Salah satu trend yang sudah lama berkembang dalam studi filsafat Islam di Indonesia adalah kajian dari perspektif perennialis atau tradisionalis ala Frithjof Schuon dan para pengikutnya seperti Seyyed Hossein Nasr. Kelompok perennialis/tradisionalis mempunyai sejarah yang panjang dan menarik dalam perkembangan pemikiran Barat dan saat ini banyak peneliti di Amerika Serikat dan Inggris yang terpengaruh oleh pemikiran mereka, khususnya mereka yang mengkaji Ibn ʿArabī dan tradisi Ḥikma Mutaʿāliyya. Dari pengamatan saya banyak sekali sarjana Indonesia yang mengkaji perspektif pluralisme dan metafisika para peneliti ini tanpa mengetahui latar belakang historis mereka, tanpa juga sadar bahwa mereka tegolong dalam kelompok perennialis/tradisionalis. Situasi ini memang sangat menarik: setelah eksperimentasi modernisme Harun Nasution, para sarjana Muslim ingin kembali pada khazanah filsafat Islam untuk menjawab tantangan dunia modern tetapi (sadar atau tidak) melalui metodologi dan hasil karya orang-orang Barat yang mengangkat tradisi ini sebagai jawaban atas kritik mereka terhadap kehampaan spiritual dunia modern. Dalam kata lain, dari Timur ke Barat untuk kembali ke sebuah Timur yang 'murni'. Bagi yang tidak mengetahui latar belakang perennialisme/tradsionalisme, terkesan bagi mereka bahwa yang mereka lakukan adalah dari Timur ke Timur yang murni. Tetapi proses hermeneutika ini jauh lebih kompleks daripada itu. Siapapun yang melakukan studi filsafat Islam dengan pendekatan dan terminologi ala Seyyed Hossein Nasr menurut saya tidak terlepas dari proses ini. Sebagai contoh: konsepsi bahwa ada sebuah 'filsafat Islam' atau 'Timur' murni yang berbeda secara epistemolgis dan ontologis dari 'filsafat barat.' Kategori 'filsafat Islam' yang murni adalah sebuah konstruksi konsepsual dan ideologis yang terbentuk pertama kalinya oleh para sarjana yang merupakan bagian dari atau terpengaruh oleh tradisionalisme. Saya rekomendasikan buku karya Mark Sedgwick, Against the Modern World (Oxford University Press, 2004), jika anda ingin mengetahui latar belakang sejarah kaum perennialis/tradisionalis.
'Schuon's "transcendent unity" is behind the emergence of the so-called "Inclusive Theology" that was proposed by "Cak Nur," Nurcholis Majid (1939-2005), and that has been encouraging the spread of religious pluralism in Indonesia. Cak Nur, who did his Ph.D. at the University of Chicago from 1978 to 1984, has had enormous influence on the development of liberal Islamic thought in Indonesia, and his name was even proposed as a presidential candidate in 2004. His Inclusive Theology asserts that Islam is but one way to approach God, because the way to God is very wide and diverse.(1) Religious discourse can thus be expressed through various forms, for example, in Hinduism as Sanatana Dharma, in Taoism as the Tao, and in Buddhism asDharma, all of which represent the primordial tradition, or al-din al-hanif in Islam. Al-din al-hanif, in Allah’s sight, is actually the attitude of resignation (islam) which is common to all religious believers, particularly followers of the scriptures, both Jewish and Christian.(2) All religions teach monotheism (tawhid) and the attitude of surrender (islam), and differ in their exoteric aspects (sharia), and not their esoteric aspect or batin.(3)'