Kira-Kira Begini
Seseorang yang sudah dianggap dekat, takkan sungkan bertukar kabar. Satu dua hal, remeh temeh sekalipun. Meluangkan waktu untuk menelpon saat jarak tak memungkinkan untuk sebuah temu, atau hanya sekedar menyambangi teras rumah saat tak sengaja melintas. Sederhana, bukan?
Sesederhana Saras yang kala itu melaju dari utara, hujan-hujan pula, hanya untuk menumpahkan kegelisahannya di warung jus sore itu.
Atau sesimpel Eka yang tiba-tiba, "Cik SuperInd* lagi ada diskon, lho!" lalu sorenya langsung tancap gas; berburu deterjen dan susu kotak untuk dibagi dengan seisi rumah.
Tak ada yang terlalu sulit untuk dilakukan.
Semuanya terasa rumit ketika ada alasan-alasan yang mendadak tak bisa dijelaskan. Lalu muncul "dugaan-dugaan." Energi positif yang seharusnya bisa dibangun, menjadi kabut yang menggelayuti pikiran dan perasaan. Tiba-tiba kita menjadi jenis manusia yang serba kalut, sekaligus serba salah.
Mau ngehubungin duluan takut ganggu. Mau minta dikabarin kayak, "Hah emang perlu banget w ngemis kabar dari lu?" wkwk pardon my pride.
===
Sampai sini kita harusnya bisa membedakan, antara membangun hubungan dengan being a possesive. Beda, broh!
Posesif itu minta dikabarin setiap saat. Kalau dalam membangun hubungan, meski jarang saling menghubungi, setidaknya ada komunikasi yang dilakukan secara berkualitas. Ingat, kualitas. Tidak melulu soal kuantitas.
===
Suatu hari, aku pernah tes minat bakat. Meski keakuratan alat tesnya diragukan, setidaknya aku dinyatakan memiliki energi untuk menjadi "pemikir."
Namun, dengan banyak hal yang terjadi belakangan, aku pikir hasil tersebut keliru, aku cukup punya energi besar untuk sebuah "relation" atau hubungan.
Bagiku, membangun hubungan entah apapun jenisnya menjadi sangat penting kala usia menuntut kita banyak hal dan disaat yang sama kita juga perlu ruang untuk berbagi isinya.
Meski terdengar pragmatis, aku juga ingin jadi sosok yang ada untuk keluarga dan teman-temanku. Melalui saat mudah dan tak mudah dengan tetap berangkulan; saling menguatkan apapun yang terjadi.
===
Sekedar, "Cikal, kamu ada dimana? Ayo makan siang bersama," atau "Cik, pesenin Grab dong dari lokasiku," aku akan senang sekali mendengarnya.
Dan barangkali, setelah semua hal yang dilalui, aku mulai paham. No response is a response. Aku juga memiliki batasan. Jika ada di antara teman-temanku yang tak kunjung memberi respon, artinya prioritasnya mungkin sedang bukan aku. Hihi. Jadi? Ya sudah tidak usah mengemis respon.
Seseorang yang nganggep kita berharga pasti akan selalu mengabari, kok. Lihat saja bagaimana Kakak/Ibumu cemas saat kau tak kunjung kelihatan di dalam rumah.
Bonus: My 911.
Tambahan.
Mungkin ada jenis manusia-manusia yang begitu cuek dan menganggap segala hal bisa terbangun dengan sendirinya tanpa harus bersusah payah. Emm, tapi menurutku itu namanya bukan "membangun" sih yaa, tapi breadscrumbing (coba googling aja). Hihi. Untuk fenomena sosial ini, agaknya Hukum Newton III masih relevan. Aksi = reaksi.
Rabu hujan, 10 November 2021.












