Open Policy Merkel: Jerman, Refugee, dan Islam
Opini Muthmainnah, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan mahasiswa pascasarjana studi Globalization and Labour Policies Universitat Kassel Jerman.
“wir schaffen das!” (we can manage it), Angela Merkel, 2016.
Izinkanlah dalam tulisan ini, saya menceritakan pendapat sekaligus pengalaman saya sebagai mahasiswa yang baru beberapa bulan mendiami negeri Hitler dalam melihat isu refugee dan migrant khususnya dalam kebijakan open policy yang diinisiasi oleh kanselir Angela Merkel.
Sebelum saya pergi ke Jerman, saya lebih banyak mengetahui dari berita bahwa Jerman merupakan negara yang terbaik dalam menerima sekaligus membiayai kebutuhan refugee/migrants/asylum. Meskipun terdapat perbedaan definisi, tetapi term tersebut kerapkali disandingkan dalam satu bahasan tentang melihat bagaimana datangnya orang-orang dari berbagai negara ke Uni Eropa, sebagian dari mereka datang secara ‘legal’ untuk mencari kehidupan yang lebih layak dengan kompetensi yang dapat ‘dijual’.
Di sisi lain, sebagian besar dari mereka justru datang karena tidak punya pilihan yang umumnya merupakan warga sipil yang merupakan korban dari konflik yang terus berlangsung di Negara asal mereka. Kedatangan mereka ke Jerman pun tidak bisa dikatakan selalu mulus-mulus saja seperti apa yang saya pahami sebelumnya.
bandingkan dengan negara Eropa lainnya, serta upah minimum yang menggiurkan menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mencari kehidupan yang lebih baik. Dengan salah satu negara yang memiliki kekuatan ekonomi terbaik di Eropa, Jerman menjadi tempat yang selalu diincar oleh para migran.
Open policy Merkel pun selalu menuai perdebatan dari kaum yang ‘pro’ dan yang ‘kontra’ terlebih Jerman akan melangsungkan pemilu pada tahun 2017 ini dan pencalonan kembali Merkel pun sudah dideklarasikan yang membuat isu ‘keamanan’ yang erat kaitannya dengan isu ‘pendatang’ memiliki kunci atau peranan penting.
Di Jerman, terdapat 3 partai yang akan berkancah dalam pemilu tahun 2017, yaitu Christian Democratic Union of German (CDU) yang merupakan partai yang mengusung Angela Merkel, Social Democratic Party of Germany (SDP), dan Alternative for Germany (AFD). Merkel dengan CDU nya merupakan pihak yang konsisten menerima kedatangan pengungsi, sedangkan SDP dianggap sebagai partai yang ‘setengah-setengah’ dalam menyikapi isu ini dan AfD yang paling ekstrem menolak open policy Merkel.
AfD kerapkali disebut sebagai partai sayap kanan atau ultranasionalis yang sedang ‘bangkit’ mendapatkan suara di Jerman dan sering dikaitkan dengan tren kebangkitan sayap kanan di negara-negara Eropa melalui dua peristiwa yaitu ‘Brexit’ dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. AfD berhasil menarik simpati rakyat Jerman dengan memposisikan bahwa kedatangan pendatang ke Uni Eropa sebagai ‘threat’ bagi isu keamanan.
Posisi AfD pun didukung dengan adanya berbagai serangan yang ada di Jerman, mulai dari serangan pada sebuah kereta di Munich pada tahun 2016, serangan di sebuah pasar natal di Berlin di penghujung akhir tahun di 2016, dan yang terakhir serangan di sebuah stasiun di Dusseldorf, tepat sehari yang lalu saat penulis menulis tulisan ini.
Rangkaian peristiwa ini setidaknya telah mampu membangun opini bahwa kedatangan para imigran membuat Jerman tidak aman yang mendesak Merkel memberhentikan kebijakan open policy-nya.
Respon Merkel Terhadap Berbagai Kritik Terkait Open Policy
Posisi Merkel terhadap open policy pun tetap tegas ingin melanjutkan walaupun banyak kecaman dan kritik datang kepadanya. Merkel melihat bahwa kedatangan pengungsi ke Eropa merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dielakkan oleh Uni Eropa. “wir schaffen das! (we can manage it). I didn’t say it would be easy. I said back then, and I’ll say it again, that we can manage our historic task – and this is a historic test in times of globalisation – just as we’ve managed so much already, we can manage it.” (Angela Merkel on The Guardian, 2016).
Merkel berpendapat bahwa penolakan yang dilakukan oleh Jerman terhadap isu kemanusiaan hanya akan memberikan dampak yang jauh lebih buruk bukan justru memberikan keamanan karena semakin tidak ada yang mengambil peran, isu terkait refugee akan jauh menjadi lebih ‘chaotic’. Merkel menambahkan bahwa Jerman harus terbuka membantu siapapun yang sedang butuh pertolongan dengan kelapangan dan keterbukaan.
Apakah benar Motif Jerman an sich isu Kemanusiaan?
Fakta bahwa Jerman merupakan negara yang paling banyak menerima pengungsi tidak dapat dielakkan. Kucuran dana yang diberikan oleh pemerintah Jerman pun sangat besar. Pada tahun 2015, diperkirakan 800 ribu pengungsi akan datang ke Jerman dengan dana 3 miliar euro yang akan diberikan ke negara bagian dan kota-kota untuk mengatasi arus deras imigran dan 3 miliar euro tambahan untuk membayar tunjangan kesejahteraan bagi para pencari suaka. (CNN Indonesia, 2015).
Tetapi, akan menjadi suatu hal yang menarik untuk menelaah lebih lanjut alasan dan motif mengapa Jerman ‘open’ menerima refugee. Setidaknya ada beberapa penjelasan yang bisa saya kemukakan berdasarkan hasil diskusi dan perkuliahan yang saya ikuti selama menjadi mahasiswa disini:
1. Jerman membutuhkan tenaga kerja murah
Bahasan ekonomi khususnya dalam bidang ketenagakerjaan tidak bisa dipisahkan untuk melihat isu ini. Jerman membutuhkan buruh dengan upah murah selayaknya negara maju lainnya. Membayar upah imigran atau pendatang jelas memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusaha dan pemodal jika dibandingkan membayar buruh yang merupakan warga negara mereka.
Saat saya mengikuti sesi training oleh IG Metall di Frankfurt, dijelaskan bahwa tempat produksi terbesar BMW bukan berada di Jerman tetapi di South Carolina. Mengapa demikian? Alasannya sederhana karena upah minimum disana jauh lebih murah daripada di Jerman. Alih-alih harus mendatangkan tenaga kerja dengan upah murah, kedatangan refugee jelas telah menjawab kebutuhan Jerman terhadap mereka.
Dalam artikel yang berjudul “The Mistress and The Maid” yang saya baca untuk bahasan mata kuliah unpaid work, Jerman juga sangat jelas membutuhkan pendatang untuk bekerja di domestic work mereka. Pekerjaan seperti membersihkan, mencuci, menjaga bayi, didominasi oleh para pendatang yang umumnya tidak bisa berbahasa Jerman, tidak memiliki kompetensi, dan mau dibayar dengan upah murah. Sebagian mereka juga tidak memiliki dokumen yang resmi sehingga semakin membuat ‘keleluasaan’ bagi pengusaha untuk mempekerjakan sesuka mereka.
2. Piramida Penduduk Jerman didominasi Oleh Orang Tua
Jerman dalam perkembangannya semakin didominasi oleh orang dengan usia tidak produktif sekitar 30%. Dengan semakin berkurangnya anak muda dengan usia produktif, Jerman jelas membutuhkan para pendatang untuk menopang keberlanjutan negaranya terutama dalam bidang industri.
Di sisi lain, Jerman menanggung untuk membayar semua kebutuhan para orang tua yang salah satunya dialokasikan dari pajak orang yang bekerja. Para pendatang yang bekerja secara tidak langsung dibutuhkan untuk berkontribusi membiayai kebutuhan para orang tua.
3. Citra Baik Uni Eropa
Sebagai salah satu negara yang menjual senjata, Jerman tentu punya andil terhadap konflik-konflik yang terjadi di berbagai negara salah satunya Suriah. Sebagai raksasa EU, Jerman ingin menampilkan citra baik Uni Eropa dengan membuat anggapan bahwa EU masih peduli dengan pengungsi yang paradigma ini cukup sukses dibangun oleh Jerman di dunia internasional.
Terlepas dari subjektivitas seorang Merkel yang merupakan seorang Kristen yang taat, Jerman memang memposisikan negara mereka untuk selalu punya andil dan peduli di berbagai isu selayaknya Jerman juga sangat proaktif dalam isu krisis yang melanda Yunani.
Pemilu 2017, Jerman, dan Islam
Masa depan ribuan pengungsi sangat bergantung dengan terselenggaranya pemilu tahun ini, khususnya bagi mereka yang muslim. Bukan hal yang baru jika isu pendatang selalu dikaitkan dengan Islam walaupun keduanya tidak selalu memiliki keterkaitan. Stigma erat yang ditanam bahwa pendatang adalah sebagian muslim dan berpotensi melakukan teror memang digaungkan di berbagai tempat.
Hal ini yang kerap berusaha diciptakan dan terus dimanfaatkan oleh AfD yang secara drastis mendapatkan kenaikan suara. Berbagai peminta-minta pun banyak yang sengaja menggunakan jilbab untuk meminta-minta demi menarik simpati sehingga menciptakan stigma buruk terhadap Islam.
Hal ini semakin mengkhawatirkan jika AfD menang ribuan pengungsi harus terpaksa kehilangan tempat tinggalnya dan tidak tahu harus kemana ditengah negara-negara di Uni Eropa telah menutup secara nyata negaranya untuk pengungsi.
Untuk menutup tulisan ini, penulis merenungkan suatu pertanyaan: Akankah Brexit dan kemenangan ultranasionalis di Eropa akan terjadi juga di Jerman?
sumber gambar: politico.eu











