam bawah sadarku tentang anjing itu. Aku berhenti membaca pada halaman 34 dimana anjing itu sedang asyik-asyiknya mengkhayal betapa enaknya jadi manusia. Aku mulai menebak-nebak apa yang akan terjadi pada kelanjutan ceritanya. Apakah anjing itu tetap teguh pada pendiriannya untuk menjadi manusia, atau ia akan menerima saranku, lalu berubah pikiran untuk tidak bermimpi lagi menjadi manusia? Bisa saja. Semua bisa terjadi. Sesuka Putu, penulisnya. Aku melanjutkan membaca ke halaman 35. Namun, anjing itu tetap saja teguh pada pendiriannya, menjadi manusia. Aku semakin putus asa. Tapi rupanya, ia mempunyai maksud lain. Ia berjanji akan jadi manusia yang baik. Tapi itu tetap saja membuat perasaanku tidak enak. Aku terus menyakinkan anjing itu, dengan kata-kata yang sama seperti diawal. Aku balik lagi kehalaman selanjutnya, halaman 36. Aku takut apa yang akan terjadi disini. Jangan-jangan anjing itu… ‘Tidak-tidak. Apapun bisa terjadi.’ Pikirku sekali lagi menyakinkan. Mataku menatap lekat-lekat kertas putih yang sudah mulai menguning itu. Aku baca pelan-pelan. Pelan-pelan… pelan-pelan… dan… ‘tidak ada perubahan apa-apa’. Anjing tetap teguh-pendirian. Tapi aku senang. Sebab pendirian anjing kali ini berbeda. Pendirian yang baru saja muncul dari otaknya itu membuatku lega. Anjing ini memutuskan untuk tetap menjadi apa yang sudah digariskan penciptanya. Ia memilih untuk tetap menjadi anjing. Hanya seekor anjing. Tidak lebih. Ia pikir, jadi anjing ternyata lebih menyenangkan. Bisa dibawa keman-mana oleh presiden, dibuatkan kontes, naik keruang angkasa dalam percobaan semesta, dan lain-lain. Menjadi anjing tenyata nikmat. Ia tidak usah perlu berpikir tentang keadaannya, sebab manusia sudah berfikir untuk dia. Dan itu berarti bahwa manusia adalah... ‘budak anjing’.
Sudah pukul 10:30 tepat. Suara bel tengah bergema. Ini berarti aku harus kembali ke ruangan semestinya aku berada disekolah ini, untuk belajar. Sebaik-baiknya belajar supaya kelak aku bisa menjadi putra bangsa yang besar, lalu membawa pertiwi jalan-jalan keliling semesta.
Tentang anjing itu, tentang bab ini, benar-benar memberikanku banyak pelajaran. Kita tidak perlu jadi orang lain atau makhluk lain, kita jadi saja diri sendiri. Sebaik-baiknya diri kita sendiri, agar kita tahu cara mensyukuri anugrah yang diberikan oleh Tuhan kita. Barangkali aku setuju dengan Soe Hok Gie; ‘Tidak semuanya jadi kapten. Tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar-kecilnya tugas yang menjadikan tinggi-rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu , sebaik-baiknya dirimu sendiri.’
Aku semangat sekali pagi ini.











