Tentang Uda dan Uni: Masih Adakah?
Di rantau, aku acapkali mendapat pertanyaan, “Panggilan untuk laki-laki dan perempuan di Minang apa, Mbak?”
Aku selalu menjawab, “Uda untuk laki-laki yang lebih tua dan uni untuk perempuan yang lebih tua.” Mereka mengangguk-angguk lantas memanggilku dengan sebutan uni sekalipun aku lebih muda dari mereka. Di Minangkabau, panggilan uda/uni benar-benar diperuntukkan bagi orang yang lebih tua. Berbeda dengan fenomena di Jawa yang sempat kuamati bahwa seorang guru bahkan menyematkan mas/mbak sebelum nama siswanya. Ini menarik. Oh, namun bukan itu yang ingin kubicarakan. Aku ingin membahas, “Benarkah panggilan uda/uni masih digunakan di Minangkabau?”
Jika ingin tahu jawabannya, marilah kujelaskan sedikit.
Bagaimana sebenarnya panggilan di Minangkabau untuk kakak laki-laki dan perempuan? Dalam bahasa Minangkabau, kakak laki-laki dipanggil uda dan kakak perempuan dipanggil uni. Namun nyatanya, memang sudah jarang sekali panggilan Uda dan Uni digunakan secara refleks oleh anak-anak zaman sekarang (kalau zaman orang tua sepertinya sudah terbiasa menggunakan uda dan uni).
Nah, jika Tuan dan Puan hendak ke ranah Minang, Tuan dan Puan akan mendapati anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa memanggil pemuda yang lebih tua darinya dengan panggilan kakak (untuk perempuan) dan abang (untuk laki-laki). Tidak salah memang, panggilan ini diterima pula di masyarakat sebab abang berasal dari bahasa Melayu. Sementara itu, bahasa Minangkabau dikatakan masih berkerabat dengan bahasa Melayu. Hanya saja, penyebutan uda/uni semakin langka dan jika diterapkan seperti layaknya menggunakan abang/kakak jadi terasa aneh untuk situasi biasa.
Fenomena ini juga terjadi padaku. Jika bertemu dengan kakak tingkat, aku refleks memanggil abang/kakak. Jika berkenalan dengan orang pun dan mengetahui ia lebih tua, aku juga refleks memanggilnya abang/kakak, tidak pernah uda/uni. Namun, bukan berarti uda/uni tidak digunakan sama sekali. Berikut empat situasi orang menggunakan panggilan uda/uni sekarang ini.
1. Situasi pertama: Menggunakan panggilan Uda/Uni untuk orang yang benar-benar tidak dikenal, biasanya para pekerja/penawar jasa, misalnya pada sopir angkot dan pedagang.
Contohnya, saat penumpang ingin turun dan meminta angkot berhenti, kalimat yang muncul adalah, “Kiri, Da.” (Da adalah penyingkatan bunyi dari uda) Jarang sekali terdengar “Kiri, Bang.”
Atau saat jual-beli, “Bara ko ciek, Ni?” (Ini (harganya) berapa, Kak?)
Kami refleks—atau lebih sering—menggunakan panggilan uda/uni dalam situasi ini. Namun kembali lagi, mengapa tidak bisa refleks pada orang yang kita kenal (yang bukan anggota keluarga)?
2. Situasi kedua: Menggunakan uda/uni bukan sebagai panggilan, tetapi sebagai gelar dalam ajang pemilihan pemuda/i berprestasi yang kemudian dinobatkan sebagai duta wisata di Sumatra Barat. Sama halnya dengan Kakang Mbakyu di Jawa Timur.
3. Situasi ketiga: Menggunakan panggilan uda/uni untuk kakak laki-laki/kakak perempuan di dalam keluarga (jika sudah dibiasakan dari kecil). Tidak semua keluarga Minangkabau yang memberlakukan panggilan uda/uni untuk saudara yang lebih tua di rumahnya. Ini terjadi dengan alasan tertentu dari keluarga masing-masing. Jadi, jika ada seorang adik memanggil kakak laki-laki dengan panggilan uda atau kakak perempuan dengan panggilan uni itu karena memang sudah dibiasakan, bukan karena kesadaran dengan panggilan dalam bahasa Minangkabau. Mengapa bukan karena kesadaran? Sebab di luar rumah, misalnya saat bertemu dengan tetangga, laki-laki, lebih tua darinya, anak itu memanggilnya abang, bukan uda. Ini fenomena yang sering terjadi karena mayoritas orang di lingkungannya menggunakan panggilan abang/kakak sehingga muncullah stereotip (terutama bagi saya) bahwa uda/uni digunakan hanya untuk panggilan keluarga inti, bukan untuk orang yang baru sana dikenal.
4. Situasi keempat: Menggunakan panggilan uda/uni untuk orang dekat/spesial.
Pertama, untuk panggilan uda. Ini tidak mutlak terjadi, tetapi saya mendapati ini saat mendengar ibu saya memanggil ayah dengan panggilan uda. Jadi, saya berasumsi bahwa uda digunakan untuk panggilan kesayangan. Maka, saking sempitnya makna uda yang lahir dari situasi ini, saat ada perempuan muda yang belum menikah memanggil uda kepada seorang lelaki di depan teman-temannya, siap-siap disahuti “ciee…”. Aku rasa, stereotip yang muncul di situasi keempat inilah yang membuat orang-orang enggan menggunakan uda untuk memanggil orang yang sudah ia kenal dalam pertemanan sebab uda sudah mengalami menyempitan makna dari makna aslinya.
Kedua, untuk panggilan uni. Saya pribadi menggunakan panggilan uni untuk teman dekat perempuan yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri atau teman-teman yang memperlakukanku sebagai adik. Biasanya panggilan ini muncul saat bercanda. Oleh karena itu, panggilan uni dalam situasi ini tidak permanen sebab pada kenyataannya saat kami bertemu secara langsung, saya tetap memanggil namanya karena kami sebaya.
Empat situasi di atas bukan sebuah peraturan ya. Itu hanya gambaran fenomena di ranah Minang yang kuamati saat ini yang juga terjadi pada diriku sendiri. Aku sendiri tidak pernah bisa memanggil uni kepada seorang perempuan yang lebih tua–kecuali kakak kandungku–karena sudah terbiasa menggunakan kata kakak. Apalagi jika berkenalan dengan laki-laki yang lebih tua. Aku tidak memanggilnya uda karena maknanya yang sudah menyempit tadi. Namun, jangan khawatir untuk pelancong yang datang ke ranah Minang, kami sangat senang jika dipanggil uda/uni.
Lalu, jika teman di rantau bertanya, “Jadi kamu mau dipanggil uni atau kakak?”
Aku akan jawab, “Panggil aku uni karena aku tidak pernah dipanggil uni selama ini.”
“Tidak pernah dipanggil uni sekalipun? Bahkan oleh adik kandungmu sendiri?” mungkin temanku bertanya seperti itu.
“Aku tidak punya adik.” ‘Kan kujawab seperti itu.
***
Malang, 23 Januari 2019

















