UKPIM?
Apa itu UKPIM? Dan mungkin aku sudah sering post/update UKPIM di akun-akun sosial media lainnya. UKPIM merupakan singkatan dari Unit Kreatifitas dan Pengembangan Intelektual Mahasiswa yang ada di Universitas Bhayangkara Surabaya. Lantas, apa hubungannya aku dengan UKPIM?
Tahun 2012, di masa pertama aku baru kuliah, aku memutuskan untuk bergabung di UKPIM. Sebagai UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang memberi wadah bagi hobi menulisku. Sebab, mereka senior saat promosi menyebutkan ada bidang jurnalistik sebagai program kerjanya.
Sampai saat ini, aku menyebutnya sebagai Rumah Kedua, bagiku. Mengapa? Semakin melihat perkembangan adik-adik yang bergabung di UKPIM, aku sebagai alumni semakin speechless. Mungkin orang boleh menyebutku lebay/berlebihan. Iya, tak apa. Karena, proses yang dilalui seseorang kadang hanya terlihat hasilnya saja. Orang kadang tidak paham dan memang tidak harus semua diceritakan bagaimana jatuh bangun seseorang dibalik keberhasilannya.
Banyak rintangan dan perjuangan aku lalui bersama UKPIM, banyak pecutan dan semangat aku peroleh darinya. Salah satu yang aku ingat dan harus selalu diingat, cerita seniorku tentang ilmuwan-ilmuwan terdahulu, mereka mempelajari sesuatu hingga jarang sekali tidur, atau hanya sedikit durasi jam istirahat mereka. Sampai akhirnya mereka menjadi penemu banyak benda yang sekarangpun kita gunakan sebagai pendukung kehidupan kita. Dan, pelengkap cerita itu dari Founding Father UKPIM bernama bang Rahim berpesan, padaku,
“Tugasmu, tugas kita semua dan langkah UKPIM adalah belajar. Tak lain, hanya belajar. Baik saat jadi anggota ataupun alumni, baik masih sebagai mahasiswa atau sudah lulus, tugas kita hanyalah terus belajar. Dan jangan pernah berhenti belajar.”
Saat itu, kondisi UKPIM benar-benar memerlukan perhatian agar terawat dengan baik. Lika-liku organisasi selalu ada saja, *untuk kalian yang aktifis organisasi pasti paham. Aku noted kata-kata bang Rahim tadi. Dan aku jadikan pengarahku saat menjabat sebagai BPH (Badan Pengurus Harian) UKPIM kala itu. UKPIM sedang membutuhkan banyak SDM saat aku menjabat saat itu, dan aku ditinggal BPH sebelumnya untuk study ke Thailand. UKPIM masih dipandang sebelah mata, karena dasar pembelajarannya memelajari Filsafat Modern, yang notabene beberapa tokoh didalamnya sensitif sekali membahas tentang Agama. Karena hal itu, UKPIM disebut UKM Atheis, tak berTuhan, tak punya agama, dsb. Mendapat 1 orang anggota baru dari Maba saja sudah bersyukur, rasanya.
Maka, yang aku pikirkan kala itu hanya satu hal,
“Bagaimana caraku membuat UKPIM sebagai wadah teman-teman bisa saling belajar agar kebermanfaatan itu tumbuh dan bisa mengembangkan UKPIM sendiri?”
Sebab sayang sekali, UKPIM sebagai penggerak mental belajar di kampusku malah dikucilkan banyak orang, tidak dianggap keberadaannya dan dipandang sebelah mata. Langkah pertama, kami coba untuk membuat program kerja baru berupa Majalah UKPIM. Latar belakang kami membuat program kerja Majalah, sebagai wadah kreatifitas teman-teman dan mungkin bisa sebagai media promosi UKPIM juga.
Aku atur langkahku dan tim BPH UKPIM saat kami menjabat, dan Alhamdulilah atas izin Allah, UKPIM berhasil. Kemarin saat Diklat Dasar 2018 yang aku hadiri, terdapat 26 anggota baru dengan Program Kerja UKPIM sekian banyak, sampai ada anggota yang bercerita padaku jika tahun ini akan membuat Majalah UKPIM 2 kali dalam setahun.
Dan serentetan ide-ide anggota baru dan anggota aktif UKPIM kemarin yang aku dengar beserta perbaikan intern organisasi yang telah mereka lakukan hingga kini. Aku hanya bisa mengucap syukur padaNya, terharu dan tak bisa berkata-kata. Termasuk video di atas merupakan ide kreatif mereka. Bangga dan rasanya ingin memeluk mereka.
Kehadiran Filsafat Modern memang akan sensitif dan menjadi responsif bagi kita yang belum belajar mendalam sebab-akibat dan deskripsi perjalanan pola pikir tokoh-tokoh Ilmuwan terdahulu, sampai mereka menyinggung agama. Namun ketika kita telah mempelajarinya, sebisa mungkin kita pasti paham penempatan diri untuk sejauh mana membawa keyakinan kita dan sedekat apa kita perlu menganalisa agar mendapat inti dari ilmu Filsafat Modern itu sendiri. Kita harus membawa ilmu sebagai tambahan wawasan, bukan sebagai batas kita belajar.
Bagiku pribadi, setalah belajar Filsafat Modern sangat membantuku untuk produktif menulis dan kreatif menulis dengan banyak kacamata tokoh-tokoh Ilmuwan di dalamnya. Dan, bagus untuk mengubah pola pikirku agar tidak menelan informasi mentah-mentah, menganalisa terlebih dahulu sebelum terkena HOAX atau sebelum berkomentar yang semestinya tidak perlu disampaikan.
UKPIM bagiku, sebagai penggerak mental belajar seseorang di era millenial yang penuh kemudahan sekarang ini. Bagaimana perjuangan dan proses belajar dilalui, aku dapat dari cara belajar di UKPIM, cara belajar dan berbagi ilmu senior-senior di UKPIM. Sebab bagiku yang perlu direvolusi mental remaja saat ini adalah cara belajar mereka. Bagaimana budaya salin dan tempel (Copas/Nyontek/Plagiasi) agar dikurangi dan tidak menjadi kebiasaan. Belajar itu menyangkut banyak bidang dan hal, apapun harus dipelajari dan dipahami terlebih dahulu agar kita paham dan bisa sampai kita membagi ilmu atau wawasan kita pada yang lain agar bermanfaat.
Begitulah kiranya, singkat cerita bagaimana UKPIM berpengaruh bagiku, hingga sekarang.
“Btw, terima kasih UKPIM telah memberi kesempatan kami alumni untuk membagikan dan mempresentasikan Filsafat Modern kemarin saat kalian Diklat Dasar.
Sukses selalu, UKPIM. Jangan cepat puas dan jangan berhenti belajar. Jadilah generasi muda yang beda, agar tidak terjebak dalam kesamaan yang kau sendiri nanti tak menemukan sebenar-benarnya dirimu. Jadilah dirimu sendiri, jujurlah pada dirimu sendiri.
Oh iya, satu lagi. Jangan berkecil hati perihal kuantitas kalian yang tak sebanyak lainnya. Fokus saja pada kualitas. Jangan risau perihal eksistensi lainnya yang jauh lebih dikenal, tapi fokus saja pada konsistensi kalian. Karena pencapaian selalu lebih mudah tergapai daripada pertahanan, daripada Istiqomah itu sendiri.
Semangat Berkarya!”








