Empat tahun sangat cukup bagi saya untuk tahu jalan menuju kemana saja, rute mana saja yang bisa diambil. Sebelum berangkat dari rumah, selalu ada planning yang tercatat di pikiran saya tentang rute tercepat. Pertimbangan waktu, tingkat kemacetan, kedekatan jarak tujuan satu dengan tujuan berikutnya, dan tentu keamanannya di waktu-waktu tertentu.
Kalau sudah di jalan, kedua mata fokus ke depan, tidak ada toleh sana sini. Ya kadang-kadang juga sempat memperhatikan style orang yang ada di depan, atau sekedar memperhatikan pernak-pernik dan plat nomor kendaraan. Dan yaa, hanya itu yang akan saya tahu. Jangan tanya ada berapa warung padang yang saya lewati atau apa di rute saya ada toko jam. Saya belum tentu ingat dan tahu.
Bagi independent driver seperti saya, fokus pada jalan itu yang utama. Melihat sekeliling itu urusan yang dibonceng (kalau ada). Akibatnya meski lewat jalur dan rute yang sama setiap harinya, saya belum tentu tahu kalau ternyata ada toko perlengkapan kue di selatan gang A, atau tempat cucian motor di sebelah toko D.
Itulah kenapa terkadang macet dan lampu merah itu perlu. Karena selain perkara waktu, kebutuhan dan memang sudah dari sononya itu venue mencolok plus ber-plang gede cetar membahana, alasan yang paling mungkin biar bisa look around ya macet dan lampu merah. Ya, saya harus belajar 'menikmati' perjalanan.
Bicara soal menikmati perjalanan memang bukan soal cepat tidaknya sampai di tujuan. Tetapi juga soal tahu atau tidaknya keindahan pemandangan yang terbentang sepanjang perjalanan, detail-detail penting nan berharga. Karena bisa jadi kecepatan-lah yang selama ini membuat hal penting terlewatkan. Kamu, misalnya.
Yogyakarta, sebelum tidur
Vera Widyastuti