Shadow puppet of the clown character Togog.
Java, Late 1700s - early 1800s (Before 1816)
Made of hide, horn and gold leaf. Carved, painted and gilded.
the British Museum

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Japan

seen from Israel
seen from Guatemala
seen from Pakistan
seen from Netherlands

seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Brazil

seen from United States
seen from Israel
seen from Pakistan
seen from United States
seen from China
seen from United States
Shadow puppet of the clown character Togog.
Java, Late 1700s - early 1800s (Before 1816)
Made of hide, horn and gold leaf. Carved, painted and gilded.
the British Museum
#togog #modifikasi #modifikasimotor #islam #zamanbaru #emas #秘湯 #gadisriau #amuntai #barabai #alabio #gadisjambi #manishits_titik ➖ #EnzoAllie #modifikasiplus #perak #wakala #amirat #野天風呂 #gadislampung #gadismedan (at Pengadilan Negeri Barabai) https://www.instagram.com/p/B1US61MnlRf/?igshid=1vy7sjdm0xk7t
#gadispadang #gadispalembang #togog #modifikasi #modifikasimotor #islam #zamanbaru #emas #秘湯 #gadisriau #amuntai #barabai #alabio #gadisjambi #manishits_titik ➖ #EnzoAllie #modifikasiplus #perak #wakala #amirat (at Man 2 HST) https://www.instagram.com/p/B1USxzJn83f/?igshid=tm81at34ckwj
#nomokrasi #混浴 #gadispadang #gadispalembang #togog #modifikasi #modifikasimotor #islam #zamanbaru #emas #秘湯 #gadisriau #amuntai #barabai #alabio #gadisjambi #manishits_titik ➖ #EnzoAllie #modifikasiplus (at Riam Bajandik) https://www.instagram.com/p/B1USo1YHsOg/?igshid=1a0jwm4gsw3se
Togog, Blog, dan Permohonan Maaf yang Perlu
Dibagian about, disamping tulisan dan bisa dilihat dengan jelas, akan didapati oleh setiap pengunjung dari blog ini sebuah peringatan dari Mas Togog, yang lebih kurang berisi tentang permohonan maaf saya. Setelah membaca ini, pasti anda mulai melirik-lirik kesamping dan menuntaskan kata-kata Mas Togog itu (ya kan?).
"Tolong sampaikan agar tulisan ini tidak usah dibaca karena membuang waktu, pikiran, tenaga dan kuota internet. Sungguh hanya suatu omong kosong belaka. Mohon maaf sekali lagi untuk permintaan tolong ini. Maaf. Beribu-ribu kali mohon maaf." (Togog)
Dulu, saya mendapat pesan masuk dari seseorang yang saya kenal dan entah mengapa dia bisa mengenal saya(?). tergerak oleh pernyataan dari mas Togog juga, beliau bertanya tentang siapa sebenarnya Togog itu? Tentu saja saya kelimpungan dibuatnya dan sampai sekarang tidak pernah membalas pesannya. Saya merasa bersalah dan ingin menebusnya, jadi saya buat saja satu tulisan utuh (yang mungkin tidak terlalu nyambung juga dengan yang dikehendaki olehnya).
Pernyataan Togog itu, sebetulnya, merupakan ungkapan satir yang saya peroleh dari buku fenomenalnya Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong. Sebuah buku yang ternyata berisi bukan omong kosong, melainkan penuh dengan makna filosopis yang dirajut oleh sebuah alur cerita yang indah (pantas saja karena buku ini, penulisnya mendapatkan hibah hingga serratus juta rupiah! Dan seabreg award yang lainnya juga).
Dikisahkan oleh Juru Ceritera (baca ; dalang) tentang perjalanan hidup dan kehidupan para punakawan (lakon wayang) dengan setting kejadian paska perang akbar yang pernah terjadi ; Bharatayudha. Tetapi dikisahkan dengan sudut pandang yang berbeda, dari seorang perempuan dan laki-laki yang melakukan pengembaraan dan diperjalanan dipertemukan dengan intrik-intrik perwayangan itu. Pengembaraan yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki itu (pelaku yang dibuat oleh sang Juru Cerita) bertekad untuk menemui Juru Cerita (disuatu tempat) dan ingin protes atas suratan hidup mereka berdua yang sudah ditetapkan dan diputuskan oleh Juru Cerita. Ide ceritanya sederhana ; kalau perang bisa menghancurluluhkan sebuah peradaban dan dunia hingga sehancur-hancurnya, kira-kira berapa tahun yang diperlukan manusia untuk membangun kembali dunianya? Hancur dalam artian tidak ada yang tersisa sama sekali selain akal manusia. Semua buku dan ilmu pengetahuan atas hasil capaian manusia-manusia sebelumnya hancur dan tak ada sama sekali yang tersisa. Lebih kurang begitu (*Cmiiw). Untuk lebih lengkapnya sila baca sendiri, sudah ada buku cetakan terbarunya dengan cover putih yang menawan. (saya paling suka ngomporin dan membuat penasaran orang, Haha).
Togog, adalah seorang punakawan yang tak terlalu dikenal, tak terlalu diperhatikan, (mungkin) rakyat jelata, diremehkan, tidak mempunyai keistimewaan apapun selain kenyataan bahwa dia mempunyai pikiran-pikiran yang orisinil dan menarik. Tidak mendapatkan peran yang besar, tapi keberadaannya menjadi pencair suasana. Tipikal orang yang keberadaannya gak dianggap ada, dan ketidakhadirannya juga gak berpengaruh apa-apa. Tapi yang hebat, dia tidak pernah mengeluh dengan takdir hidupnya yang seperti itu. Seolah bukan permasalahan yang besar, kalau seandainya dirinya tidak dihargai dan dipandang oleh orang lain. Saya paling suka tokoh yang kaya begini, tidak mengambil peran pahlawan dan membebani diri dengan sejuta kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Sangat alamiah, nature, dan lebih realistis. Anda boleh tidak setuju dengan selera saya.
Dengan kerendahhatian yang tinggi, Togog, yang dikisahkan sebagai penutup cerita dari buku ini, diandaikan membuat para pembacanya serasa mual setelah membaca tulisannya yang menurutnya jauh dari tulisan yang berkualitas. Meskipun ada nilai dan sarat manfaat, dia menutupi kehebatan bukunya itu dengan permintaan maaf dan serasa menjungkirbalikkan semua tatanan yang sudah ia bangun dalam setiap kata di buku itu. Mungkin, ini juga bentuk kerendah hatian dari penulisnya, Seno Gumira A, yang tidak terlalu ingin menyebut dirinya piawai, tetapi biarlah karyanya itu sendiri yang menunjukan siapa dia dan bagaimana kualitas dirinya.
Dalam hal ini, Togog serasa mewakili keanggunan para penulis. Setelah menuntaskan tulisannya, ia mati. Karena tulisan itu hanya akan dihidupkan kembali oleh para pembacanya. Tafsiran selanjutnya atas tulisan itulah yang sepenuhnya terletak ditangan pembaca. Saya menyadari betul ini, bahwa setiap tulisan yang saya buat (sebagai pembelajaran dan untuk kebutuhan arsip memori) akan mati setelah saya tuliskan. Adapun oranglain yang (kebetulan sedang tersesat dan tiba2 mendapati blog kumuh ini) ikut membacanya, saya tidak tahu bagaimana penilaian dia, tanggapan, pikirannya itu setelah membaca tulisan saya. Dan saya pun cukup tau diri (tanpa diperingatkan oleh siapapun) bahwa tulisan saya jauh dari hal-hal baik dan bagus dalam menulis. Boleh dibilang, tak ada nilainya sama sekali malah, selain terus menerus menulis dan mengutarakan hal yang sama tapi dengan kata dan bahasa yang berbeda. Tapi tak apa, saya menyukai proses. Dan dimasa yang akan datang, mungkin disuatu tempat, saya akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk membaca setiap tulisan-tulisan masa lampau saya ini. Mengingat kembali dinamika perjalanan hidup, pikiran, interaksi dengan setiap orang, dan apa yang telah saya pelajari dari kehidupan ini. Kehidupan yang menawarkan sejuta pengalaman yang indah untuk dikenang.
Dengan begitu, saya mendapati bahwa apa yang telah saya lakukan ini, lho kok mirip-mirip dengan apa yang juga dialami oleh Togog. Makanya, saya gunakanlah pernyataan permintaan maafnya itu untuk dijadikan latarbelakang dalam blog saya ini. Atau, kalau suatu waktu saya terlalu muak dengan blog ini (dan semua yang ada didalamnya), tentu saja, akan lebih mudah bagi saya untuk menghapusnya dan menghilangkannya. Tapi, semoga ada manfaat yang tersimpan disini, meski cuma secuil.
Bandung. Minggu ketiga bulan Juni, Hari Sabtu. 07;00 AM
Minions, Togog Jaman Modern
Minions, Togog Jaman Modern
Minions, sosok lucu bagi anak-anak ternyata dianggap mengerikan oleh orang dewasa. Mereka dianggap Dajjal hingga dipertanyakan mengapa selalu memilih bos yang jahat. Mengapa? (more…)
View On WordPress
T O G O G
Siapakah Togog? Sejak kecil, ketika belajar wayang, saya kenal siapa semar dan bathara guru, tapi tidak dg Togog. Dan ketika mendengar nama itu, nampak asing ditelinga saya, kemudian saya mencari-cari. Dan ternyata... Togog adalah kangmasnya Semar, pamomong para Rasaksa dengan sifat ngeyel mereka. Ada pesan menarik yg saya temukan di salah satu tulisan di kompasiana (buka http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/22/siapa-mau-menjadi-togog-395539.html )