Tetes Hujan-1
Asa’s
“Aku gatau ra”
Kayaknya oksigen disini kok tiba-tiba abis gitu ya buat dihirup. Oke.. tenang ra.
“Kenapa?”
Oh plis. Jangan nangis ra. Tahan.
“Ga semuanya di dunia ini bisa kamu tanyain ‘kenapa’“
“Tapi seharusnya yang ini bisa, Res!”
“Kalau aku jawab kita ga ada apa-apa gimana Ra?”
Santai, ra. Tarik nafas.... buang..
“Kenapa Res?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa kita harus ada disini kalau ga ada apa-apa? Kenapa cuma aku yang ngerasa ada apa-apa? Dan kenapa kamu bisa ga ngerasain apa-apa?”
Good. Sekarang malah nangis. Pinter banget ra.
“Mungkin karena takdirnya gitu..?”
What?
“Ho-how come..? Sumpah ya kamu Res. Sana aja kamu jadi batu sekalian!”
Aku tarik langkahku dari halte bus itu. Hujan-hujanan lebih baik dari pada harus nunggu hujan berduaan sama mahluk ga punya hati--dan otak itu.
“Asa.... Kamu gak kuliah?”
Perlahan kubuka mataku, sambil terheran-heran kok aku masih hidup. Rasanya mau mati aja. Sadar bahwa yang punya suara butuh jawaban, aku menjawab dari bilik sebelah pintu yang lain.
“Boleh skip dulu gak, Ma? Aku capek banget nih..”
Kataku dengan suara yang diserak-serakan. Kayaknya tanpa dibuat-buat juga mama bakal ngerti kenapa aku pengen skip kelas. Dari kemaren beliau udah syok anaknya pulang basah kuyup ditemenin hujan--dan tanpa kata langsung cus ke kamar.
“Kamu sakit, Nak?”
“Ga enak badan aja, Ma”
“Mama bikin bubur ya?”
“Ga usah, Ma.. Asa cuma butuh istirahat”
“Oke, kalau butuh apa-apa bilang Mama ya”
Aku diam. Menenggelamkan kepalaku sedalam-dalamnya ke bantal.












