Kebetulan
Apa benar didunia ini diciptakan momen ‘kebetulan’?
Mengalami hal yang tidak pernah diduga sebelumnya, kita sebut sebagai sebuah ‘kebetulan’. Insiden yang hanya secara acak tanpa maksud yang dikehendaki. Saya jadi yakin, pada akhirnya ‘kebetulan’ mengiringi hadirnya kata ketidaksengajaan, tiba-tiba, mendadak, daaan konco-konconya.
Ada banyak ‘kebetulan’ yang pernah saya temui. Misalnya saja, ‘kebetulan’ jalan disebuah department store dan ‘kebetulan’ sedang diskon. Atau hal yang remeh-temeh, ‘kebetulan’ bertemu dengan teman lama di sebuah Mall. ‘kebetulan’ yang cukup berkesan setahun belakangan ini adalah, bertemu dengan teman online yang dikenalkan teman di Jakarta, orang asli Makassar. Beberapa kali chit-chat di FB, sampai akhirnya berniat meet up di Makassar, sayangnya tidak pernah kejadian. Dan meet up pun akhirnya terjadi secara ‘kebetulan’ di TIM, Jakarta.
Ada juga ‘Kebetulan’ lain yang aneh. Sahabat yang sejak lahir dan besar di tanah parahyangan, bertemu pas SMA di Bandung dan sempat saya jadiin sahabat hati selama 4 tahunan (#duile #sebutsajapacarin) ternyata adalah keluarga dekat. Baru tahu setelah doi jalan-jalan ke Makassar.
Itu adalah hal ‘kebetulan’ yang menyenangan buat saya. Tapi, bagaimana dengan ‘kebetulan’ yang misalnya, ‘kebetulan’ menyebrangi jalan lalu ‘kebetulan’ sebuah truk melintas dan ‘kebetulan’ keserempet (innalillah...). Atau misalnya, ‘kebetulan’ pahit yang pernah saya alami dipenghujung 2014 saat ‘kebetulan’ anak geng motor bermain api didepan toko parfum, dan seketika toko parfumnya meledak, api berkobar dan merembet hingga atap rumah saya, lalu dalam waktu kurang dari 20 menit, menghanguskan seisi rumah?
Pertanyaan pamungkas saya, apa iya setiap orang dilahirkan adalah untuk bertemu secara tidak sengaja dimuka bumi ini? Bertemu dengan orang-orang spesial, apakah sebuah ‘kebetulan’? Bertemu dengan kejadian yang membahagiakan ataupun menyedihkan, apakah sebuah ‘kebetulan’?
Ah, jadi banyak nanya akhirnya. Toh, bertanya adalah pertanda bahwa manusia berpikir \m/
‘Kebetulan’ terkadang membawa saya melampaui keterbatasan. Saat tak bisa ini, ‘kebetulan’ ini. Saat butuh itu, ‘kebetulan’ itu. Berbagai spesies ‘kebetulan’ telah saya lalui sejak lahir. Alhamdulillah.
Banyaknya ‘kebetulan’-’kebetulan’ pada akhirnya membuat saya rethink. Sebab, darisebuah kebetulan, lahir kesempatan-kesempatan yang menakjubkan. Menurut saya, Tuhan menyisipkan berbagai macam pilihan pada sebuah kebetulan. Salah satunya, apakah ‘kebetulan’ tersebut ingin dipermanenkan oleh si aktor atau tidak.Kebetulan-kebetulan yang dihadirkan olehNya saya anggap sebagai penanda, bahwa hidup ini untuk bersosialisasi, istilah kerennya silaturahim. Apakah pertemuan yang secara tidak sengaja akan dipermanenkan sebagai sebuah pertemanan, koneksivitas, partnership, entahlah apa lagi sebutan yang lain.
Bapak saya, membuat sebuah kebetulan menjadi permanen. Kebetulan melihat seorang akhwat di komunitas mahasiswa, lalu mempermanenkannya dalam sebuah ikatan pernikahan #tsaah. Jadilah sebuah silaturahim antar dua keluarga.
@ReneCC meyakini ‘kebetulan’ sebagai petunjuk menuju jalan utama kehidupan yang telah dipersiapkan. But it cames with conditions: buka mata, buka pikiran, dan buka hati, ceunah.
Everybody has their rights to choose their pathway. Just pick your value, and living it up thousands times.










