Sudah pukul 23.30
Suamiku belum juga pulang.
Ini tak seperti biasanya yang sebelum pukul sepuluh saja dia sudah menguap lebar lalu mengecup keningku sebelum akhirnya beranjak tidur. Dan terlebih lagi, ini hari ulang tahunnya walaupun telat satu hari.
Aku sengaja akan memberinya kado pada hari ke 2 di usianya yg ke 24 ini krn memang itu permintaannya. Ia tak mau diberi kado, terutama olehku yg dikhususkan utk merayakan ultahnya. Katanya, “Orang Islam hrs mengikuti sunnah nabinya, dan aku nggak mau km menyelisihi nabi kita.” Tapi sampai hampir tengah malam begini dia tak kunjung pulang. Ya Allah, semoga tak terjadi apa2 dgnnya..
Tik tik tik…
Telingaku terpusatkan pada suatu bunyi. Samar tp lama2 semakin banyak.
“Hujan!” Teriakku dalam hati.
Kuletakkan Al Quran yg baru saja kubaca lalu bergegas menuju ruang tamu. Kusibak gorden dan kulihat kaca jendela telah basah kuyup oleh air hujan. Ya Allah, pohon dan daun2 sama meliuk2 dan beterbangan oleh hujan angin yg begitu lebat! Sesekali halilintar menyambar di kejauhan. Aku haya bisa menunggunya dibalik kaca jendela ruang tamu. Tak terasa genangan air di kelopak mataku yg sejak td tertahan, jatuh.
Aku teringat ketika itu..
Tangannya yg hangat membuka dari mataku. Menyuguhkan jalan baru bagi rumah tangga kami yg masih usia satu minggu.
Di depan mataku, sebuah rumah dengan halaman yg luas. Lucu namun masih belum terpoles krn tak terawat. Sederhana, jauh dari kesan angkuh. Namun… bagiku ini masih terlalu baru.
Ia bukakan pintu dan mendorong kursi rodaku ke dalam rumah. Mataku tertuju pada sudut2 ruang tamu. Waktu itu hanya ada kursi panjang dr bambu dan sapu lidi. Aku pun heran kenapa ada sapu lidi d tempat menerima tamu. Namun segera mungkin suamiku menjelaskan yg aku lihat.
“Ini adalah rumah peninggalan mbah. Waktu pembagian warisan beberapa tahun lalu, aku tak menyangka dapat bagian rumah.” Terangnya.
Ia tiba2 berjalan lalu berjongkok di depanku, menatapku lekat2 dan menggenggam tanganku sambil berkata, “Ma. Mungkin jauh dr bayanganmu, namun insyaAllah rumah ini yg akan mengajarkan kita hidup lebih bersyukur lagi.”
Tiba2 terasa penuh sekali dada ini. Ku ingin meluapkan kesyukuranku ats karuniaNya, yaitu suamiku, namun aku tak kuasa meluapkannya. Aku hanya tersenyum dan mencium tangannya.
“Awas, tangannya bauk trasi. Hehe” Candanya.
Aku hanya tertawa kecil, “hihihi..”.
Glegaaarrr…!!!
Suara petir memecahkan bayanganku. Tak terasa sudah hampir tengah malam. Padahal rasanya hanya sebentar membayangkan masa lalu. Kuperhatikan sekitarku dan pintu ruang tamu. Belum ada tanda2 kedatangannya. Lagi pula pintunya terkunci.
Hatiku makin tak karuan memikirkannya. Aku putuskan menunggunya di depan pintu sampai dia mengetuknya. Namun.. tak kuasa aku menahan beratnya kelopak mataku ini…
Kehidupanku dimulai lg pagi ini, di rumah sederhana kami tercinta.
Btw, sebenarnya bukanlah ketidak sengajaan kami hidup bersahaja. Jika aku mau, kami bisa saja tetap tinggal di rumah yg megah penuh dengan fasilitas mewah dan keangkuhan yg cetar membahana. Namun setelah dia hadir di hidupku, keangkuhanku lebur oleh hangatnya jiwanya.
Matahari hatiku, yg telah meruntuhkan gunung es yg membekukan hati selama ini.
Kadang aku tak tau jalan pikirannya. Berlimang jabatan yg oke dan harta melimpah pula dari keluarga, namun mengajakku utk merasakan hidup bersahaja. Sesuatu yg tak semua org berfikir spt dy. Dan akhirnya pun alasannya ku ketahui, utk lebih bisa bersyukur dan jd lebih kuat.
Lagi pula, tak sepantasnya aku bangga dengan keangkuhan, karena keterbatasan yg ku miliki.