Pagi, 18 Juni 2024, sehabis menjemur pakaian, bertemu semanggi berdaun tiga di tepi tembok rumah. Ada yang bilang semanggi berdaun tiga melambangkan cinta, keyakinan dan harapan. Tahun 2024 menghirup udara pagi hingga pagi lagi seperti bertaruh waktu dengan ketiganya. Tentang menafsirkan cinta, tentang mengetuk keyakinan, juga tentang membentangkan harapan. Berat. Sebelumnya juga bersinggungan dengan ketiganya tapi melaluinya sedari awal tahun 2024 cukup berbeda, kali ini betul-betul terasa berat. Padahal 2024 baru di bulan ke enam, tapi luar biasa wahana permainan laga dunia. Memabukkan, memuakkan, betul-betul melelahkan. Lengah sedikit saja bisa jadi menghilangkan rasa sayang pada diri. Menyerah dengan keadaan. Hingga mati menjadi terasa begitu dirindukan, begitu diinginkan
Tuhan.
Cinta, keyakinan, dan harapan akhirnya bertumpu pada Tuhan. Seberapa pun berat dan payah menghadapi kenyataan, ketiganya masih menemukan Tuhan sebagai penolong dan tempat mengadu juga berkeluh pilu. Mata sembab, tubuh gemetar, pedihnya luka, setidaknya reda sejenak dalam lantunan doa juga kucuran air mata.
Naif, tapi tiada mengapa, sebab dengan ini saja sudah cukup melapangkan.
Setelah bertemu semanggi berdaun tiga, mungkin saja nanti akan bertemu semanggi berdaun empat, yang langka dan bercerita tentang keberuntungan.












