Catatan malam hari, 30 Maret 2019
----------------------------------------
Maret terlalu cepat singgah, lalu sekarang terburu mau pergi. Tergesa pamit. Ingin segera undur diri dari kontestasi perbulanan.
----------------------------------------
Maret menghampiri tengah malam. Ia bertanya padaku perihal hari ini. Aku tidak menjawab. Malah tersenyum sambil tersedu. Bersamaan.
Maret mengambil tisu dari balik jaketnya, “Kamu harus pintar jaga diri,” ujarnya tak terduga sambil mengulurkannya padaku.
“Kamu harus pintar jaga diri dari angan kosong yang tak berkesudahan, mencukupkan segala hal sia-sia yang membunuh temanku, Waktu,” ia menatapku nanar.
Aku hanya bisa mengangguk-angguk.
“Satu lagi. Kamu juga harus pandai menjaga dirimu dari Ego, temanku yang suka menyusup kedalam Jiwamu,” ia menambahkan setengah berbisik sambil menatap kiri kanan dengan hati-hati.
Aku diam. Takzim. Sudah lama sekali sejak Maret menasehatiku untuk tidak begadang tiga tahun lalu.
Maret beranjak, sebelum meraih gagang pintu, ia berbalik,
“Terakhir, jangan lupa mengenakan jaket dan jas hujan. Belakangan, Musim kurang bersahabat pada kawan-kawanmu di bumi,” katanya sambil tersenyum, memberi salam, lalu menghilang dari balik pintu.
----------------------------------------
Semalam aku tidur terlalu nyenyak. Matahari muncul malu-malu dengan semburat merahnya.
Aku tidak terlalu memikirkan perihal Maret yang bertandang lalu mengucap selamat karena hari ini usiaku genap dua puluh satu.
Tidak pula ambil pusing tentang waktu yang telah berlalu -sampai- tiba-tiba sudah tujuh ribu enam ratus enam puluh lima hari (tidak termasuk tahun kabisat). Lama juga ya, ternyata! Tetapi Maret tidak datang tadi malam.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk,
Seorang laki-laki dengan rambut hitam tak tersisa berjalan lamat-lamat. Ia masuk ke dalam kamar sambil berpegangan pada apapun yang mampu diraihnya agar keseimbangannya tak goyah. Dari gestur tubuhnya, sepertinya ia akan mengatakan sesuatu yang teramat penting (dan ini sangat jarang terjadi).
Ia meraih sebelah tangannya padaku.Aku menjabat tangannya; masih belum paham, sampai akhirnya beliau mengucap,
“Selamat bertambah usia. Sekarang kamu sudah benar-benar dewasa. Harus pintar jaga diri, "ucapnya dengan mata membentuk kaca dan senyum yang teramat tulus.
Aku termangu sekian detik lantas memeluknya. Erat. Tidak punya cukup kata untuk diungkapkan. Sudah dua puluh satu tahun ia menjagaku, puluhan kenangan lantas timbul tenggelam dalam benak.
----------------------------------------
Tentang pertama kali ia mengantarku masuk sekolah menggunakan sepeda antiknya yang melegenda. Tentang ia yang memarahi teman laki-lakiku di sekolah dasar karena membuatku menangis akibat leluconnya. Tetang ia yang selalu peduli dengan momen-momen pertamaku, mengabadikannya dengan ponsel nokia beresolusi 2 megapiksel.
Tentang ia yang selalu cemas ketika pukul tujuh malam aku belum menjumpainya, kemudian enggan makan sampai aku makan bersamanya. Ya, semuanya tentang ia.
Sekali lagi, ini tentang ia. Tentang ia yang nasehatnya membuatku mampu berdiri tegak dan menghargai hidupku. Atas jutaan kebaikannya yang tak mampu kubalas satu-satu, aku hanya bisa berujar terima kasih!
Sampai kapanpun, engkau akan selalu jadi laki-laki terhebatku. Laki-laki yang selalu kubanggakan. Dunia akhirat.
----------------------------------------
Maret melambai dengan tergesa. Pesawatnya akan terbang sebentar lagi. Ia tidak mengucapkan apapun.
Hanya saja ia mengulurkan sebuah kotak dengan bungkus hitam. Mengucap salam. Lantas melangkah pergi.
----------------------------------------
Belakangan, aku baru tahu, Maret adalah harapan yang menantiku setiap dua belas purnama dengan kejutan istimewanya.