Pernah gak sih, kalian bertanya-tanya, misalnya: “Eh, dia anak pesantren loh, tapi kok lepas-pasang kerudung?” atau mungkin: “Eh, dia hafidz Quran loh, tapi kok pacaran?”
Pertanyaan yang hampir serupa dan mengandung “tapi kok” ini juga dulu tak pernah berhenti hinggap di kepala saya. Meski saya pernah membaca bagaimana aktivitas-aktivitas dan gerakan liberalisasi Islam di Indonesia, tapi dulu selalu ada beberapa hal yang membuat saya heran dan meninggalkan tanya.
Mengapa banyak dosen di kampus-kampus Islam, aktivis di ormas-ormas Islam, dan santri alumni pesantren-pesantren bisa memiliki pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan logika berpikir yang keliru? Padahal banyak orang muslim yang intelektualitasnya biasa-biasa saja atau muslim yang awam tentang Islam atau muslim yang bukan dari background pesantren, tapi masih waras dan berpikir rasional.
Mengapa liberalisasi konsep wahyu yang menggugat otentisitas Al-Quran Mushaf Utsmani dan as-Sunnah begitu mudah diterima oleh para intelektual muslim yang saya sebut di atas? Bukankah sejak kecil dan di pendidikan formal kita selalu diajarkan sedikit-banyak tentang apa itu Al-Quran dan bagaimana isinya?
Mengapa liberalisasi syariah yang menghancurkan hukum-hukum Islam dan menghapus keyakinan umat terhadap “syariah problem solving” bagi segala permasalahan kehidupan manusia begitu mudah diterima mereka? Bukankah kita sering dijejali pemahaman “Islam adalah solusinya”? Dan bukankah harusnya mereka paham bahwa Islam memiliki ciri khas istinbath tersendiri? Mengapa mereka seenaknya ber-ijtihad via Orientalis?
Mengapa pluralisme agama dengan mudahnya oleh mereka dijadikan bentuk toleransi beragama? Bukankah dengan bersyahadat berarti kita sudah paham atas konsekuensinya bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan paling sempurna?
Mengapa mereka dengan mudahnya tergiur memandang dan memahami Islam dari kacamata Orientalis?
Mengapa mereka semudah itu terpengaruh doktrin ‘isme-isme’ yang merupakan karangan manusia?
Kalo virus 'isme-isme’ itu menjangkiti orang muslim yang minim pondasi dan pengetahuan Islamnya—misalnya saja selebritis—itu masih wajar menurut saya. Tapi kalo itu menjangkiti para intelektual muslim yang saya sebutkan di awal, rasanya sulit dipercaya atau gak make sense. “Kok bisa ya?”.
Bukankah para intelektual muslim itu harusnya memiliki pondasi aqidah dan pemahaman syari’at yang lebih baik ketimbang muslim yang awam? Logika saya masih belum bisa menerima. Sebab saat mereka tersentuh dengan berbagai aliran-aliran pemikiran dan filsafat, harusnya mereka lebih bisa membendung dan membentengi diri ketimbang muslim yang awam.
Bukan itu saja. Mereka (terutama santri dan alumni pesantren) yang punya bekal beberapa fan ilmu dan ilmu-ilmu dasar lainnya harusnya lebih bersikap kritis dan mau effort untuk menelaah ‘isme-isme’ itu dari sisi historisnya. Padahal sudah ada contohnya, misalnya ideologi feminisme. Lihat saja, aliran-aliran feminisme Barat yang mengandalkan kekuatan akal manusia sudah terbukti gagal dan gak mampu membawa masyarakat ke dalam keadilan dan keharmonisan. Kan lucu, mereka pengen berkiprah di ranah publik dan lepas dari tanggung jawab domestik, tapi justru mempekerjakan wanita sebagai pembantu di rumahnya. Adil gak tuh? Wqwq
Mengapa mereka latah terhadap Barat dan menganggap teori-teori yang ditawarkan oleh para Orientalis adalah suatu hal yang bergengsi?
Kemungkinan besar jawabannya adalah:
Ya Rabb, tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
Jember | Sabtu, 23 Oktober 2021