#22 — Teguh atau Runtuh
Kita semua adalah manusia yang terluka. Berupaya baik-baik saja dengan kepura-puraan yang dibiasakan. Sudahkah kita terbiasa?
Berlarut pada usia yang makin mendewasa. Jejak terjal terasa meradang. Kian hari kian menyesakkan. Pola kerdil tentang menjadi dewasa sejati-jatinya.
Ada yang masih setia pada masa lalu, terlumat ingatan bising. Diri yang terisak sakit sejadi-jadinya. Memberi vibrasi pada masa kini yang tanpa sadar terakumulasi. Rasa dan pikiran kerdil, kini membumi pada tiap langkah pun pilihan yang dihidupkan, detik ini juga. Terwujud pada diri yang merasa mengganjal, tak lepas, terjerat dengan ketidaktahuan dan kebingungan.
Ada yang memilih setia pada masa kini, memaksa diri untuk terbiasa. Iya, menganggap semua yang telah berlalu jadi garis masa lalu. Namun, jejak sakit itu sekedar dihindari hingga suatu saat terjatuh dalam hempasan isak tanpa sebab. Masih sakit, serasa-rasanya. Sesekali, tertunda, terasa lagi, terulang dan berulang.
Ada yang langsung menerjang ke masa depan, fokus pada apa-apa yang baik untuk dilakukan. Setia pada pemulihan dan perbaikan tak jarang ke arah perubahan. Sebuah lompatan tajam, ya, pola memaksa ekstrem bagi diri, boleh jadi, diri masih terjerembab di masa lalu atau tertatih-tatih di masa kini. Langkah seperti miskin energi, terpasung dalam kekosongan dan kerumitan. Tanpa jalan keluar, tidak tahu, bingung, anehnya seperti "baik-baik saja."
Seluruhnya, bicara soal pola yang belum usai.
Perihal rasa sakit dan pikiran kerdil dengannya perlu ditata sedemikian rupa.
Pola perlahan-lahan yang mestinya dihidupkan.
Sebab diri masih dalam keraguan, berlari dalam halunya jalan keluar, tersandera pada rasa "baik-baik saja", sesekali berbinar pada lompatan peluang padahal pilihan yang makin menjauhkan diri pada kesejatiannya.
Masih bertarung pada rumitnya pertanyaan yang tak kunjung terjawab, sesekali mengernyitkan dahi berupaya mencari jalan keluar, sekali lagi.
Nyatanya, memang begitu adanya...
Bahwa hidup berarti sebuah proses panjang, tanpa harus terlalu berlebihan, perlahan tetap pada pola menikmati, tak perlu terburu-buru, melalui atau segera menyudahi.
Ada berjuta-juta alasanNya, tanpa harus segera kita ketahui ujungnya.
Berilah kesempatan pada diri untuk belajar memahami, sekali lagi.
Ada banyak cara dalam memahami, dengannya kita perlu mulai menikmati. Segala proses tanpa tapi. Bertahan, boleh jadi, salah satu cara terkuat.
Berupaya teguh atau memilih runtuh, setia jadi pilihan kita semua sebagai manusia yang terluka. Tetaplah, semua pilihan seiring resiko, dengannya kita perlu tanggungjawab seserius-seriusnya. Tanpa tapi, lagi-lagi.
Pertanyaan selanjutnya,
Masih beranikah dirimu untuk menikmati sebuah seni keteguhan, sekali lagi?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin










