Meningkatkan Kualitas Diri
Maghrib tadi, sebuah chat dari adik tingkat masuk ke whatsappku, mentrigger diri untuk menulis. Mengutarakan yang sempat terbersit.
“Mba Dije gimana kabarnya? Dirumah ngapain aja?“
Lalu termenung dan menjawab dengan panjang.
“Apa yaaa. Lagi ningkatin kualitas diri dek, ceilah bahasanya wkwk. Lagi berusaha buat lebih memaknai aja keseharian dirumah. Contohnya ngga tidur abis shubuh, cuci piring pagi pagi, cuci baju, jemur baju, masak buat keluarga, deep talk sama ortu, deep talk sama circle pertemanan, ngobrol bareng each person of adek adek. Sederhana sih, tapi bikin bahagia rasanya hehe.” Ujarku setelah berpikir lama.
Lalu ngobrol ngalur ngidul lah kita, di tutup dengan saling menyemangati.
Juni, Pandemi, dan berkurangnya jatah usia. Tepat hari ini, memasuki dua puluh.........berapa hayo? Wkwkw. Sudah menjelang matang, tahun depan masuk seperempat abad.
Seharian ini, merenungi berbagai hal yang datang dan pergi dalam hidup. Tentang meningkatkan kualitas diri, apa sih sebenarnya yang harus diperhatikan?
Kalau di urai, tentu banyak hal yang harus ditingkatkan. Tapi hari hari ini aku sedang berfokus pada 2 hal. Habbits dan ibadah. Melanjutkan target pasca ramadhan, dan memaksa diri untuk keluar dari zona nyaman.
Kalau kemarin kemarin, masih bisa ketemu orang lain dengan bebas. Saat pandemi, tentu kita lebih banyak berkutat dengan diri sendiri. Tapi udah bahagia belum sih selama ini? Hal itu yang mengawaliku untuk membuat habbits baru. Yang sebelumnya hanya satu dua kali beberes rumah, sekarang jadi lebih sering. Yang tadi hanya sekedarnya aja buat masak, sekarang jadi mencintai dan menikmati tiap kupasan bawang yang kadang bikin mata nangis. Yang tadinya biasa aja pas ngobrol sama ortu, sekarang jadi lebih memaknai tiap ucapan juga selalu mengulik bagaimana mereka bisa survive.
Yang tadinya biasa aja berinteraksi sama adek adek, jadi lebih banyak tau apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Kadang juga ngasih nasihat, tapi ujung ujungnya pasti entar di ledekin wkwk.
Meningkatkan kualitas diri versiku bulan ini, adalah menambah lagi rapal do’a do’a panjang. Mencoba bercerita pada yang memiliki hidup dan mati, pada yang memiliki segala rezeki, pada yang memiliki skenario terbaik untuk setiap hambaNya. Mencoba, benar benar jatuh di hadapanNya dan bercerita betapa fakir, hina, tak punya apa apa aku di hadapaNya.
Lalu bersyukur dengan setiap fase yang telah banyak dilalui, dikelilingi orang orang baik, di beri supporting system, tak di biarkan hambaNya ini sendirian.
Jadi, di hari genap berkurangnya jatah usia. Aku ingin berterimakasih kepada seluruh teman teman, saudara, kakak, adik, orang tua, yangti, yangkung, dan semua pembaca, siapapun yang membaca. Terimakasih, karena telah menjadi kalian dengan segala ketulusan. Energi baik itu menular, jadi jangan berhenti menebar kebaikan dimanapun berada ya!
Lorong kehidupan, 7 Juni 2020 | 22.03














