Tuan Langit
"Mas, tau tidak kandungan hujan apa?"
"100 persen air?"
"Bukan, Mas. Tapi, 99 persen kenangan 1 persen air"
"Hahahaha"
Setelah percakapan ini berakhir hujan belum juga berhenti. Tau saja aku masih mau duduk sama Lia, gatau ya kalau Lia juga mau apa tidak.
--
Namanya Lia. Nama lengkapnya tidak perlulah kusebut, toh kalian juga tidak bakal tau dia siapa. Rasanya hidup jadi lebih berwarna setelah ketemu Lia. Pertama ketemu Lia rasanya biasa-biasa saja, sekarang rasanya luar biasa.
"Mas lebih suka hujan atau langit cerah?"
"Hujan kali ya, soalnya cuaca jadi sejuk. Tapi cerah oke oke juga"
"Hahaha ya itu namanya suka dua-duanya dong, Mas"
"Kalau kamu suka yang mana?"
"Lia sih daridulu sukanya langit biru, tapi akhir-akhir ini Lia terima-terima saja kalau langit mau jadi biru atau langit lagi mau hujan, yang mana bikin langit senang Lia juga jadi ikutan senang"
Lia itu kalau lagi bicara bikin lawan bicaranya tenggelam di matanya yang hitam. Seperti aku. Ah, Lia kamu ini.
--
Namaku Langit. Iya, aku langit. Nanti kalau ada waktu, kuceritakan tentang bagaimana kisahku dan Lia ke kalian.
---
-din.












