Aku.
Hari ini aku ingin berbagi rasa sesalku.. Tentang keegoisanku, tentang kerasnya hatiku.
Ini lah aku, yang seringkali acuh dengan tanda cintaNya. Ini lah aku, yang seringkali memenuhi suara ronta nafsuku.
Perkenalkan, sekali lagi. Ini aku yang selalu menyalahkan keadaan. Mengkambing hitamkan lingkungan sekitar. Mencari korban atas segala sesuatu yang menimpaku. Kejam bukan? Tentu saja. Saat menuliskannya pun, tak habis pikir aku atas diriku.
Aku lalai. Terperosok jatuh pada lubang yang ku ciptakan sendiri. Konyolnya, aku menangis dan meratapi diriku sendiri. Berteriak berkali-kali, meminta uluran tangan, meminta orang-orang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarikku.
Beruntungnya, masih ada tangan bersedia menarikku. Membawaku ke permukaan. Melakukannya dengan penuh ketulusan.
Aku tak pandai mengucap syukur, tapi hatiku bergetar saat tangan-tangan kokoh tersebut diciptakan untuk menjadi perantara Tuhan menyelamatkanku. Sementara aku, berwujud hitam berbalut kehinaan.
Ini kah yang disebut anugerah?
Bukan hanya sekali, beberapa kali Tuhan hadir dalam "wujud lain-Nya." Menuntunku, membimbing, dan memaafkan salah khilafku. Lantas, di mana rasa malu ku? Pun rasa tau diri ku?
Hitamku, tak pernah menyurutkan cinta kasihMu. Begitu pun dengan cinta kasihMu, mampu meleburkan kerasnya hatiku.












