Memilih berkarir atau mengurus rumah?
Suatu pagi yang damai lagi asik scroll salah satu medsos, tidak sengaja baca status salah seorang perempuan kalau sebenarnya perempuan yang sudah menikah itu tempatnya di rumah, mengerjakan segala bentuk pekerjaan rumah mulai dari memasak, mencuci, bersih-bersih, jaga anak, dan lain sebagainya. Sebenarnya yang perempuan sebutkan itu tidak ada salahnya, tapi kok ya semakin statusnya dibaca ternyata makin menyudutkan wanita karir. "perempuan yang bekerja itu tidak mengikuti sunnah agama" katanya, juga "wanita yang kerja itu sudah mempersiapkan diri jadi janda ya". hah..
Saya hidup di keluarga yang hampir semua perempuan di dalamnya bisa dibilang memiliki pekerjaan, baik itu bekerja di pemerintahan, swasta, maupun wirausaha.
Jadi mama saya.. tante saya.. saudara-saudara saya emm.. em... tidak taat agama?
Salah satu kata-kata Mama yang paling saya ingat dan akan terus diingat, "perempuan harus tetap punya pekerjaan, nanti kalau sudah berkeluarga jangan bergantung sama uang suami. Walaupun tidak punya pekerjaan tetap, perempuan harus tetap bekerja. Mau beli tas? ya tinggal beli. Tidak perlulah tunggu uang atau hadiah dari suami".
Selain kelebihan bisa beli tas sendiri, menurut saya finansial di keluarga jauh akan lebih stabil. Tidak jarang terjadi perceraian selain karena kekerasan, hal lain yang menyebabkan juga karena masalah ekonomi keluarga. Yang laki-laki merasa tidak sanggup membiayai segala kebutuhan rumah tangga, sedangkan perempuan yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali bingung harus menutupi segala biaya dengan cara apa. Hal-hal seperti ini yang akan memicu percekcokan bahkan kekerasan dalam keluarga dan dapat berujung perceraian.
Salah satu contoh yang paling dekat dengan kehidupan saya, Mbak yang kurang lebih sudah bekerja di rumah selama 11 tahun tiba-tiba ingin berhenti bekerja karena akan segera dipinang oleh kekasih hatinya. Hampir 2 tahun berlalu setelah mereka berdua menikah, mama tiba-tiba dapat pesan dari Mbak, katanya dia minta bisa kembali kerja lagi di rumah, alasannya? untuk beli susu dan popok anak. Sebab gaji perbulan suaminya tidak cukup untuk membayar semua kebutuhan hidup mereka setiap bulan.
Selain itu, berpikir segala kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi salah satunya juga bagaimana kalau suami tiba-tiba pergi, mau itu pergi dipanggil Yang Maha Kuasa ataupun pergi dan berpaling ke wanita lain. Karena sejatinya kita ini tidak hidup di dalam negeri dongeng, terkadang ada hal-hal di luar keinginan kita yang tanpa diminta-minta bisa terjadi. Ada baiknya kan kalau kita punya backup uang untuk hidup mandiri?
Tetapi, saya menulis ini bukan berarti serta merta tidak setuju dengan perempuan yang memilih menjadi IRT. Karena sebaik-baik pekerjaan wanita di luar sana, mengurus keluarga adalah yang nomor satu. Saya sangat terkesan dengan perempuan yang bisa memilih untuk mendedikasikan hidupnya untuk mengurus keluarga, karena saya tau itu bukan hal yang gampang untuk dikerjakan, perlu hati yang kuat untuk melalukannya. Begitupun dengan perempuan yang memilih untuk berkarir, bukan hal yang mudah untuk membagi fokus antara keluarga dan pekerjaan, perlu tenaga ekstra untuk melakukannya.
Jadi, mau itu menjadi perempuan yang berkarir ataupun ibu rumah tangga tidak ada yang salah, semoga letihnya menjadi amalan yang berlipat-lipat pahalanya dan diridhai oleh Allah SWT. Aamiin.. Sebab semua perempuan itu hebat dengan segala pilihan yang telah mereka pilih.
Dari aku, yang nanti akan mengurus keluarga dan pekerjaan.