Segalanya Kini Soal Angka
Hari ini, segalanya dinilai dari angka Dimulai dari linimasa media sosial yang riuh Berlomba menjadi paling tinggi di langit maya Hingga lupa berteman di dunia nyata
Soal harta pun begitu rupa Siapa menimbun paling banyak, dialah juaranya. Tapi angka-angka itu malah menjauhkan rasa Membuat rumah tak lagi ramah, dan tawa jadi barang yang langka.
Bahkan kegiatan sosial ikut disaring dengan kalkulasi “ada bayarannya, nggak?” jadi pertanyaan utama. Tak salah memang, tapi sering hati ini bertanya-tanya: Apakah nilai kebaikan kini hanya sebatas angka dan dana?
Bahkan anak-anak kini mulai bicara angka “aku bantu, tapi dibayar berapa?” Belum sempat tumbuh rasa, sudah diajari timbangan upah Seolah ketulusan tak penting selama tak bawa selembar rupiah.
Aku tak ingin jadi suci apalagi merasa paling benar, tapi di tengah hiruk-pikuk yang makin hingar Aku hanya ingin mengingatkan diri sendiri: Bahwa hidup tak selalu tentang lebih banyak, tapi lebih berarti.










