Ra #11
Kita selalu terkesima dengan lagu-lagu yang kita suka, dengan film yang kita tonton dengan apapun apa yang orang lain tuliskan, alasannya hanya satu orang-orang suka sekali saat karakter atau sifatnya diwakilkan oleh sesuatu apalagi karya seni apapun itu.
Ra, udah liat film pendek yang sedang banyak dibicarakan orang-orang? Iya 'Tilik' Ra, udah liat? Jangan langsung memeragakan omongan bu Tejo seperti itu, haha. Tapi aku tau kau pasti suka ketika lihat film itu karena memang itu mengambarkan tabiat kita dalam berkumpulkan? Membicarakan orang lain. Ya meskipun ku tahu itu bukan hal yang baik, tapi sepertinya perkumpulan tanpa rasan-rasan seperti memasak sayur tanpa garam, jadi tak begitu sedap rasanya dan malah hambar jadinya.
Meskipun banyak sekali orang-orang yang mengkritisi film tersebut tapi jujur saja film itu mampu buat orang-orang mengangguk-anggukan kepala karena ya memang begitulah mereka. Ku rasa film tersebut jadi cermin paling sempurna masyarakat kita dalam menjalani kehidupan. Kita sadar kan kalau memang ibu-ibu yang berkumpul pasti seperti itu. Ah, jangankan ibu-ibu kami kaum laki-laki pun begitu, bahkan bisa jadi lebih parah.
Memang tak bisa dipungkiri lagi kan Ra, sebenarnya kita sudah tau kalau membicarakan orang itu tidak baik, apalagi keburukannya. Tapi tetap saja itu adalah kebutuhan manusia, secara tidak sadar itu adalah salah satu bahasan pokok yang setiap hari disajikan kehidupan. Ya seperti halnya minum kopi, jika tak pakai gula akan pahit meskipun beberapa tetap bisa menikmati, tapi ketika gulanya kebanyakan juga tak enak rasanya. Jadi takaran antara gula dan kopi juga harus pas. Begitu halnya dengan membicarakan orang lain, harus sesuai takarannya, sekalipun itu buruk, tapi ya memang begitulah kita, kadang hal buruk pun jadi pemanis di tengah kondisi yang lebih buruk.
Tapi sadar atau tidak Ra, kenapa kita bisa sangat tekagum-kagum dengan sosok bu Tejo itu? Selain dengan dandanan yang mencolok mata, gerakan bibir yang sangat menjiwai ibu-ibu pkk, hingga gaya omongannya yang khas masyarakat desa.
Kita selalu suka dengan mereka-meraka yang memainkan peranan seperti apa karakter kita. Seolah-olah mereka mengambarkan sosok kita di layar kaca, menampilkan sosok kita yang tidak bisa kita akui secara nyata. Dan kita menyukai hal itu.
Sama halnya saat kau mendengarkan lagu-lagu Tulus dan kau begitu menyukainya, ah terutama Kotak band itulah salah satu band kesukaan mu juga. Sebenarnya aku heran kenapa kau begitu sukanya dengan Kotak, padahal ku pikir dulu kau akan menjawab Noah, Sheila atau bahkan Kangen band seperti ku haha. Tapi yah mungkin kau menemukan sosokmu begitu diwakilkan dari lagu-lagu Kotak. Begitulah kita Ra, ketika kita patah hati kita akan cenderung suka dengan lagu-lagu melankolis, saat kita patah semangat mengejar mimpi, kita akan teringat lagu 'laskar pelangi' milik Nidji ataupun 'ya sudahlah' kepunyaan Bondan yang sangat kau hafal itu.
Mungkin itu pula sebabnya almarhum pakde Didi Kempot kembali bersinar diujung usianya. Karena sebenarnya kita ini manusia-manusia yang patah hati namun tetap ingin menikmati hidup walaupun hati sedang hancur-hancurnya. Begitulah kita Ra, begitulah manusia, selalu saja takut menunjukkan kelemahan dan keburukannya di media massa, makanya banyak sekali film yang kadang kita tuh ngerasa kalau film ini kita banget, ngerasa kalau lagu ini ngambarin kita banget, semua itu ya karena kita ngga ada keberanian buat nunjukin siapa kita atau apa yang kita rasain.
Malang, Agustus 2020















