"When everything is easy, one quickly gets stupid" – Maxim Gorky
Aku takkan pernah lupa momen itu.
Kala itu kami sedang berjalan turun dari Puncak Gunung Gede. Aku dan teman-teman satu tim sedang mengikuti sebuah jambore yang diselenggarakan oleh sebuah provider peralatan outdoor. Fisa, anggota terkecil di tim kami yang berusia 3 tahun, meminta istirahat. Ayahnya yang terus menerus menggendong Fisa di Liftback Child Carrier-nya juga sudah tampak kelelahan. Tak dapat dipungkiri, aku dan teman-teman lain pun sudah lelah. Kami kemudian memutuskan untuk beristirahat.
Ketika tengah beristirahat, lewatlah seorang laki-laki. Rasanya ada yang ganjil dari orang itu. Kuamati dari atas sampai bawah. Laki-laki itu.. kakinya hanya satu. Ia bertumpu pada dua trekking pole di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Laki-laki itu berjalan dengan cepat. Tidak, aku salah. Dia tidak berjalan. Dia setengah melompat.
Aku, pun semua orang di sekelilingku terpana.
Apa kau tahu? Alih-alih kami, orang berkaki satu itu yang malah menyemangati:
“Ayo semangat! Jalan lagi! Sebentar lagi sampai. Adek, hebat sekali kecil-kecil udah naik gunung. Jangan nangis ya..”, serunya pada kami semua. Juga pada Fisa.
Seketika bulu kudukku merinding. Serempak, semua orang yang dilewatinya kemudian balik menyemangati orang berkaki satu itu. Suasana itu.. Amat lekat dalam ingatanku.
Demikian laki-laki berkaki satu itu, dikenal. Bang Gorky kehilangan kakinya karena kecelakaan kereta api. Kaki kanannya harus dioperasi berkali-kali bahkan sampai akhirnya diamputasi. Bang Gorky tentu sempat kehilangan harapan. Namun, bukan ‘Sabar’ namanya, kalau tidak sabar. Bang Gorky akhirnya mampu bangkit kembali. Ia tak kehilangan harapan untuk tetap hidup dan berjuang.
Dengan keterbatasannya, Bang Gorky bisa menafkahi keluarganya. Ia memilih untuk menjadi seorang tukang cuci. Bukan tukang cuci biasa, yang ia cuci adalah gedung-gedung tinggi. Bang Gorky mampu memanjat gedung dengan tinggi puluhan meter, hanya bergantung pada seutas tali dan alat pengaman. Pekerjaan yang ekstrim ini ternyata memberinya skill memanjat bak pemanjat profesional. Pekerjaan ini pula yang pada akhirnya menghantarkan Bang Gorky menjadi juara di kejuaraan memanjat dinding tingkat dunia di Korea. Prestasi ini diraih Bang Gorky, tanpa latihan sama sekali. Luar biasa, bukan?
Sabar Gorky juga dikenal sebagai seorang pendaki. Setelah kakinya diamputasi, ia ternyata nekat naik gunung lagi. Lawu, Semeru, Merbabu, Merapi, Sumbing, Sindoro, Gede, dan deretan nama gunung lainnya di Indonesia rupanya sudah ia jelajahi. Tak hanya sampai disana, ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa seorang tunadaksa sepertinya juga mampu berprestasi. Siapa yang pernah mengira kalau laki-laki tangguh ini pernah merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-66 di Puncak Elbrus, gunung tertinggi di Eropa? Bang Gorky bahkan diapresiasi oleh Presiden SBY karena menjadi tunadaksa Asia pertama yang sampai di Puncak Elbrus melalui jalur utara, sang ‘Jalur Setan’. Dengan satu kaki, melewati jalur yang lebih panjang, Bang Gorky sampai di Puncak Elbrus tepat tanggal 17 Agustus 2011 pukul 16.45 waktu setempat. Sampai di puncak, Bang Gorky tersungkur haru. Ia bersujud lalu shalat dua rakaat, sebagai tanda syukurnya pada Sang Pencipta.
Tak hanya Elbrus, Bang Gorky juga pernah mendaki Gunung Kilimanjaro dan berhasil sampai di puncak gunung tertinggi di Afrika itu, tanpa dibantu oleh orang lain. Bang Gorky juga menjadi pembawa obor di ASEAN Paragames VI lalu. Tugu Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta, sudah beliau jelajahi hanya dalam waktu 10 menit. Terakhir, pendaki asal Solo ini mendapat peringkat empat besar dunia dalam World Championship Difable Climbing Competition, 12-16 September 2012 di Bolevard Berci, Paris, Prancis.
Rasanya banyak sekali prestasi yang Bang Gorky torehkan untuk Indonesia. Indonesia sudah terlampau bangga dengan ayah satu anak ini. Prestasinya sudah melangit, tapi Bang Gorky masih terus membangun mimpi yang ingin ia raih. Inilah yang luar biasa dari sosok Bang Gorky.
Jatuh, musibah, kegagalan; adalah hal yang wajar. Semua orang pasti pernah mengalami. Tapi tak banyak orang yang bisa bangkit setelah jatuh. Bagi Sabar Gorky, jatuh justru membuatnya melompat lebih tinggi. Ia tahu persis bahwa impian yang ia retas hanya akan jadi angan-angan, jika tak diiringi langkah nyata. Memang tak mudah dicapai, tapi ia pantang menyerah. Langkah demi langkah ia titi, impian demi impian pun ia raih. Baginya, keterbatasan sama sekali bukan hambatan. Laki-laki ini, sungguh berdaya juang tinggi!
Karenanya, laki-laki ini dinamakan Sabar Gorky.
Kata 'Gorky' disematkan oleh seorang staf KBRI Rusia bernama Aji Surya, sebagai nama belakang Sabar. ‘Gorky’ diambil dari nama seorang sastrawan Rusia yang bernama Maxim Gorky. Maxim Gorky juga menjalani perjuangan yang keras sampai akhirnya sukses menjadi maestro pada eranya. Nama ‘Gorky’ yang disematkan pada Sabar menjadi lambang bahwa proses yang pahit akan menjadi manis, lewat kerja keras. Nama itu memberikan arti bahwa tidak ada hal di dunia ini yang dapat diraih tanpa melalui kesulitan terlebih dahulu.
Tiba-tiba aku teringat perkataan Fisa pada ayahnya di 27 Mei 2012 lalu. Persis ketika Bang Gorky lewat dan menyemangati kami yang tengah beristirahat.
“Apa, Om itu hebat ya. Teteh juga mau jalan lagi.”
Aku tertegun sesaat, lantas berdiri dan mengencangkan tali carrierku. Kugenggam tangan Fisa, lalu kami kembali berjalan. Pertemuan kami dengan Bang Gorky sangat singkat, tapi sungguh membekas. Fisa saja yang masih kecil bisa merasakan aura semangat Bang Gorky, dan ingin segera berjalan agar sampai di tujuan. Aku tak mau kalah. Betapapun sulitnya, aku juga pasti bisa sampai tujuan. Apapun, dimanapun, dan bagaimanapun itu.
Kolong Langit, 29 Desember 2012