Berdamailah, ajaklah perasaanmu jadi lebih tegar ketika jatuh. #TitikKritis (at Netherlands)
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from France
seen from France
seen from United States

seen from Brazil
seen from Hungary

seen from France

seen from Malaysia

seen from Russia
seen from United Kingdom

seen from Brazil
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from Germany

seen from Brazil

seen from United States
seen from Vietnam
Berdamailah, ajaklah perasaanmu jadi lebih tegar ketika jatuh. #TitikKritis (at Netherlands)
Jauh itu menyakitkan. Dan jauh yang tak berniat untuk kembali itu lebih menyakitkan. Pulanglah. Sewaktu-waktu kamu mau. Aku menunggumu. . . -Dalam surel Rara untuk Deva- . #TitikKritis (at Netherlands)
Terima kasih telah membuatku jadi lebih baik. Karena setiap orang punya caranya masing-masing untuk berubah. #titikkritis (at Brussels, Belgium)
Sampai juga aku di titik kritis ini. Tempat di mana aku sudah benar-benar berbaik sangka dengan semuanya. Baik ketika pada akhirnya bisa bersama denganmu, atau ketika aku harus merelakan perasaan ini tak bertuan untuk sementara waktu. . Aku siap patah hati. . . ---------------------------------- Naskah "Titik Kritis" akan dimulai. Semoga dapat dinikmati dan sampai di kamu seutuhnya. #TitikKritis (at The Hague, Netherlands)
Bagaimanapun. Terlepas dari sikapmu yang menurutku tak peka akhir-akhir ini, bahkan kalau dikatakan ini ikatan perasaan, rasanya miris sekali. Sebab yang ada hanya aku yang berjuang dibandingkan kamu. . Namun terlepas dari itu semua, kamu tengah mengajarkanku banyak hal. Lewat caramu melihat hidup dan kehidupan. Lewat caramu memandang banyak hal. Aku semakin sadar, menjadi manusia beruntung di mana esok harus lebih baik dari hari ini dan hari kemarin ialah hal yang membuatmu makin bersemangat menjalani hari-hari. Dan aku makin terinspirasi. . . #titikkritis (at Gelderland)
Titik Kritis
Pahlawan sejati adalah yang mampu melewati ujian-ujian hidup (BNHA). Saya kini percaya, bahwa setiap kita memiliki masa-masa tersulit dalam hidup. Setiap orang yang saya temui, yang mau bercerita tentang kehidupannya, semuanya pernah berada dalam episode hidup yang sangat menentukan, dan itulah yang paling sulit. Dan yang berhasil melewati semua itu, tentu mereka adalah pribadi yang luar biasa. Masa lalu memang tidak bisa diperbaiki, tetapi keputusan kita hari ini, dapat mengubah masa depan (dari seorang teman yang mengutip dari film Naruto). Di sepanjang perjalanan yang kita lewati, kita akan menemui bermacam ragam persimpangan. Persimpangan yang mengharuskan kita untuk memilih jalan mana yang harus kita lalui. Memilih satu saja. Namun, diantara berbagai persimpangan itu, ada satu yang menjadi titik kritis. Satu titik yang menjadi penentu masa depan kita, menjadi penentu, esok akan menjadi apa kita. Satu titik di mana kita harus melibatkan seluruh kekuatan untuk memutuskannya. Di titik itulah terkadang kita menjadi sangat frustasi. Bingung menentukan arah. Tak tau mau ke mana. Di titik itulah kita akan banyak menangis, banyak meminta, banyak memohon. Di titik itulah tak sedikit manusia yang kehilangan arah. Namun saat itu juga kita tak dapat lagi berbalik arah. Hidup harus diteruskan. Dan kita harus memilih. Maka dari segala ketidakberdayaan kita, serahkanlah segalanya pada Allah, sebab keputusan kita hari ini adalah tentang bagaimana kita di masa depan.
Titik Kritis, Ayo Bertarung!
Untuk siapapun yang sedang berada dalam titik kritis. Saya ingin sedikit berbagi tentang diri saya dan titik kritis saya. Sebenarnya saya selalu menikmati titik-titik kritis atau tekanan dalam hidup saya. Saat dikejar Deadline tugas dosen, Dealine beberapa kegiatan luar yang saya ikuti, Deadline saat hidup berorganisasi, mengerjakan sesuatu untuk pertama kalinya, bingung cari uang untuk memenuhi beberapa kebutuhan hidup saat ibu saya sakit, saat terkadang saya harus membuat keputusan-keputusan yang sangat cepat untuk diri atau bahkan untuk tim yang pernah saya pimpin. Hal ini juga berlaku saat saya mulai merasa tidak aman dan resah. Atau lebih-lebih saat saya berjalan ditempat yang salah.
DI titik kritis ini saya seringkali merasa bahwa betapa tidak berdayanya diri saya yang kecil ini tanpa kuasa-Nya.
Selalu begitu! Saya tak tahu mengapa, Namun saya menyadari dari sekian banyak titik kritis itu akan ada suatu titik kala berada di momen-momen tertekan, bahkan tidak tahu harus berbuat apa karena pikiran ini sudah penuh rasanya, ada suatu hal yang selalu saya usahakan ingat dan upayakan, menyebut nama-Nya, “Ya Allah tolong hamba....Ya Allah untuk kali ini kuatkan pundak hamba, kokohkan langkah kakiku. Semoga semua ini menjadikan saya semakin kuat dan meninggalkan kelemahan ke depannya”
Tidak ada manusia yang bisa menjamin bahwa hidup itu akan lurus tanpa ada rintangan, pasti akan ada tantangan didepan entah besar atau tidak. Namun kita bisa mengambil kisah teladan seperti Naruto yang sering bertarung bahkan terkadang hampir mati. Namun, ketika ia berhasil sembuh dari kondisi hampir mati, kekuatannya selalu menjadi berkali-kali lipat.
Pun demikian saya harus segera memilih..
Memilih untuk menyerah kepada titik kritis, atau akan menghadapi tantangan tersebut. Saat memilih menyerah, maka pada saat itu saya hanya akan menjadi hamba yang tidak percaya bahwa ada Allah Yang Maha Kuat. Saat saya menyerah, ada tangisan perjuangan orang tua dan sekitar yang telah menetes sia-sia agar diri saya bisa berproses sejauh ini hingga hari ini. Tidak ada jalan lain, tekanan itu harus saya lawan. Kalau kamu?
Selamat menghadapi tantangan!
©Renoalbra